Si Anak Bungsu

Film home sweat alone sebuah film yang menggambarkan sisi lain anak bungsu yang tidak banyak orang melihat yaitu gambaran anak bungsu yang harusnya menjadi anak yang paling di manja dan semua permintaan bisa terpenuhi. Aku  terlahir sebagai anak bungsu hadir ketika masa kejayaan orang tua sudah berakhir. Pada kelas 6 SD bapak sudah pensiun dari pekerjaannya sebagai satpam dan kondisi semakin parah ketika menginjak kelas 1 SMP bapak terkena stroke dan meninggal ketika aku lulus SMA. Aku memiliki 3 saudara perempuan dan 1 kakak laki-laki. 3 kakak perempuan berstatus ibu rumah tangga dan 1 kakak laki-laki bekerja sebagai buruh pabrik kontrak. Kondisi mereka yang secara ekonomi juga sulit jika harus membantu karena mencukupi kebutuhan mereka sendiri saja masih pas-pasan. Ekonomi keluarga kami berubah 180 derajat ketika bapak sakit sehingga Ibu berubah menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai buruh tani. Sejak SMP aku hidup sendirian karena semua kakak tinggal di rumahnya masing-masing jauh di kota lain.

Aku adalah saksi hidup dari segala problematika di rumah. Sejak SMP aku sudah membawa bekal makan karena sudah tidak mendapatkan uang saku. Puasa senin dan kamis mulai menjadi hikmah dalam menahan lapar saat jam istirahat. Istirahat pertama pasti lari ke mushola untuk sholat dhuha dan istirahat kedua lari ke perpus untuk membaca koran. Kedua tempat tersebut menjadi pilihan satu satunya agar tidak diajak teman ke kantin. Kondisi tersebut membuatku pada SMP dan SMA tidak memiliki banyak teman. Menginjak jenjang SMA aku beternak bebek untuk membantu perekonomian keluarga dengan setiap pagi aku jual setiap butir telur. Alhamdulikah saat SMA mendapatkan bantuan SPP sekolah dari Beasiswa GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) yang cukup meringakan.

Kuliah dengan bertahan hidup melalui uang beasiswa Bidik Misi yang saat itu hanya Rp 600.000 Sebulan. Tinggal di masjid sebagai takmir untuk mengurangi biaya hidup. Masak dengan teman-teman takmir dengan urunan 1000 rupiah per orang dimakan bersama-sama dalam 1 nampan. Mengikuti banyak kegiatan lomba untuk mencari reward hadiah untuk bertahan hidup di Kota Malang. Bekerja paruh waktu sebagai assitant dosen dan Kasir toko serba ada di KPRI UB dengan sebagian hasil uangnya aku kirim ke orang tua.

Ceritaku ini adalah sebuah kisah anak bungsu dengan segala mimpinya tanpa support system yang mumpuni. Anak bungsu yang menjadi harapan terakhir keluarga. Saat ini aku mungkin masih jauh dari sukses namun aku harap anak bungsu di luar sana yang memili nasib yang sama “JANGAN MENYERAH”. Saat ini bapak dan ibu sudah almarhum dan ingin ku kirim pesan di surga sana “Bapak,,Emak,,anakmu kini alhamdulilah sudah mandiri, dan bahagia”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *