BIOFORA LAMTARO
Lamtoro
Lamtoro
Rapat Koordinasi Strategi Kemandirian Susu Nasional
Ketika Susu Jadi Bahasan Serius di Malang
Selasa siang kemarin (21/7), saya sempat mendengar kabar tentang sebuah rapat koordinasi yang menurut saya cukup menarik untuk ditulis di sini — bukan rapat biasa, tapi rapat yang membahas sesuatu yang dekat dengan keseharian banyak orang di Malang Raya: susu.
Bertempat di Hotel Grand Mercure Malang, Rapat Koordinasi Strategis Sektor Persusuan ini dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, dan dihadiri oleh Wakil Bupati Malang, Dra. Hj. Lathifah Shohib. Yang bikin saya sedikit kaget, forumnya cukup lengkap — ada perwakilan kementerian, akademisi, sampai pemain besar industri susu nasional seperti Nestle dan Cimory, juga GKSI, BBIB Singosari, Bulog, dan asosiasi pengusaha pakan ternak. Jarang-jarang satu meja bisa mengumpulkan sebanyak itu pemangku kepentingan dari satu sektor.
Kenapa Malang?
Buat yang belum tahu, Kabupaten Malang ini sebenarnya salah satu sentra sapi perah terbesar di Indonesia. Daerah seperti Pujon, Ngantang, dan Jabung sudah lama dikenal sebagai kawasan peternakan sapi perah. Jadi wajar kalau pemerintah pusat melirik daerah ini sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan nasional.
Salah satu poin yang menarik perhatian saya: Kabupaten Malang baru saja menerima bantuan 60 ekor sapi perah, yang dibagi rata — 30 ekor untuk Ngantang dan 30 ekor untuk Pujon. Angkanya memang belum terlalu besar, tapi menurut Wabup, ini dimaksudkan sebagai pemantik semangat buat para peternak lokal supaya terus mengembangkan usahanya.
Bukan Cuma Soal Produksi
Yang saya suka dari diskusi ini, fokusnya tidak melulu soal angka produksi susu. Wabup Malang menekankan bahwa sektor persusuan ini juga soal ekonomi masyarakat — bagaimana koperasi unit desa (KUD) mulai diramaikan oleh industri rumah tangga yang mengolah susu segar jadi produk kemasan siap jual, bahkan sampai dipasarkan ke luar Kabupaten Malang.
Ada juga ajakan yang cukup membumi dari Wabup, mengajak petani dan buruh tani untuk memanfaatkan waktu luang mereka memelihara sapi perah — istilahnya ngingu dalam bahasa lokal. Sederhana, tapi kalau dipikir-pikir, ini strategi yang cukup masuk akal untuk mendorong ekonomi tingkat rumah tangga.
Faktor pendorong lain yang disebut dalam rapat ini adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebutuhan susu nasional otomatis naik seiring program ini berjalan, dan itu artinya pasar buat peternak lokal juga makin terbuka.
Catatan Pribadi
Sebagai warga yang tinggal di Malang, ada rasa bangga tersendiri melihat daerah sendiri disorot sebagai salah satu penyangga ketahanan pangan nasional. Tapi saya juga sadar, niat baik semacam ini pasti akan menghadapi tantangan di lapangan — mulai dari distribusi bantuan yang merata, pendampingan peternak, sampai memastikan hasilnya benar-benar dirasakan sampai level rumah tangga, bukan cuma jadi berita seremonial.
Semoga saja kolaborasi lintas sektor yang dibahas dalam rakor ini — antara pemerintah, peternak, industri, dan akademisi — benar-benar berjalan, dan Malang bisa jadi contoh nyata bagaimana potensi lokal diangkat jadi kekuatan pangan nasional.
Susu dan Perannya dalam Kehidupan Manusia
PENDAHULUAN
Susu merupakan salah satu bahan pangan asal ternak yang memiliki nilai gizi tinggi dan berperan penting dalam kehidupan manusia sejak masa bayi hingga lanjut usia. Secara biologis, susu adalah sekresi normal kelenjar ambing mamalia yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anaknya. Namun dalam konteks manusia, susu telah berkembang menjadi komoditas pangan strategis yang dikonsumsi secara luas dalam berbagai bentuk.
