Menjadi Dosen Tamu di Shinshu University, Jepang

Awal tahun 2026 menjadi momen penting bagi Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) dalam memperluas jejaring akademik internasional. Salah satu dosen Fapet UB, Dr. Muchamad Muchlas, S.Pt., M.Pt., Ph.D., mendapatkan kesempatan berharga untuk menjadi guest lecturer di Fakultas Pertanian Shinshu University, Jepang.

Kegiatan ini berlangsung cukup panjang, mulai 23 Desember 2025 hingga 13 Januari 2026. Selama hampir satu bulan di Jepang, Dr. Muchlas tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi benar-benar terlibat aktif dalam kegiatan akademik. Ia mengampu tujuh kali perkuliahan intensif, masing-masing berdurasi dua jam, dengan materi utama bertema Biological Resources yang disampaikan dalam bahasa Inggris.

Perkuliahan ini didampingi langsung oleh Associate Professor Shinshu University, Prof. Uyeno Yutaka, dan diikuti oleh mahasiswa serta sivitas akademika setempat. Diskusi di kelas berlangsung interaktif, mencerminkan pertukaran gagasan antara perspektif tropis Indonesia dan pendekatan riset di Jepang.

Tak berhenti di ruang kelas, Dr. Muchlas juga memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat kolaborasi riset. Bersama Prof. Uyeno Yutaka, ia melakukan diskusi mendalam di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak. Fokus utama diskusi adalah penyelarasan roadmap penelitian antara Fapet UB dan Shinshu University, khususnya dalam pengembangan inovasi di bidang nutrisi ternak dan pemanfaatan sumber daya hayati.

Kegiatan guest lecture ini menjadi bukti nyata komitmen Fapet UB dalam mendorong internasionalisasi pendidikan tinggi. Selain meningkatkan pengalaman dan reputasi dosen di level global, kerja sama ini diharapkan membuka jalan bagi riset bersama, publikasi internasional, serta program pertukaran mahasiswa dan dosen di masa depan.

Langkah kecil dari ruang kelas di Jepang ini diharapkan membawa dampak besar bagi penguatan Tridarma Perguruan Tinggi Universitas Brawijaya di kancah internasional

Beassiwa Fapet UB dengan Charoen Pokphand (CP)

Kuliah di jurusan Peternakan, khususnya di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, membuka banyak peluang untuk memperoleh beasiswa, terutama karena kedekatan kampus dengan dunia industri. Pada tahun 2026, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya bekerja sama dengan PT Charoen Pokphand Indonesia (CP) membuka peluang beasiswa pendidikan bagi mahasiswa.

Sebagai salah satu kampus unggulan di wilayah Indonesia bagian timur, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya memiliki peran strategis dalam mencetak dan menyuplai sumber daya manusia yang berkualitas. Kontribusinya sangat signifikan, khususnya dalam mendukung kebutuhan tenaga profesional di industri peternakan unggas, termasuk di lingkungan PT Charoen Pokphand Indonesia.

Menariknya, program beasiswa ini dikoordinasikan oleh Achmad Widjayanto, S.Pt., teman seangkatan saya tahun 2010, yang saat ini dipercaya sebagai Kepala Unit Jawa Timur dan bertindak sebagai Penanggung Jawab (PJ) beasiswa. Dalam program ini, saya turut membantu sebagai perwakilan dari Universitas Brawijaya untuk memastikan proses berjalan optimal dan tepat sasaran.

Program beasiswa Fapet UB X CPI
Podcast Sosialisasi Beasiswa

Sistem industri ternak perah indonesia

A. Pendahuluan

Industri ternak perah merupakan salah satu subsektor penting dalam pembangunan peternakan nasional karena berperan langsung dalam penyediaan susu sebagai sumber protein hewani yang bernilai gizi tinggi. Seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk, perubahan pola konsumsi, dan kesadaran masyarakat terhadap pangan bergizi, kebutuhan susu di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahun. Namun demikian, produktivitas sapi perah domestik dan kapasitas industri hulu–hilir masih menghadapi banyak tantangan, mulai dari keterbatasan bibit unggul, manajemen pemeliharaan yang belum optimal, hingga efisiensi rantai pasok susu segar yang masih rendah.

