Kembali dan Mengabdi: Cerita dari Sekolah Lapang Peternakan Sapi Perah di Jabung

Setelah sekian tahun menempuh studi doktoral di Korea Selatan dan meneliti tentang pengelolaan peternakan sapi perah berbasis teknologi, saya kembali ke tanah air dengan semangat yang sama: membangun peternakan rakyat Indonesia yang lebih maju. Hari Sabtu, 10 Mei 2025, menjadi momen yang sangat berarti bagi saya secara pribadi—karena untuk pertama kalinya sejak kembali, saya bisa terlibat langsung dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Bersama Research Group (RG) Dairy Animals Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya dan berkolaborasi dengan KAN Jabung, kami resmi membuka Sekolah Lapang Peternakan Sapi Perah. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula KAN Jabung dan dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Peternakan UB, Prof. Dr. Ir. Halim, M.P., IPU. Acara juga turut dibuka oleh Kepala Sekolah KAN Jabung serta Ketua RG Dairy Animals, Prof. Dr. Tri Ekosusilowati.

Sekolah lapang ini dirancang untuk memberikan bekal praktis dan aplikatif kepada para peternak mitra. Program akan berlangsung selama 8 kali pertemuan, terdiri atas sesi teori dan praktik langsung di lapangan. Yang membuat saya bangga, seluruh pemateri berasal dari RG Dairy Animals—yang tidak hanya dosen, tetapi juga peneliti aktif yang terjun langsung dalam isu-isu peternakan sapi perah.

Pada sesi pembukaan, saya mendapatkan kesempatan menyampaikan materi tentang tren industri peternakan sapi perah di Indonesia dan luar negeri. Saya berbagi cerita dan pembelajaran dari Korea Selatan—bagaimana negara dengan keterbatasan lahan dan iklim dingin bisa mengembangkan sistem peternakan sapi perah yang sangat efisien dan berbasis data. Saya juga menekankan pentingnya mindset modernisasi dan digitalisasi, bahkan pada skala peternakan kecil dan menengah.

Dekan Fakultas Peternakan UB juga memberikan pesan kuat kepada para peserta: bahwa perubahan dan kemajuan sektor peternakan hanya bisa dicapai jika ada sinergi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemauan untuk belajar. Sekolah lapang ini adalah langkah awal kecil, tetapi dengan dampak yang bisa sangat luas.

Bagi saya pribadi, ini bukan sekadar program kerja. Ini adalah bentuk rasa terima kasih kepada tanah kelahiran saya, dan langkah awal dari sekian banyak kontribusi yang ingin saya berikan kepada peternakan rakyat Indonesia.

Semoga kegiatan ini membawa manfaat nyata, dan semoga semangat berbagi ilmu terus tumbuh di antara kita semua.

Menikah muda,,why not

Tulisan ini adalah sebuah refleksi dari usia pernikahan  buntut dari kegundahan saya dan istri dengan sebuah trend bernama “Marriage is Scary” atau dalam bahasa indonesia yang di artikan “Pernikahan itu menakutkan“. Saya menikah di umur 25 tahun, masih tergolong sangat muda untuk mengambil sebuah keputusan besar untuk berumah tangga. Perjalanan menuju pernikahan saya cukup berliku namun mungkin seru untuk diambil hikmahnya. Cerita menikah ini saya akan bagi menjadi beberapa tahap karena saking panjanganya.

#Semangat menikah 

Selayaknya pria normal pada umumnya keinginan untuk menjalin sebuah hubungan serius dengan lawan jenis adalah sebuah hal yang lumrah. Masa studi S-1 di Universitas Brawijaya menjadi moment rasa-rasa ketertarikan itu tumbuh. Status sebagai anak BidikMisi salah satu menjadi dilema dikarenakan tak memiliki modal seperti kedaraan bermotor dan uang traktir untuk malam mingguan. Selain itu, saya sedikit banyak terpengaruh oleh kajian-kajian islam di masjid raden pateh (pada saat itu masih berlokasi di student center karena masjid raden patah sedang di bangun ulang). Pesan ustadz pengajar selalu terngiang cerminan dirimu saat ini adalah merupakan cerminan pasanganmu dikemudian hari. Seperti halnya firman allah

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An-Nur: 26)

Sekilas cerita pada generasi mahasiswa tahun 2010-2014 gerakan dakwah islam di kampus menjadi sebuah gerakan populer. Setiap sore mahasiswa dan mahasiswa  aktivis kampus bergerumbul mengikuti kajian sore di masjid. Pemandangan tersebut menjadi sebuah pemandangan yang lumrah khusus di Universitas Brawijaya. Mahasiswa aktivis kampus berbaju koko yang dipangil akhi-akhi atau Mahasiswi kerudung syari yang biasanya di panggil ukhti-ukhti mesih banyak berseliweran di lingkungan kampus. 