Peran susu tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan nutrisi, tetapi juga mencakup aspek kesehatan, ekonomi, sosial, dan industri. Dalam bidang peternakan, susu merupakan produk utama dari sapi perah, kambing perah, dan hewan laktasi lainnya yang memiliki kontribusi besar terhadap ketahanan pangan.
Selain itu, perkembangan teknologi pangan telah menghasilkan berbagai produk olahan susu seperti yoghurt, keju, dan susu fermentasi yang semakin memperkaya pilihan konsumsi masyarakat.
Konten Pembelajaran
Kesimpulan
Pentingnya peranan susu maka wajib bagi kita insan peternakan dalam memahami dan mengembangkan keilmuan Ternak Perah Tropika untuk kemandirian susu di Indonesia
Ilmu dan Pengolahan Limbah Ternak
A. Deskripsi Mata Kuliah
Mata kuliah Ilmu dan Manajemen Pengolahan Limbah Ternak membahas konsep, prinsip, dan penerapan pengelolaan limbah yang dihasilkan dari berbagai sistem usaha peternakan, meliputi limbah padat, cair, dan gas. Mahasiswa mempelajari karakteristik limbah ternak dari berbagai komoditas (sapi perah, sapi potong, unggas, dan ruminansia kecil), dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat, serta regulasi dan kebijakan pengelolaan lingkungan di sektor peternakan. Pembelajaran difokuskan pada pendekatan ilmiah dan manajerial, mencakup identifikasi sumber dan kuantitas limbah, teknik pengolahan limbah secara fisik, kimia, dan biologis, serta pemanfaatan limbah ternak menjadi produk bernilai tambah seperti pupuk organik, biogas, dan energi terbarukan. Selain itu, mahasiswa dibekali kemampuan menyusun rencana pengelolaan limbah peternakan yang berkelanjutan, efisien, dan ramah lingkungan, sesuai dengan prinsip Good Farming Practices dan pembangunan peternakan berkelanjutan.
B. Topik Perkuliahan
Topik 1. Pengantar Ilmu dan Manajemen Pengolahan Limbah Ternak
Cakupan:
- Definisi limbah peternakan
- Ruang lingkup limbah peternakan
- Karakteristik berbagai jenis limbah peternakan
- Perbedaan limbah dan hasil samping (by-product)
Topik 2. Fisikokimia Limbah Peternakan
Cakupan:
- Sifat Fisik limbah peternakan
- Sifat Kimia limbah peternakan
- Indikator Anorganik
- Konsep penting: (pH, BOD & COD)
Topik 3. Biokimia Limbah Peternakan
Cakupan:
- Degradasi Limbah Peternakan secara Aerob dan Anaerob
- Proses Biokimia Limbah Peternakan Secara Aerob (Fase Mesofilik (Awal), Fase Termofilik (Aktif), Fase Pendinginan (Cooling) dan Fase Pematangan (Maturation))
- Prosen Biokimia limbah secara Anaerob (Hidrolisis, Asidogenesis, Asetogenesis dan Metanogenesis)
Topik 4. Mikrobiologi Limbah Peternakan
Cakupan:
- Mempelajari jenis-jenis mikrorganisme pada limbah peternakan (Bakteri aerob, Bakteri anaerob, Archaea metanogen)
- Mempelajari Peran mikroba dalam pengoalahan limbah peternakan (Dekomposisi bahan organic, Reduksi pathogen, Stabilitas limbah)
Topik 5. Ekologi Limbah Peternakan
Cakupan:
- Memahami proses siklus Nitrogen, siklus carbon dan siklus Phosphor pada limbah Peternakan
Topik 6. Ekologi Industri
Cakupan:
- Memahami pendekatan pengolahan limbah melalui model ekologi industri dalam menciptakan penanganan limbah yang berkelanjutan
Pengantar Mata Kuliah Kesejahteraan Ternak (Animal Walfare)
Materi PPT Topik 1. Pengantar Mata Kuliah Kesejahteraan Ternak (Animal Walfare)
Film Tample Grandin
Tugas pertemuan 1.