Sistem industri ternak perah mencakup seluruh aktivitas terpadu dari hulu hingga hilir, yaitu penyediaan sarana produksi (pakan, bibit, obat), proses budidaya dan pengelolaan ternak, kegiatan pascapanen seperti pemerahan dan penanganan susu, hingga pemasaran dan distribusi produk olahan susu. Keterpaduan sistem ini sangat menentukan keberlanjutan usaha ternak perah sekaligus meningkatkan daya saing produk susu nasional. Selain itu, keberhasilan pengembangan industri ternak perah juga membutuhkan dukungan teknologi, kelembagaan peternak, pola kemitraan, dan kebijakan pemerintah yang berpihak pada peningkatan produktivitas serta efisiensi usaha.

Dengan demikian, pemahaman mengenai sistem industri ternak perah menjadi penting agar seluruh pemangku kepentingan—baik peternak, pelaku industri, akademisi, maupun pembuat kebijakan—dapat berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi dan kualitas susu lokal.

PPT

Manajemen Pemerahan dan Mesin Perah

A. PENDAHULUAN

Manajemen pemerahan (milk harvesting) merupakan tahapan akhir namun sangat krusial dalam keseluruhan rangkaian manajemen peternakan sapi perah. Proses ini tidak hanya berfungsi untuk memperoleh susu sebagai produk utama, tetapi juga mencerminkan kualitas penerapan manajemen kesehatan ambing, kesejahteraan ternak, dan efisiensi kerja di dalam peternakan. Pemerahan yang dilakukan dengan teknik yang tepat, peralatan yang higienis, serta prosedur yang konsisten akan mempengaruhi kuantitas dan kualitas susu yang dihasilkan. Selain itu, manajemen pemerahan yang baik dapat menurunkan risiko mastitis, menjaga produktivitas sapi, serta meningkatkan keuntungan usaha. Dengan demikian, pemahaman mengenai prinsip dan tahapan pemerahan yang benar menjadi aspek fundamental dalam pengelolaan sapi perah modern.

B. MANAJEMEN PEMERAHAN

Manajemen pemerahan merupakan rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memastikan proses pengambilan susu berlangsung higienis, efisien, dan aman bagi ternak maupun produk yang dihasilkan.

  1. Tahap Sebelum Pemerahan

persiapan lingkungan pemerahan, kebersihan peralatan, serta penanganan sapi. Kebersihan kandang perah, pencucian milking unit, serta pemeriksaan kesehatan ambing sangat penting untuk meminimalkan kontaminasi dan mencegah terjadinya mastitis. Pada tahap ini dilakukan pula pre-milking seperti pencucian ambing, forestripping, dan aplikasi pre-dipping dengan disinfektan untuk menurunkan jumlah bakteri pada puting.

2. Tahapan saat Pemerahan

okus utama adalah memastikan proses berjalan lancar tanpa menyebabkan cedera atau stres pada sapi. Operator harus memasang milking cluster dengan benar, memantau aliran susu, serta memastikan mesin bekerja pada vakum dan pulsasi yang sesuai standar. Pemerahan harus dilakukan secara konsisten, tenang, dan tanpa gangguan, karena kondisi lingkungan yang nyaman dapat meningkatkan let-down reflex dan menghasilkan aliran susu yang optimal. Pemerahan juga harus berhenti tepat waktu untuk menghindari overmilking yang dapat merusak puting dan menyebabkan infeksi.

3. Pasca Pemerahan

Setelah pemerahan selesai, dilakukan tindakan pascapemerahan atau post-milking yang bertujuan menjaga kesehatan puting dan kualitas susu. Puting sapi dicelupkan dengan larutan post-dip sebagai perlindungan terhadap bakteri lingkungan. Sapi kemudian dibiarkan berdiri beberapa menit untuk mencegah kotoran masuk ke saluran puting yang masih terbuka. Di sisi lain, peralatan pemerahan harus segera dicuci dan disanitasi menggunakan prosedur Clean In Place (CIP) untuk mencegah residu susu dan kontaminasi bakteri. Manajemen pascapemerahan yang baik akan mempertahankan higienitas peralatan, mengurangi risiko mastitis, serta memastikan kualitas susu tetap tinggi.

 

 

C. Macam-Macam Sistem Pemerahan

1. Sistem Pemerahan Manual (Hand Milking)

Sistem ini dilakukan dengan memerah ambing sapi menggunakan tangan tanpa alat bantu.

Kelebihan:

  • Biaya awal rendah

  • Tidak memerlukan listrik

  • Cocok untuk peternakan kecil

Kekurangan:

  • Tidak efisien untuk jumlah sapi banyak

  • Berisiko kontaminasi lebih tinggi

  • Tidak seragam tekanannya sehingga meningkatkan risiko mastitis

2. Sistem Pemerahan Dengan Mesin Portabel (Portable Milking Unit / Bucket Milking)

Menggunakan mesin pemerah yang terhubung pada bucket (ember stainless) yang menampung susu.