Para aktivis tersebut mengikuti kajian-kajian islam untuk menambah ilmu atau sekedar melepas penat kegiatan selama di kampus. Kajian yang paling diminati kalo sudah berhubungan dengan hubungan pria dan wanita atau persiapan menjalin rumah tangga. Kami diajak baper bersama dengan kisah-kisah rosullah dengan istri sehingga pada generasi mahasiswa tahun 2010-2014 menikah muda menjadi hal yang cukup lumrah. Teman seangkatan sebelum lulus S-1 sudah memantapkan untuk menikah sehingga waktu foto wisuda sudah menggandeng istri atau pasangan yang sah. Gerakan dakwah islam di kampus menjadi katalisator bagi aktivis muda untuk menghindari pacaran dan lebih memilih jalan pernikahan. Sebagai aktivis kami berlomba-lomba memperbaiki diri untuk menyambut jodoh di versi terbaik kami.

Saya lulus S-1 umur 22 tahun, Pada umur ini saya sudah berfikir ingin mencari jodoh namun masih belum dalam versi terbaik apalagi keadaan ekonomi keluarga yang harus segera dibantu. Saya merupakan lulusan dari beassiwa Bidik misi atau juga disebut beassiwa KIP Kuliah yang merupakan beasiwa bagi mahassiwa dari keluarga tidak mampu. Mendapatkan kehidupan layak dan mandiri menjadi tantangan bagi saya di masa pasca kelulusan. Ustadz tempat mengaji pun memberikan pesan muchlas kamu masih berada tahap “Bersiap melaksanakan Pernikahan”.  Tahap pertama ini kuatkan niat ingin menikah dan tujuan untuk menikah untuk apa dengan cara perdalam ilmu persiapan untuk menikah. 3 dasar kesiapan dalam menikah adalah Ilmu, Mental, dan Ekonomi. 

#Memperbaiki Ekonomi dan memantaskan diri

Masa akhir kuliah sambil menuntaskan skripsi saya bekerja di KPRI Universitas Brawijaya sebagai pekerja paruh waktu. 1 Jam saya di gaji 7000 rupiah setiap harinya bekerja sekitar 3-4 jam luamyan untuk biaya hidup di Kota Malang sambil menunggu kelulusan. Saya bekerja serabutan terkadang sebagai kasir, menata barang dagangan hingga menjadi tukang parkir. Pada suatu sore aku bekerja sebagai tukang parkir aku duduk di gazebo depan KPRI sambil mengawasi motor para pelanggan. Pada arah gazebo seberang kulihat seorang ukhti-ukti cantik berkerundung ungu sedang tilawah alquran. Wajahnya yang kalem dan menenagkan itu memalingkan hati seketika ingin memandang tapi takut ketahuan namun tiba-tiba sebuah hentakan keras dari belakang menyapa

“mas” sambil menepuk bahu dari belakang

sesosok pria dan wanita muda menyapa yang ternyata adalah juniorku di KIM (Kelompok Ilmiah Mahasiswa). 

“Loh kamu,, ngapain kesini”

“aku lagi janjian mas sama temen kedokteran hewan buat tim I-Step di Bogor”

Junirku kebetulan merupakan bimbinganku juga untuk lomba I-Step di Bogor yang mana tahun kemarin aku adalah finalisnya.

“Owh,, oke lanjut aja nanti kalo ada yang dibingungkan kabari aja tapi jangan sekarang aku lagi kerja”

“Oke Mas”

Secara terkejut juga ternyata juniorku tadi menemui perempuan yang aku pandangi. Moment tersebut menjadi moment pertama aku bertemu dengan perempuan berkerundung ungu tersebut.