- Tonton film Tample Grandin
- Resume Poin2 informasi mengenai Animal walfare di Film Tample Grandin
- Bahan informasi akan kita buat diskusi untuk pertemuan berikutnya
Menjadi Dosen Tamu di Shinshu University, Jepang
Awal tahun 2026 menjadi momen penting bagi Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) dalam memperluas jejaring akademik internasional. Salah satu dosen Fapet UB, Dr. Muchamad Muchlas, S.Pt., M.Pt., Ph.D., mendapatkan kesempatan berharga untuk menjadi guest lecturer di Fakultas Pertanian Shinshu University, Jepang.
Kegiatan ini berlangsung cukup panjang, mulai 23 Desember 2025 hingga 13 Januari 2026. Selama hampir satu bulan di Jepang, Dr. Muchlas tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi benar-benar terlibat aktif dalam kegiatan akademik. Ia mengampu tujuh kali perkuliahan intensif, masing-masing berdurasi dua jam, dengan materi utama bertema Biological Resources yang disampaikan dalam bahasa Inggris.
Perkuliahan ini didampingi langsung oleh Associate Professor Shinshu University, Prof. Uyeno Yutaka, dan diikuti oleh mahasiswa serta sivitas akademika setempat. Diskusi di kelas berlangsung interaktif, mencerminkan pertukaran gagasan antara perspektif tropis Indonesia dan pendekatan riset di Jepang.
Tak berhenti di ruang kelas, Dr. Muchlas juga memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat kolaborasi riset. Bersama Prof. Uyeno Yutaka, ia melakukan diskusi mendalam di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak. Fokus utama diskusi adalah penyelarasan roadmap penelitian antara Fapet UB dan Shinshu University, khususnya dalam pengembangan inovasi di bidang nutrisi ternak dan pemanfaatan sumber daya hayati.
Kegiatan guest lecture ini menjadi bukti nyata komitmen Fapet UB dalam mendorong internasionalisasi pendidikan tinggi. Selain meningkatkan pengalaman dan reputasi dosen di level global, kerja sama ini diharapkan membuka jalan bagi riset bersama, publikasi internasional, serta program pertukaran mahasiswa dan dosen di masa depan.
Langkah kecil dari ruang kelas di Jepang ini diharapkan membawa dampak besar bagi penguatan Tridarma Perguruan Tinggi Universitas Brawijaya di kancah internasional
Beassiwa Fapet UB dengan Charoen Pokphand (CP)
Kuliah di jurusan Peternakan, khususnya di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, membuka banyak peluang untuk memperoleh beasiswa, terutama karena kedekatan kampus dengan dunia industri. Pada tahun 2026, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya bekerja sama dengan PT Charoen Pokphand Indonesia (CP) membuka peluang beasiswa pendidikan bagi mahasiswa.
Sebagai salah satu kampus unggulan di wilayah Indonesia bagian timur, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya memiliki peran strategis dalam mencetak dan menyuplai sumber daya manusia yang berkualitas. Kontribusinya sangat signifikan, khususnya dalam mendukung kebutuhan tenaga profesional di industri peternakan unggas, termasuk di lingkungan PT Charoen Pokphand Indonesia.
Menariknya, program beasiswa ini dikoordinasikan oleh Achmad Widjayanto, S.Pt., teman seangkatan saya tahun 2010, yang saat ini dipercaya sebagai Kepala Unit Jawa Timur dan bertindak sebagai Penanggung Jawab (PJ) beasiswa. Dalam program ini, saya turut membantu sebagai perwakilan dari Universitas Brawijaya untuk memastikan proses berjalan optimal dan tepat sasaran.
Sistem industri ternak perah indonesia
A. Pendahuluan
Industri ternak perah merupakan salah satu subsektor penting dalam pembangunan peternakan nasional karena berperan langsung dalam penyediaan susu sebagai sumber protein hewani yang bernilai gizi tinggi. Seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk, perubahan pola konsumsi, dan kesadaran masyarakat terhadap pangan bergizi, kebutuhan susu di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahun. Namun demikian, produktivitas sapi perah domestik dan kapasitas industri hulu–hilir masih menghadapi banyak tantangan, mulai dari keterbatasan bibit unggul, manajemen pemeliharaan yang belum optimal, hingga efisiensi rantai pasok susu segar yang masih rendah.