Kelebihan:

  • Lebih higienis daripada manual

  • Mobilitas tinggi, dapat dipindah dari satu sapi ke sapi lain

  • Cocok untuk skala kecil–menengah

Kekurangan:

  • Masih memerlukan banyak tenaga kerja

  • Proses pembersihan alat harus sangat teliti

3. Sistem Pipeline Milking (Pemerahan dengan Pipa Susu)

Aliran susu dari mesin pemerah langsung mengalir ke pipa (pipeline) menuju ruang pendingin susu (milk room).

Kelebihan:

  • Lebih cepat dan higienis

  • Efisiensi tenaga kerja lebih baik

  • Susu tidak banyak terekspos lingkungan

Kekurangan:

  • Investasi awal lebih besar

  • Membutuhkan desain kandang terstandar

a. Herringbone Parlour

Sapi berdiri miring 30–45° terhadap pit operator.

Kelebihan:

  • Mudah dipasang dan populer

  • Sapi mudah masuk dan keluar

Kekurangan:

  • Akses ke ambing tidak sepenuhnya frontal

b) Parallel Parlour (Side-by-Side)

Sapi berdiri tegak lurus, operator memerah dari belakang.

Kelebihan:

  • Loading cepat

  • Ruang lebih efisien

  • Akses ambing konsisten dari belakang

Kekurangan:

  • Visualisasi puting lebih terbatas dibanding tandem

c. Tandem Parlour (Side Opening)

Sapi berdiri lurus, pintu samping membuka satu per satu.

Kelebihan:

  • Akses individual ke setiap sapi

  • Cocok untuk sapi dengan masalah ambing

Kekurangan:

  • Waktu pemerahan total bisa lebih lama

d. Rotary Parlour (Carousel Parlour)

Sistem pemerahan otomatis dengan platform berputar.

Kelebihan:

  • Kapasitas sangat tinggi (ratusan sapi/jam)

  • Alur kerja sangat efisien

  • Sangat cocok untuk peternakan besar

Kekurangan:

  • Investasi dan perawatan mahal

  • Membutuhkan operator terlatih

D. Detergent & Sanitisers

Detergen dan sanitiser digunakan untuk membersihkan kotoran (soil) dari peralatan pemerahan dan membunuh bakteri. Bakteri adalah penyebab turunnya kualitas susu, tetapi kotoranlah yang menjadi sumber makanan bakteri sehingga mereka dapat berkembang biak. Karena itu, membersihkan kotoran adalah prioritas utama.

Jenis-jenis kotoran (soil) pada peralatan pemerahan

Ada tiga jenis kotoran:

1. Mineral

  • Termasuk residu anorganik dari air atau susu.

  • Tampak sebagai lapisan kusam, berubah warna, dan sering seperti bubuk di permukaan stainless steel.

  • Tidak menjadi makanan bakteri, tapi menjadi tempat persembunyian bakteri.

  • Endapan mineral membuat permukaan menjadi kasar sehingga lebih mudah menangkap endapan protein.

2. Lemak (Fat)

  • Berasal dari susu → termasuk kotoran organik.

  • Merupakan media yang sangat baik bagi pertumbuhan bakteri.

  • Mudah dikenali karena bersifat berminyak/greasy.

3. Protein

  • Juga berasal dari susu → kotoran organik.

  • Ditandai dengan warna pelangi kebiruan pada permukaan stainless steel.

Cara Penanganan yang Tepat

Untuk menghilangkan semua jenis kotoran ini, diperlukan dua jenis bahan pembersih:

  1. Acid Sanitiser → untuk menghilangkan endapan mineral

  2. Chlorinated Alkaline → untuk menghilangkan lemak dan protein

Keduanya harus digunakan dalam program pencucian (wash program).


Tata Laksana dan Perkandangan Sapi Perah

A. Pendahuluan

Perkandangan sapi perah merupakan salah satu aspek penting dalam sistem produksi susu. Kandang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal sapi, tetapi juga menjadi lingkungan yang mendukung kesehatan, kenyamanan, dan produktivitas sapi perah. Pengelolaan kandang yang baik dapat meningkatkan produksi susu, menurunkan risiko penyakit, dan menunjang kesejahteraan hewan.