Sejujurnya juniorku tersebut menjadikan faktor penasaranku bertambah ketika pasca lomba sang ketua tim bercerita pengalamannya satu tim dengan perempuan tersebut. Juniorku bercerita ia naksir dengan perempuan tersebut karena melihat keshalihannya selama 2 mingu Istep di Bogor. Namanya Nur hamni perempuan minang asli sumatra barat. Mendengar asalnya yang jauh sekita aku layaknya di hantam sebuah kenyataan “he sadar kamu siapa,,,kamu meminang gadis yang dekat saja tidak mungkin malah mau meminang gadis di luar jawa”. Kenytaan tersbut membuatku layaknya sebuah lagu Mundur aloon aloon.

KPRI Universitas Brawijaya yang dulu letaknya bersebelahan dengan fakultas Kedokteran Hewan acap kali sering melihat perempuan yang ternyata gemar berkerudung ungu terebut. Pada malam hujan deras ia pernah ku lihat membawa payung mengambil box kotak donat jualan di gazebo. Moment pernah menjadi kasir ketika perempuan tersebut membeli sekotak susu uht dan sari roti untuk berbuka puasa. pada saat itu sebuah doa terucap jika datang waktuku siap dalam versi terbaiku akan aku nikahi perempuan tersebut. 

Pasca kelulusan aku meninggalkan kota malang untuk bekerja.Bekerja terlebih dahulu menjadi opsi untuk saya mengangkat derajat orang tua. Mengangkat perekonomian keluarga menjadi PR pertama pasca kelulusan sekaligus memantaskan diri sebelum meminang dan mengemban tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga nantinya. 

#mencari Jodoh yang Sholeha

Menginjak umur 25 tahun tepat menjelang 3 tahun aku merantau di New Zealand sebagai herd manager Ibu menanyakan prihal jodoh. Menikah di Umur 25 menjadi cita-cita mengikuti jejak rosul menikah dengan cinta pertamanya siti khodijah. Keingin mencari jodoh tersebut seketika mengingatkan aku pada perempuan yang gemar berkerundung ungu itu. Sebuah informasi jika dia adalah anak aktivis dakwah menjadikanku tidak sulit mencari link untuk menghubungi dia meskipun sudah 3 tahun lamanya. aku mengontak semua teman dakwah yang masih di malang untuk mencari informasi murrobinya sekitika aku mendapatkan jalur penghubungnya. 

Pada gaya meminang aktivis dakwah cukup unik kami laki-laki hanya bisa menghubungi pihak perempuan melalui murrobinya sambil menyodorkan sebuah proposal nikah. Proposal kami berisikan visi misi kehidupan dimasa depan, apa yang sudah kami lakukan untuk emantaskan diri sebelum menikah. selanjutnya pihak perempuan jika bersedia akan mengirimkan balik proposal nikah yang kemudian dilanjutkan dengan proses taaruf atau mengenal diri dengan ditemani oleh para murrobi. 

Aku menghubungi murobbinya sambil aku sodorkan proposal nikah berniat baik. Pada awalnya proposalku di tolak sehingga aku menerima dengan lapang. Pada saat itu secara tidak langsung adik kelasku ada yang menghungiku untuk berkonsultasi mengenai kuliah lanjut. 

#Berjuang bersama dalam visi dan misi untuk Mencari Ridho Allah SWT

Hidup tidak hanya hidup namun perlu memiliki visi dan misi kehidupan bersama. Kami memutuskan untuk tidak melaksanakan pesta pernikahan yang mewah cukup sederhana asalkan sah. Uang tabungan bekerja di New Zealand aku gunakan untuk menyewa rumah dan membeli prabotan rumah sekaligus uang darurat. Setelah resignt dari pekerjaan di New Zealand saya berusaha mencari pekerjaan apapun yang penting halal salah satunya menjadi TS di sebauh perusahaan kemitraan ayam pedaging. Bekerja di industri unggas menjadi sesuatu hal yang baru dan cukup sulit buatku. Sistem kerja yang fleksibel namun target yang banyak sering kali membuat harus berangkat pagi jam 8 dan pulang malam jam 8. Aku menghabiskan waktu sebagian besar di jalan karena setiap hari terdapat 14 peternakan yang perlu aku kunjungi. Sistem dan lingkungan tersebut membuatku tidak nyaman sehingga ada pikiran untuk mencari beassiwa untuk lanjut studi S-2. Aku dan istri mencoba mendaftar beassiwa LPDP.