Sistem industri ternak perah mencakup seluruh aktivitas terpadu dari hulu hingga hilir, yaitu penyediaan sarana produksi (pakan, bibit, obat), proses budidaya dan pengelolaan ternak, kegiatan pascapanen seperti pemerahan dan penanganan susu, hingga pemasaran dan distribusi produk olahan susu. Keterpaduan sistem ini sangat menentukan keberlanjutan usaha ternak perah sekaligus meningkatkan daya saing produk susu nasional. Selain itu, keberhasilan pengembangan industri ternak perah juga membutuhkan dukungan teknologi, kelembagaan peternak, pola kemitraan, dan kebijakan pemerintah yang berpihak pada peningkatan produktivitas serta efisiensi usaha.
Dengan demikian, pemahaman mengenai sistem industri ternak perah menjadi penting agar seluruh pemangku kepentingan—baik peternak, pelaku industri, akademisi, maupun pembuat kebijakan—dapat berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi dan kualitas susu lokal.
PPT
Manajemen Pemerahan dan Mesin Perah
A. PENDAHULUAN
Manajemen pemerahan sering juga di sebut sebagai milk harvesting management yang merupakan tahapan akhir namun sangat krusial dalam keseluruhan rangkaian manajemen peternakan sapi perah. Proses ini tidak hanya berfungsi untuk memperoleh susu sebagai produk utama, tetapi juga mencerminkan kualitas penerapan manajemen kesehatan ambing, kesejahteraan ternak, dan efisiensi kerja di dalam peternakan. Pemerahan yang dilakukan dengan teknik yang tepat, peralatan yang higienis, serta prosedur yang konsisten akan mempengaruhi kuantitas dan kualitas susu yang dihasilkan. Selain itu, manajemen pemerahan yang baik dapat menurunkan risiko mastitis, menjaga produktivitas sapi, serta meningkatkan keuntungan usaha. Dengan demikian, pemahaman mengenai prinsip dan tahapan pemerahan yang benar menjadi aspek fundamental dalam pengelolaan sapi perah modern.
B. KONTEN MATERI
Manajemen pemerahan merupakan rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memastikan proses pengambilan susu berlangsung higienis, efisien, dan aman bagi ternak maupun produk yang dihasilkan.
1. Mamanajemen Pre-Pemerahan
Persiapan lingkungan pemerahan, kebersihan peralatan, serta penanganan sapi. Kebersihan kandang perah, pencucian milking unit, serta pemeriksaan kesehatan ambing sangat penting untuk meminimalkan kontaminasi dan mencegah terjadinya mastitis. Pada tahap ini dilakukan pula pre-milking seperti pencucian ambing, forestripping, dan aplikasi pre-dipping dengan disinfektan untuk menurunkan jumlah bakteri pada puting.
2. Tahapan saat Pemerahan
okus utama adalah memastikan proses berjalan lancar tanpa menyebabkan cedera atau stres pada sapi. Operator harus memasang milking cluster dengan benar, memantau aliran susu, serta memastikan mesin bekerja pada vakum dan pulsasi yang sesuai standar. Pemerahan harus dilakukan secara konsisten, tenang, dan tanpa gangguan, karena kondisi lingkungan yang nyaman dapat meningkatkan let-down reflex dan menghasilkan aliran susu yang optimal. Pemerahan juga harus berhenti tepat waktu untuk menghindari overmilking yang dapat merusak puting dan menyebabkan infeksi.
3. Pasca Pemerahan
Setelah pemerahan selesai, dilakukan tindakan pascapemerahan atau post-milking yang bertujuan menjaga kesehatan puting dan kualitas susu. Puting sapi dicelupkan dengan larutan post-dip sebagai perlindungan terhadap bakteri lingkungan. Sapi kemudian dibiarkan berdiri beberapa menit untuk mencegah kotoran masuk ke saluran puting yang masih terbuka. Di sisi lain, peralatan pemerahan harus segera dicuci dan disanitasi menggunakan prosedur Clean In Place (CIP) untuk mencegah residu susu dan kontaminasi bakteri. Manajemen pascapemerahan yang baik akan mempertahankan higienitas peralatan, mengurangi risiko mastitis, serta memastikan kualitas susu tetap tinggi.