Faktor Dasar Perkandangan Sapi Perah

Kunci utama sistem perkandangan sapi perah adalah Kenyamanan. Kenyamanan dari ternak di lihat dari poin-poin berikut:

1. Suhu Lingkungan

Suhu merupakan faktor lingkungan paling kritis bagi sapi perah, terutama di daerah tropis seperti Indonesia. Suhu yang sesuai dengan kebutuhan fisiologis ternak akan menjaga performa, nafsu makan, produksi susu, dan kesehatan tetap optimal. Suhu yang terlalu panas dapat menyebabkan heat stress, yang berdampak pada penurunan konsumsi pakan, gangguan reproduksi, dan penurunan produksi susu. Sebaliknya, suhu yang terlalu dingin dapat mengganggu metabolisme dan meningkatkan kebutuhan energi ternak. Animals 15 00249 g001

Heat stress - DairyNZ | DairyNZ

Untuk menjaga kenyamanan suhu, beberapa aspek harus diperhatikan:

  • Ventilasi yang baik untuk memastikan pertukaran udara berjalan optimal dan mengurangi gas berbahaya seperti amonia.

  • Sirkulasi udara yang lancar membantu mendinginkan ternak dan menstabilkan kelembapan lingkungan.

  • Tingkat kelembapan yang ideal sangat penting, karena kelembapan tinggi meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan memperparah efek panas.

  • Desain atap yang baik, seperti kemiringan yang cukup, ketinggian yang memadai, dan penggunaan bahan atap yang tidak menyerap panas berlebih.

  • Pemilihan bahan atap yang mampu memantulkan panas atau memberikan insulasi tambahan untuk menjaga suhu tetap stabil.

2. Kebersihan Lingkungan

Kebersihan kandang menjadi faktor penting dalam mencegah infeksi dan penyakit. Lingkungan yang bersih mengurangi risiko mastitis, penyakit kulit, diare, serta menekan pertumbuhan bakteri, parasit, dan lalat.

Penekanan pada kebersihan mencakup:

  • Pengelolaan kotoran yang baik dan rutin.

  • Sistem drainase yang optimal untuk mencegah genangan.

  • Alas kandang atau bedding yang kering, bersih, dan diganti secara berkala.

  • Penyediaan area khusus untuk mandi atau pencucian ambing sebelum pemerahan.

Kebersihan yang terjaga secara konsisten akan meningkatkan kenyamanan ternak dan berkontribusi pada kualitas produksi susu yang lebih baik.

3. Pakan dan Air

Ketersediaan pakan dan air yang mudah diakses merupakan bagian penting dari kenyamanan ternak. Desain kandang harus memudahkan sapi dalam memperoleh pakan berkualitas serta air minum bersih sepanjang waktu.

Beberapa prinsip penting:

  • Tempat pakan (feed bunk) harus mudah diakses dan memiliki ketinggian yang sesuai dengan postur sapi.

  • Air minum harus tersedia ad libitum, bersih, dan terjamin kualitasnya.

  • Sistem distribusi pakan yang efisien, termasuk jalur untuk kendaraan pakan atau penggunaan feed alley.

  • Penempatan tempat minum pada area strategis agar tidak mengganggu pergerakan ternak.

Ketersediaan nutrisi dan air yang baik berdampak langsung pada performa produksi, kesehatan, dan kenyamanan sapi perah.

4. Ternak (Fokus Kesejahteraan Hewan)

Kesejahteraan hewan (animal welfare) merupakan konsep dasar dalam manajemen kandang modern. Pengaturan tata laksana perkandangan harus mempertimbangkan naluri alami ternak dan kondisi fisiologisnya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Kepadatan kandang tidak boleh melebihi kapasitas, agar ternak bebas bergerak dan tidak stres.

  • Perilaku alami ternak, seperti berdiri, berbaring, menjilat, dan berjalan, harus difasilitasi melalui ruang yang cukup.

  • Penanganan ternak harus dilakukan dengan cara yang ramah, menghindari perlakuan kasar.

  • Fasilitas kandang, seperti tempat berbaring (stall) yang nyaman, lantai yang tidak licin, dan area pemerahan yang aman.

Ternak yang dipelihara dengan memperhatikan kesejahteraannya akan menunjukkan performa produksi yang lebih baik dan tingkat stres yang lebih rendah.