Pengalaman Membuat Visa Pelatihan Bahasa Korea (D-4)

A. Pendaftaran dan Pengambilan Visa

  • Lama Proses Pembuatan Visa : Minimal 6 Hari Kerja, dihitung satu hari setelah hari penyerahan dokumen ( Proses bisa lebih dari 6 hari kerja jika dokumen dianggap belum lengkap dan interview jika dibutuhkan)
  • Selama Proses Pembuatan Visa, Paspor tidak boleh dipinjam

B.Biaya Pembuatan Visa

  • Single Visa (Visa kunjungan dibawah 90 hari) : Rp. 544.000,-
  • Single Visa (Visa kunjungan diatas 90 hari) : Rp. 816.000,-
  • Biaya visa tidak dapat dikembalikan apabila dibatalkan proses pengajuannya atau visa ditolak oleh pihak Kedubes Korea

  •  

    – Visa Pelatihan (D-4) dapat digunakan untuk pelatihan bahasa bahasa Korea

        < Persyaratan Dokumen >

    – Paspor asli dan fotokopi (halaman identitas beserta visa/cap negara-negara yang telah dikunjungi)
    – Formulir aplikasi visa (dengan satu lembar foto yang telah ditempel pada kolom foto)
    – Certificate of Admission (surat keterangan telah diterima di universitas Korea yang dituju)
    – Ijazah terakhir (asli dan fotokopi)

  • – Certificate of Health(TB)
    – Bukti Keuangan terbaru (atas nama pribadi atau orang tua dengan jumlah saldo minimum USD 9,000)
    – Surat pengantar dari universitas (jika akan menjadi mahasiswa transfer pada universitas di Korea)

    ** Jika dokumen yang diajukan masih dianggap kurang lengkap oleh Consul, maka pihak Kedubes Korea dapat meminta tambahan dokumen

Pengalaman Berobat di Kota Gwangju Korea Selatan

Korea Selatan dikenal sebagai salah satu negara dengan sistem pelayanan kesehatan yang maju dan terorganisir. Saya berkesempatan merasakan langsung bagaimana rasanya berobat di sana, tepatnya di Kota Gwangju, sebuah kota besar yang terletak di bagian selatan Semenanjung Korea. Berikut saya bagikan pengalaman dan kesan selama mendapatkan perawatan medis di kota ini. Sebagai mahasiswa dan orang asing di Korea Selatan kita wajib membayar asuransi kesehatan bernama NHIS. Biaya asuransi ini jika untuk mahasiswa sebesar 65.000 won karena menadapatkan subsidi dari pemerintah dan ini bisa mengcover 1 keluarga, sejatinya membayar NHIS normal sebesar 160.000 won. Asuransi kesehatan ini sangat membantu sekali dlama pembiayaan untuk check kesehatan karena jika tidak memiliki asuransi biaya untuk berobat sangatlah mahal. Pada saat berobat kita hanya perlu membawa kartu identitas orang asing untuk pendaftaran. Berikut ini beberapa informasi lokasi berobat di Gwangju yang dekat dengan Chonnam National University.