C. Macam-Macam Sistem Pemerahan
1. Sistem Pemerahan Manual (Hand Milking)
Sistem ini dilakukan dengan memerah ambing sapi menggunakan tangan tanpa alat bantu.
Kelebihan:
Biaya awal rendah
Tidak memerlukan listrik
Cocok untuk peternakan kecil
Kekurangan:
Tidak efisien untuk jumlah sapi banyak
Berisiko kontaminasi lebih tinggi
Tidak seragam tekanannya sehingga meningkatkan risiko mastitis
2. Sistem Pemerahan Dengan Mesin Portabel (Portable Milking Unit / Bucket Milking)
Menggunakan mesin pemerah yang terhubung pada bucket (ember stainless) yang menampung susu.
Kelebihan:
Lebih higienis daripada manual
Mobilitas tinggi, dapat dipindah dari satu sapi ke sapi lain
Cocok untuk skala kecil–menengah
Kekurangan:
Masih memerlukan banyak tenaga kerja
Proses pembersihan alat harus sangat teliti
3. Sistem Pipeline Milking (Pemerahan dengan Pipa Susu)
Aliran susu dari mesin pemerah langsung mengalir ke pipa (pipeline) menuju ruang pendingin susu (milk room).
Kelebihan:
Lebih cepat dan higienis
Efisiensi tenaga kerja lebih baik
Susu tidak banyak terekspos lingkungan
Kekurangan:
Investasi awal lebih besar
Membutuhkan desain kandang terstandar
a. Herringbone Parlour
Sapi berdiri miring 30–45° terhadap pit operator.
Kelebihan:
Mudah dipasang dan populer
Sapi mudah masuk dan keluar
Kekurangan:
Akses ke ambing tidak sepenuhnya frontal
b) Parallel Parlour (Side-by-Side)
Sapi berdiri tegak lurus, operator memerah dari belakang.
Kelebihan:
Loading cepat
Ruang lebih efisien
Akses ambing konsisten dari belakang
Kekurangan:
Visualisasi puting lebih terbatas dibanding tandem
c. Tandem Parlour (Side Opening)
Sapi berdiri lurus, pintu samping membuka satu per satu.
Kelebihan:
Akses individual ke setiap sapi
Cocok untuk sapi dengan masalah ambing
Kekurangan:
Waktu pemerahan total bisa lebih lama
d. Rotary Parlour (Carousel Parlour)
Sistem pemerahan otomatis dengan platform berputar.
Kelebihan:
Kapasitas sangat tinggi (ratusan sapi/jam)
Alur kerja sangat efisien
Sangat cocok untuk peternakan besar
Kekurangan:
Investasi dan perawatan mahal
Membutuhkan operator terlatih
D. Detergent & Sanitisers
Detergen dan sanitiser digunakan untuk membersihkan kotoran (soil) dari peralatan pemerahan dan membunuh bakteri. Bakteri adalah penyebab turunnya kualitas susu, tetapi kotoranlah yang menjadi sumber makanan bakteri sehingga mereka dapat berkembang biak. Karena itu, membersihkan kotoran adalah prioritas utama.
Jenis-jenis kotoran (soil) pada peralatan pemerahan
Ada tiga jenis kotoran:
1. Mineral
Termasuk residu anorganik dari air atau susu.
Tampak sebagai lapisan kusam, berubah warna, dan sering seperti bubuk di permukaan stainless steel.
Tidak menjadi makanan bakteri, tapi menjadi tempat persembunyian bakteri.
Endapan mineral membuat permukaan menjadi kasar sehingga lebih mudah menangkap endapan protein.
2. Lemak (Fat)
Berasal dari susu → termasuk kotoran organik.
Merupakan media yang sangat baik bagi pertumbuhan bakteri.
Mudah dikenali karena bersifat berminyak/greasy.
3. Protein
Juga berasal dari susu → kotoran organik.
Ditandai dengan warna pelangi kebiruan pada permukaan stainless steel.
Cara Penanganan yang Tepat
Untuk menghilangkan semua jenis kotoran ini, diperlukan dua jenis bahan pembersih:
Acid Sanitiser → untuk menghilangkan endapan mineral
Chlorinated Alkaline → untuk menghilangkan lemak dan protein
Keduanya harus digunakan dalam program pencucian (wash program).