5.  Kesehatan ternak dan Biosecurity

Kandang khusus untuk ternak yang memerlukan perlakuan khusus atau sedang sakit. Penyediaan ruangan khusus obat hewan

6. Pencahayaan dan penerangan

Pencahayaan dan penerangan yang baik merupakan faktor lingkungan penting yang mempengaruhi perilaku dan pola makan ternak, khususnya sapi perah. Intensitas cahaya yang cukup membantu merangsang aktivitas harian ternak, termasuk aktivitas makan, karena sapi cenderung lebih aktif dan lebih sering mengonsumsi pakan pada kondisi terang dibandingkan gelap. Cahaya juga berperan dalam mengatur ritme sirkadian melalui pengendalian hormon melatonin, sehingga pola makan ternak menjadi lebih teratur dan stabil. Pemberian pencahayaan dengan durasi panjang atau long-day lighting (sekitar 16 jam terang dan 8 jam gelap) terbukti meningkatkan konsumsi bahan kering (Dry Matter Intake/DMI) yang berdampak pada meningkatnya produksi susu. Sebaliknya, pencahayaan yang buruk atau redup dapat membuat ternak pasif, menurunkan nafsu makan, serta meningkatkan stres lingkungan. Oleh karena itu, pengaturan pencahayaan yang optimal tidak hanya berfungsi untuk visibilitas, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mendukung kesehatan, kenyamanan, dan produktivitas ternak perah.

 

B. Macam-Macam Sistem Perkandangan Sapi Perah

Sistem perkandangan sapi perah dapat dibedakan berdasarkan tingkat kebebasan gerak sapi, intensitas pemeliharaan, serta desain strukturalnya. Berikut beberapa sistem yang umum digunakan:

1. Sistem Tie Stall (Kandang Ikat)

Pada sistem ini, sapi ditempatkan dalam petak individual dan diikat sehingga pergerakannya terbatas. Sistem ini mempermudah kontrol pakan dan pemerahan, tetapi dapat membatasi kenyamanan sapi.

Tiestall Design - The Dairyland Initiative

Kelebihan:

1. Kontrol Pakan menjadi lebih mudah

  • Kontrol pakan lebih mudah.
  • Pemeriksaan kesehatan lebih cepat.
  • Cocok untuk lahan terbatas.

Kekurangan:

  • Kebebasan gerak sapi sangat terbatas.
  • Risiko stres dan cedera lebih tinggi.
  • Tidak cocok untuk sistem peternakan modern yang berbasis animal welfare.

2. Sistem Free Stall (Kandang Lepas Berpetak)

Sapi memiliki kebebasan bergerak di area kandang dan dapat memilih tempat berbaring pada petak (stall) yang disediakan.

Free Stall Cow Barns | AGRIPRO

Kelebihan:

  • Memberikan kenyamanan dan kebebasan gerak sapi.
  • Lebih higienis dan mudah dipelihara.
  • Produksi susu umumnya lebih tinggi.

Kekurangan:

  • Biaya pembangunan relatif tinggi.
  • Membutuhkan manajemen kotoran yang baik.

3. Sistem Loose House (Kandang Koloni)

Sapi dilepas dalam satu ruangan besar tanpa petak tidur individu. Biasanya dilengkapi area makan dan minum terpisah.

Loose housing is important despite costs - Farmers Weekly

Kelebihan:

  • Kebebasan bergerak sangat tinggi.
  • Lebih ekonomis dibanding free stall.

Kekurangan:

  • Persaingan antar sapi dapat terjadi.
  • Kebersihan kandang harus sangat diperhatikan.

4. Sistem Pasture-Based (Berbasis Padang Penggembalaan)

Sapi dipelihara di padang rumput dan hanya masuk kandang saat malam atau musim tertentu.

Grazing: Exploring dairy feed systems for optimal cow nutrition - All About  Feed

Kelebihan:

  • Biaya pakan lebih murah.
  • Kesejahteraan hewan tinggi.

Kekurangan:

  • Membutuhkan lahan luas.
  • Produksi susu bisa kurang stabil pada musim kemarau.

PPT

Biosekuriti dan dasar Kesehatan Ternak Perah

A. PENDAHULUAN

Biosekuriti dan Dasar Kesehatan Ternak perah penting dalam penekanan kerugian dari penyebaran penyakit. Penerapan biosekuriti yang ketat—meliputi pengendalian lalu-lintas manusia dan ternak, sanitasi kandang dan peralatan, manajemen pakan serta air minum, serta program vaksinasi—dapat meminimalkan peluang masuk dan menyebarnya agen penyakit. Selain itu, pemahaman mengenai dasar-dasar kesehatan sapi perah, termasuk deteksi dini gejala klinis, pengelolaan stres lingkungan, dan pemeliharaan kebersihan ambing, memungkinkan peternak melakukan tindakan korektif secara cepat sehingga dampak penyakit dapat ditekan. Kombinasi antara biosekuriti dan manajemen kesehatan yang baik tidak hanya menurunkan angka kejadian penyakit, tetapi juga meningkatkan produktivitas, kesejahteraan ternak, serta efisiensi ekonomi usaha peternakan.

B. BIOSEKURITI

Biosekuriti adalah serangkaian tindakan pencegahan yang dirancang untuk mencegah masuk, muncul, dan menyebarnya agen penyakit (bakteri, virus, parasit, jamur) di lingkungan peternakan. Tujuan utamanya adalah menjaga kesehatan ternak, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi kerugian ekonomi akibat penyakit. Biosekuriti bekerja berdasarkan prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati.

1. Biosekuriti Eksternal (External Biosecurity)

Fokus pada pencegahan penyakit dari luar agar tidak masuk ke peternakan. Meliputi

  • Pengaturan lalu lintas manusia dan kendaraan (visitor logbook, area terbatas, disinfeksi kendaraan).
  • Karantina ternak baru minimal 14 hari.
  • Pengawasan sumber pakan dan air (bebas kontaminasi dan patogen).
  • Pencegahan kontak dengan hewan liar seperti kucing, anjing, unggas, tikus.

2. Biosekuriti Internal (Internal Biosecurity)

Mencegah penyebaran penyakit di dalam peternakan. Meliputi :

  • Pembagian zona bersih – zona kotor.
  • Manajemen peralatan kandang, milking equipment, dan hygiene ruang perah.
  • Pemisahan kelompok ternak berdasarkan umur dan status kesehatan.
  • Prosedur pemerahan yang higienis untuk mencegah mastitis.
  • Manajemen limbah yang tepat (manure management).

PPT

Manajemen Penanganan Limbah Ternak Perah

1. Jenis dan Karakteristik Limbah Ternak Perah

Jenis LimbahAsalKandungan UtamaDampak Lingkungan
FesesPencernaan ternakBahan organik, N, P, KMenyebabkan bau, pencemaran air
UrinEkskresi metabolitNitrogen (urea), amoniaPencemaran udara dan air
Air limbahCucian kandang, peralatan pemerahanBahan organik, mikrobaMenyebabkan eutrofikasi
Gas emisiFermentasi dan dekomposisiCH₄, CO₂, NH₃Gas rumah kaca, bau
Limbah padat lainSisa pakan, jerami, litterSerat kasar, bahan organikPotensi pupuk atau kompos

Manajemen limbah bertujuan untuk:

  1. Mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

  2. Memanfaatkan limbah sebagai sumber energi, pupuk, atau bahan pakan.

  3. Menjamin kesehatan ternak dan pekerja dengan menjaga kebersihan lingkungan kandang.

  4. Mendukung konsep pertanian sirkular (zero waste farming).

Prinsip utama manajemen limbah:

  • Reduce (mengurangi limbah sejak sumbernya).

  • Reuse (menggunakan kembali limbah yang masih berguna).

  • Recycle (mengolah kembali menjadi produk baru bernilai ekonomi).

Aspek Lingkungan dan Regulasi

Penerapan manajemen limbah harus memperhatikan:

  • Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

  • Peraturan Menteri LHK No. P.101/2018 tentang Pengelolaan Limbah Non-B3.

  • Standar BOD ≤ 150 mg/L dan COD ≤ 300 mg/L untuk limbah cair peternakan sebelum dibuang ke lingkungan.

Ilmu dan Manajemen Dasar Pemeliharaan Sapi Laktasi-Kering

A. Manajemen Dasar Sapi Laktasi

1. Pengertian dan Tahapan Laktasi

Masa laktasi pada sapi perah umumnya berlangsung sekitar 305 hari (10 bulan), diikuti masa kering sekitar 60 hari sebelum melahirkan kembali. Secara fisiologis, produksi susu akan meningkat pesat pada 4–6 minggu pertama setelah melahirkan, kemudian perlahan menurun hingga akhir periode laktasi.

Tahapan laktasi dibagi menjadi:

  1. Awal Laktasi (0–100 hari) – terjadi peningkatan produksi susu maksimum, namun sering terjadi defisit energi.

  2. Pertengahan Laktasi (100–200 hari) – produksi susu mulai stabil dan kebutuhan energi mulai seimbang.

  3. Akhir Laktasi (200–305 hari) – produksi susu menurun, dan nutrisi diarahkan untuk pemulihan tubuh serta persiapan kebuntingan berikutnya.

2. Manajemen Pakan Sapi Laktasi

a. Kebutuhan Nutrisi

Sapi laktasi membutuhkan energi, protein, mineral, dan vitamin dalam jumlah yang seimbang. Energi terutama diperoleh dari hijauan berkualitas (rumput gajah, odot, atau leguminosa) dan konsentrat (dedak padi, bungkil kelapa, jagung giling).

Kebutuhan nutrisi dipengaruhi oleh:

  • Produksi susu per hari

  • Bobot badan sapi

  • Tahapan laktasi

Kebutuhan energi dapat dipenuhi dengan pakan Total Mixed Ration (TMR) yang mengandung bahan kering sekitar 18–20% serat kasar dan 16–18% protein kasar.

B. Stratergi Pemberian Pakan

  • Berikan pakan hijauan 60–70% dan konsentrat 30–40% dari total ransum kering.

  • Pemberian pakan dilakukan minimal 2–3 kali per hari untuk menjaga konsumsi optimal.

  • Air minum harus selalu tersedia dan bersih (sapi laktasi bisa meminum hingga 100 liter/hari).

3. Kesehatan dan Reproduksi Sapi Laktasi

Masa laktasi adalah periode kritis karena beban metabolik tinggi. Masalah umum seperti ketosis, milk fever, dan mastitis sering terjadi jika manajemen tidak baik.

Langkah pencegahan:

  • Berikan pakan kaya energi dan mineral (terutama kalsium dan fosfor).

  • Lakukan pemeriksaan kondisi tubuh (Body Condition Score) secara rutin.

  • Terapkan program inseminasi buatan (IB) setelah 60–90 hari pasca melahirkan jika kondisi tubuh normal.

4. Manajemen Lingkungan dan Kandang

Kenyamanan sapi sangat mempengaruhi produksi susu. Suhu ideal sapi perah berkisar antara 18–25°C, sehingga di daerah tropis perlu dilakukan:

  • Ventilasi dan sirkulasi udara yang baik.

  • Penyemprotan air (sprinkler system) atau kipas angin untuk menurunkan suhu tubuh.

  • Kandang yang bersih, kering, dan tidak licin.

Kebersihan alas kandang dan area pemerahan sangat berpengaruh terhadap kesehatan ambing dan kualitas susu.

B. Manajemen Dasar Sapi Kering Kandang (Dry off)

Masa kering kandang (dry period) adalah fase istirahat fisiologis bagi sapi perah yang dimulai setelah pemerahan dihentikan hingga sapi melahirkan kembali. Periode ini umumnya berlangsung selama 45–60 hari. Walaupun pada masa ini sapi tidak menghasilkan susu, fase ini sangat penting untuk regenerasi jaringan ambing, persiapan laktasi berikutnya, dan pemulihan kondisi tubuh setelah masa laktasi sebelumnya. Manajemen sapi kering kandang yang tepat akan menentukan kesehatan ambing, keberhasilan kebuntingan, serta produksi susu optimal pada laktasi berikutnya.

Tujuan Masa Kering Kandang

Tujuan utama dari program dry-off adalah:

  1. Memberikan waktu bagi jaringan ambing untuk memperbaiki diri (regenerasi sel sekretori susu).

  2. Meningkatkan cadangan nutrisi tubuh untuk mendukung kebuntingan dan laktasi berikutnya.

  3. Mencegah infeksi ambing (mastitis) sebelum dan sesudah melahirkan.

  4. Menjaga keseimbangan metabolisme, terutama kalsium, energi, dan protein.

Tahapan Manajemen Sapi Kering Kandang

– Penghentian Pemerahan 

Langkah penghentian pemerahan harus dilakukan secara bertahap, tidak mendadak, agar tidak menimbulkan tekanan pada ambing:

  1. Kurangi frekuensi pemerahan dari 2× menjadi 1× sehari selama 3–4 hari.

  2. Kurangi pemberian pakan konsentrat untuk menurunkan produksi susu.

  3. Setelah produksi susu menurun drastis (<5 liter/hari), pemerahan dapat dihentikan sepenuhnya.

  4. Setelah pemerahan terakhir, lakukan pemberian antibiotik intramammae (dry cow therapy) untuk mencegah infeksi selama masa kering.

Manajamen Pakan

Manajemen pakan pada masa kering kandang terbagi menjadi dua tahap:

1) Early Dry Period (0–30 hari setelah kering)

  • Tujuan: mempertahankan kondisi tubuh (Body Condition Score/BCS) ideal, yaitu 3,0–3,5 (skala 1–5).

  • Pakan: hijauan berkualitas sedang dengan sedikit atau tanpa konsentrat.

  • Hindari pakan tinggi energi seperti jagung giling atau bungkil berlemak karena dapat menyebabkan kelebihan lemak tubuh.

2) Prepartum Period (3 minggu sebelum partus)

  • Tujuan: mempersiapkan sapi menghadapi kelahiran dan laktasi.

  • Berikan pakan tinggi energi dan tinggi protein dengan tambahan mineral seperti Ca, P, Mg, dan vitamin ADE.

  • Suplementasi anionic salts (garam anionik) dapat mencegah milk fever (hipokalsemia) pascamelahirkan.

 

Dasar-Dasar Produksi Ternak

Ringkasan Materi Dasar-Dasar Produksi Ternak

nb. Materi yang ada pada halaman ini hanya bisa di download menggunakan akun emaile Universitas brawijaya (@student.ub.ac.id).

1. Domestifikasi dan Peran Penting Ternak

2. Dasar Produksi Ternak Pedaging Ruminansia Besar

3. Dasar Produksi Ternak Pedaging Ruminansia Kecil

4. Dasar Produksi Ternak Babi dan Kuda

5. Dasar Produksi Ternak Sapi Perah

6. Dasar Produksi Ternak Kambing Perah

7. Dasar Produksi Ternak Perah Alternatif

Research Adventure ke Pulau Bawean

Tanggal 21 Oktober 2025 awal sebuah perjalanan saya ke pulau bawean bersama-sama dengan MIPI (Masyarakat Ilmiah Pemuda Indonesia) untuk mengadakan acara jelajah research adventure. Pagi-pagi sekali, tepat setelah salat Subuh, saya berangkat dari Malang menuju Terminal Arjosari menggunakan gojek. Jam masih menunjukkan pukul 05.00, tapi semangat saya sudah penuh, membayangkan perjalanan panjang menuju Pulau Bawean. Setibanya di Surabaya, saya dijemput oleh Mas Budi, teman perjalanan sekaligus ketua pemandu research adventure kami selama di sana. Dari Surabaya, kami langsung meluncur ke Pelabuhan Gresik untuk naik kapal yang dijadwalkan berangkat jam 09.00 WIB. Tapi, seperti biasa dalam setiap perjalanan, selalu ada cerita seru: kami sempat salah jalan di tol dan kebablasan sampai keluar di Mojokerto! Untungnya masih sempat balik arah, meskipun sempat bikin deg-degan takut terlambat.

Naik kapal menuju Bawean ternyata bukan perjalanan singkat. Sekitar enam jam kami terombang-ambing karena gelombang laut cukup tinggi. Rasanya seperti naik “roller coaster” versi laut, campuran antara seru dan sedikit mual. Tapi semua terbayar begitu pulau itu terlihat dari kejauhan—hijau, tenang, dan indah. Setibanya di Bawean, kami langsung menuju sebuah pondok pesantren. Di sana, saya terkesima melihat para santri membuat batik khas Bawean. Motif-motifnya unik, penuh cerita, dan jelas mencerminkan identitas pulau ini. Malam harinya, kami beristirahat di sebuah cottage milik ketua yayasan Pulau Bawean—suasana sederhana tapi hangat.

Hari pertama

Hari berikutnya, petualangan dimulai lagi. Kami trekking menuju Air Terjun Ngelancar. Suara gemericik air dan suasana alami membuat rasa lelah hilang seketika. Setelah itu, kami berkeliling untuk melihat potensi lain di Bawean: ternak lokal dan tentu saja ikon pulau ini, rusa Bawean yang cantik dan langka. Melihatnya secara langsung di habitatnya adalah pengalaman yang benar-benar luar biasa.

Hari kedua

Waktu pulang ternyata jadi cerita tersendiri. Karena ombak laut yang tinggi, tidak ada kapal yang beroperasi minggu itu. Pilihan terakhir adalah naik pesawat Susi Air dengan kapasitas hanya 12 penumpang. Tiket ke Surabaya sudah habis, jadi kami terpaksa terbang ke Sumenep dulu. Dari Sumenep, perjalanan dilanjutkan dengan bus ekonomi selama 5 jam menuju Surabaya. Baru setelah itu kami kembali lagi ke Malang dengan badan lelah, tapi hati penuh cerita.

Perjalanan ini memang penuh drama—dari kapal yang goyang, pesawat kecil, sampai harus muter lewat Sumenep. Tapi justru di situlah letak serunya: setiap langkah punya cerita. Dan Pulau Bawean? Ia meninggalkan kesan yang sulit dilupakan, sebuah pulau kecil yang menyimpan pesona besar.