1. Klinik anak (Mirea Hospital)

2. Klinik kecamatan (Bukgu office)

3. Klinik di sangde

4. Rumah sakit Hyundae 

5. Rumah sakit gigi chonnam national university

Belajar dari Korea dalam Menumbuhkan Minat Baca

Tingkat kemajuan pendidikan suatu negara berbading lurus dengan tingat literasinya. Selama tinggal di Korea Selatan saya sangat iri dengan fasilitas literasi banyak di berikan oleh pemerintah untuk mestimulus minat baca dari warga negaranya. Pajak yang di tarik dari masyarakat di manfaatkan dengan baik. Pojok-pojok literasi wajib ada di berbagai fasilitas umum bersifat gratis dan lengkap.Buku-buku pengetahuan dibuat dengan bahasa Indonesia dan sudah di buat mudah di pahami oleh anak dengan bentuk sebuah komik atau cerita bergambar. Pada kasus ang saya temukan anak saya Nusaibah yang sekolah di TK Korea setiap bulan mendapatkan 2 buku gratis dari sekolah untuk di bawa ke rumah. Nusaibah yang juga gemar membaca dia dengan mudah bisa membaca buku dengan nyaman dengan perpusatakaan yang ada di setiap desa. Kami juga selalu mengajak Nusaibah pergi ke pojok-pojok literasi yang berada di fasilitas publik seperti di ACC (Asia Culture Center) atau beragai tempat wisata. Pada kondisi ini sangat berbeda dengan bapaknya yang dulu juga senang membaca namun buku di perpustakaan SD,SMP dan SMA yang tergolong buku tua. Saya juga masih ingat sering pergi ke toko buku rombeng atau bekas hanya utuk mendapatkan buku Bobo agar saya baca. Buku Bobo yang baru dengan harga 25K sangatlah mahal bagi saya sehingga majalah bobo yang tidak lengkappun menjadi koleksi buku bagi saya.

Fasilitas pojok literasi ini yang menjadi bukti bagaimana Korea selatan dapat menempati urutan pertama untuk kemampuan literasi.

Pojok Literasi di Korea Selatan

Si Anak Bungsu

Film home sweat alone sebuah film yang menggambarkan sisi lain anak bungsu yang tidak banyak orang melihat yaitu gambaran anak bungsu yang harusnya menjadi anak yang paling di manja dan semua permintaan bisa terpenuhi. Aku  terlahir sebagai anak bungsu hadir ketika masa kejayaan orang tua sudah berakhir. Pada kelas 6 SD bapak sudah pensiun dari pekerjaannya sebagai satpam dan kondisi semakin parah ketika menginjak kelas 1 SMP bapak terkena stroke dan meninggal ketika aku lulus SMA. Aku memiliki 3 saudara perempuan dan 1 kakak laki-laki. 3 kakak perempuan berstatus ibu rumah tangga dan 1 kakak laki-laki bekerja sebagai buruh pabrik kontrak. Kondisi mereka yang secara ekonomi juga sulit jika harus membantu karena mencukupi kebutuhan mereka sendiri saja masih pas-pasan. Ekonomi keluarga kami berubah 180 derajat ketika bapak sakit sehingga Ibu berubah menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai buruh tani. Sejak SMP aku hidup sendirian karena semua kakak tinggal di rumahnya masing-masing jauh di kota lain.

Aku adalah saksi hidup dari segala problematika di rumah. Sejak SMP aku sudah membawa bekal makan karena sudah tidak mendapatkan uang saku. Puasa senin dan kamis mulai menjadi hikmah dalam menahan lapar saat jam istirahat. Istirahat pertama pasti lari ke mushola untuk sholat dhuha dan istirahat kedua lari ke perpus untuk membaca koran. Kedua tempat tersebut menjadi pilihan satu satunya agar tidak diajak teman ke kantin. Kondisi tersebut membuatku pada SMP dan SMA tidak memiliki banyak teman. Menginjak jenjang SMA aku beternak bebek untuk membantu perekonomian keluarga dengan setiap pagi aku jual setiap butir telur. Alhamdulikah saat SMA mendapatkan bantuan SPP sekolah dari Beasiswa GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) yang cukup meringakan.

Kuliah dengan bertahan hidup melalui uang beasiswa Bidik Misi yang saat itu hanya Rp 600.000 Sebulan. Tinggal di masjid sebagai takmir untuk mengurangi biaya hidup. Masak dengan teman-teman takmir dengan urunan 1000 rupiah per orang dimakan bersama-sama dalam 1 nampan. Mengikuti banyak kegiatan lomba untuk mencari reward hadiah untuk bertahan hidup di Kota Malang. Bekerja paruh waktu sebagai assitant dosen dan Kasir toko serba ada di KPRI UB dengan sebagian hasil uangnya aku kirim ke orang tua.

Ceritaku ini adalah sebuah kisah anak bungsu dengan segala mimpinya tanpa support system yang mumpuni. Anak bungsu yang menjadi harapan terakhir keluarga. Saat ini aku mungkin masih jauh dari sukses namun aku harap anak bungsu di luar sana yang memili nasib yang sama “JANGAN MENYERAH”. Saat ini bapak dan ibu sudah almarhum dan ingin ku kirim pesan di surga sana “Bapak,,Emak,,anakmu kini alhamdulilah sudah mandiri, dan bahagia”

Peluang Pasca Studi di Korea Selatan

Tulisa ini akan membahas entang potensi dan peluang studi di Korea selatan yang mungkin selama ini orang idak banyak tau.

1. Bisa Mendapatkan Double Funding Beassiwa

Pemberi beassiwa GKS tidak melarang awardeenya untuk mendapatkan tambahan uang saku dari Gaji Laboratorium. Pada dasarnya di Korea selatan mahasiswa yang bekerja di Lab dan tergabung dalam sebuah prject berhak untuk mendapatkan gaji dari project tersebut. Bagi yang mendapatkan professor yang baik bisa mendapatkan cukup banyak ang dari Laboratorium.Pada beberapa kasus ada teman saya yang sepulang studi di Korea Selatan dapat membeli rumah secara cash di perumahan mewah seharga 800an juta. Teman saya juga ada yang mendapatkan kesempatan berangkat haji di Korea selatan tanpa antri dari hasil menabung uang gaji dari laboratorium.

2. Kesempatan Studi Lanjut S-3 atau Post-Doctoral di lab

Hampir semua yang studi di lab besar atau memiliki banyak project funding akan di berikan tawaran oleh professornya untuk lanjut studi S-3 dan lanjut Post-Doctoral di Lab tersebut. alasannya kita sudah beradaptasi dengan sistem kerja mereka dan sudah banyak mengetahui backround studi mereka sehingga lebh mudah dalam melaksanakan project. Selain itu kita juga akan leih mudah mendapatkan kesempatan mendapatkan rekomendasi dari prof ke lab lainnya di luar negeri dari jaringan internaionalnya.

3. Kesempatan mengikut konference di luar negeri dan luar kota

Setiap lab di korea akan memberikan kesempatan kit untuk mempresentasikan hasil penelitian kita di sebuah konference. Setiap konference yang kita ikuti full di cover atau dibiayai dari funding project sehingga kita tidak perlu lagi untuk membayar. Pada konference juga akan dipilih presenter terbaik sehingga bisa menambah uang dan juga mendapatkan perhatian dari peneliti lainnya. Konference ini jua menjadi ajang jalan-jalan dan refrsing diri yang kita banyak bekerja di laboratorium.

4. Kesempatan bekerja di Lab lain di dalam dan luar negeri

Beberapa professor memiliki jaringan research kuat di dalam dan luar negeri sehigga terkadang kita dikirim ke lab teman atau jaringan professor untuk belajar dan melakukan analisis. Teman saya ada yang di kirim ke finladia, amera serikat setiap semesternya untuk belajar ke lab rekannannya.

5. Kesempatan bekerja di luar negeri

Pasca kelulusan di Korea selatan mahasiswa asing di berikan kesempatan untuk mencari pekerjaan dengan apply visa D10 atau visa Pencari Kerja. Ulasan tentang visa pencari kerja ini bisa di chck di tulisan ini Klik disini.

Membuat visa D-10 (Visa Pencari Kerja) di Korea Selatan

Visa D-10 atau “Visa Pencari Kerja” adalah salah satu opsi terbaik bagi mahasiswa asing yang telah lulus dari perguruan tinggi di Korea Selatan dan ingin tinggal lebih lama untuk mencari pekerjaan. Berikut adalah panduan lengkap tentang proses mendapatkan visa D-10 pasca lulus berdasarkan pengalaman pribadi setelah lulus dari Chonnam national University.

1. Apa Itu Visa D-10?

Visa D-10 adalah visa yang diberikan kepada pencari kerja yang ingin tinggal di Korea Selatan sementara waktu untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan atau pengalaman kerja mereka. Visa ini memungkinkan lulusan perguruan tinggi untuk tinggal di Korea selama 6 bulan dengan opsi untuk diperpanjang hingga maksimal 2 tahun. Bagi lulusan baru visa ini menjadi peluang bagus untuk mencari opsi pekerjaan seperti Postdoc atau industri. Penerima beasiswa GKS tidak ada ikatan untuk kembali ke Indonesia atau ke negara asal sehingga kita masih bisa menggunakan visa ini untuk eksplorasi peluang kerja lainnya di korea selaan atau di negara lain. Kita bisa tetap tinggal di Korea secara legal sambil mencari pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi Anda. Selain itu juga memberikan waktu yang cukup bagi Anda untuk mengeksplorasi peluang kerja di berbagai industri,

Mendapatkan pengalaman tinggal di Korea pasca kelulusan, yang bisa memperkaya jaringan profesional kita. Saya mengunakan visa ini untuk bisa jalan-jalan terlebih dahulu untuk menikmati keindahan negeri gingseng. Pada kasus ini saya sarankan untuk menabung selama mendapatkan beassiwa. Banyak juga dengan visa ini kerja partimer tipis-tipis asal hati-hati. Visa ini hanya memperbolehkan ikut traini atau pelatihan dan belum menjadi pekerja.

2. Syarat Mendapatkan Visa D-10

Untuk mendapatkan visa D-10, Anda harus memenuhi beberapa syarat dengan sistem poin. Berikut ini poin untuk visanya Klik disini. 

sebagai berikut poin-poin utamanya:

  • Telah lulus dari universitas di Korea Selatan (minimal S1 atau yang lebih tinggi). Semakin tinggi tingkat studinya maka semakin tinggi jga poin yang bisa didapatkan.
  • Memiliki sertifikat kelulusan atau ijazah dari universitas yang diakui di Korea Selatan.
  • Bukti bahwa Anda sedang dalam proses mencari pekerjaan, seperti pendaftaran pada situs kerja atau korespondensi dengan perusahaan, melampirkan planning dalam 6 bulan melakukan apa saja untuk meningkatkan kompetensi dalam mencari kerja.
  • Paspor yang masih berlaku.
  • Bukti alamat tempat tinggal di Korea (kontrak apartemen atau bukti akomodasi lain).

3. Dokumen yang Dibutuhkan

Beberapa dokumen yang umumnya diperlukan untuk pengajuan visa D-10 meliputi:

  • Formulir aplikasi visa yang sudah diisi (Application Form).
  • Paspor asli dan fotokopi paspor.
  • Foto ukuran paspor (3,5 cm x 4,5 cm).
  • Ijazah atau sertifikat kelulusan dari universitas di Korea Selatan.
  • Planning untuk Mencari Kerja selama 6 bulan
  • Sertifikat topik jika memiliki

4. Prosedur Pengajuan Visa D-10

Berikut langkah-langkah dalam mengajukan visa D-10 di Korea Selatan:

  1. Persiapkan Dokumen
    Kumpulkan semua dokumen yang diperlukan dan pastikan semuanya sudah lengkap.

  2. Kunjungi Kantor Imigrasi
    Anda perlu datang langsung ke Kantor Imigrasi di wilayah tempat Anda tinggal. Namun kita harus melakukan reservasi emlalui web Hi-Korea terleih dahulu.

  3. Isi Formulir Aplikasi
    Formulir aplikasi visa D-10 dapat diunduh dari situs web Korean Immigration Service atau diambil langsung di kantor imigrasi.

  4. Pembayaran Biaya
    Anda perlu membayar biaya pengajuan visa yang berkisar sekitar 100.000 untuk visa dan  30.000 KRW untuk ARC. Jika dikirim ke rumah nambah 3000 KRW.

  5. Tunggu Proses Visa
    Proses pengajuan biasanya memakan waktu sekitar 2 hingga 4 minggu. Pastikan untuk memeriksa status pengajuan secara berkala.

5. Perpanjangan Visa D-10

Jika Anda belum mendapatkan pekerjaan dalam jangka waktu 6 bulan, Anda bisa mengajukan perpanjangan. Namun, Anda harus menunjukkan bukti aktif bahwa Anda terus mencari pekerjaan, seperti korespondensi dengan perusahaan, wawancara, atau lamaran kerja yang telah diajukan.

6. Hal-Hal Penting yang Perlu Diperhatikan

  • Selama memiliki visa D-10, Anda tidak diizinkan bekerja secara penuh. Namun, Anda dapat melakukan kegiatan seperti magang yang tidak dibayar atau part-time yang terkait dengan bidang Anda.
  • Setelah mendapatkan tawaran pekerjaan, Anda harus mengubah visa D-10 menjadi visa kerja yang sesuai, seperti E-7 (Visa Pekerja Asing).
  • Pastikan untuk terus mematuhi aturan visa selama proses pencarian kerja agar tidak melanggar undang-undang imigrasi Korea.

Poin Visa D-10

Tabel skor visa D10

Pengalaman Naik Singapure Airlines dengan Diskon Mahasiswa

Singapure airlines memiliki diskon khusus untuk mahasiswa yang cukup menarik. Sebagai contoh perjalanan dari Seoul-Incheon saya mendapatkan harga 369.000 won dengan bagasi 40kg dan kabin 9 kg. Harga tersebut sangat murah di bandingakan membeli tiket tanpa menggunakan diskon mahasiswa. Diskon mahasiswa ini bisa di dapatkan dengan mendaftar akun kisflyer menggunakan akun emaile kampus. Sistem verivikasinya juga tidak membuthkan waktu lama sekitar 5 jam.

Ketentuan Bagasi

Pada awalnya aku juga bingung sistem bagasi 40 kg ini sehingga aku membuat tulisan ini untuk sumber informasi. Setiap penumpang akan mendapatkan bagasi sebesar 40 kg. Bagasi 40 Kg ini boleh dalam 1 koper atau 2 kper. Pada kasusku aku menggunakan 30 kg koper besar dan  10 kg koper kecil.

Review Perjalanan

Perjalanan menggunakan SQ sangatlah nyaman dengan full entertainement dan makanan enak yang bisa kita request muslim order 24 jam sebelum keberangkatan. Sebaiknya teman-teman check in online sebelum keberangkatan karena akan mempermudah perjalanan. Pesawa SQ ini juga memiliki wifi yang cukup untuk mengabari keluarga saat berada di pesawat. teman-teman juga bisa charger yang lubangnya cukup tersembunyi di bawah dengan kabel usb.

Tips dan Trick Mendaftar Beasiswa GKS

Beasiswa GKS menjadi salah satu beasiswa yang saat ini menjadi primadona dikarenakan meningkatknya juga ketertarikan kaum muda terhadap budaya korea. Mari saya bahas tips dan trick dalam mendapatkan beasiswa dan apa saja yang bisa kita perhatikan sebelum mendaftar.

1. Memperhatikan pendaftar S2 atau S3

Perlu diketahui pendaftar S-2 di beasiswa GKS ini sangatlah banyak karena generasi anak muda terbaru lebih banyak yang tertarik ke korea selatan. Sehingga jika mendaftar S-2 persiapan berkasnya lebih banyak. Berikut ini poin-poinnya.

a. Prestasi dan Publikasi

Pengalaman ke luar negeri, prestasi lomba tingkat international dan publikasi sangat membantu sekali untuk dapat poin di beasiswa korea.

b. Nilai bahasa Asing

Beasiswa korea akan memberikan poin sangat tinggi jika teman-teman bisa sudah lolos Topik level 3. Nilai akan lebih tinggi jika teman-teman juga bisa dapat nilai IELTS level 6.5

c. Pengalaman pernah mengkuti kegiatan di Korea Selatan

Pengalama pernah mengikuti kegiatan ke korea selatan akan memberikan poin besar pula.

d. Pilihan Universitas

Memilih universitas tipe B akan memberikan peluang lebih besar. Saya punya teman yang berprestasi dan pintar namun tetap gagal karena ngotot ingin melanjutkan studi di Universitas type A.

Bagi pendaftar S-3 saingannya tidak terlalu banyak namun perlu diketahui poin terbesar jika kita sudah memiliki homebase di Indonesia. Selama ini pengalaman memberikan informasi kepada teman yang lolos yaitu memiliki homebase sebagai dosen atau BRIN atau memiliki nilai bahasa yang bagus.

2. Mempersiapakn Dokumen Jauh-Jauh Hari

Dokumen pendaftaran beasiswa GKS sangatlah banyak sehingga buatlah timeline untuk persiapan dokumen dan juga pendaftaran. Belajar bahasa itu tidak bisa instant sehingga persiapan dari jauh-jauh hari. Pendaftaran Beasiswa GKS selalu pada bulan februari.