Tingkat kemajuan pendidikan suatu negara berbading lurus dengan tingat literasinya. Selama tinggal di Korea Selatan saya sangat iri dengan fasilitas literasi banyak di berikan oleh pemerintah untuk mestimulus minat baca dari warga negaranya. Pajak yang di tarik dari masyarakat di manfaatkan dengan baik. Pojok-pojok literasi wajib ada di berbagai fasilitas umum bersifat gratis dan lengkap.Buku-buku pengetahuan dibuat dengan bahasa Indonesia dan sudah di buat mudah di pahami oleh anak dengan bentuk sebuah komik atau cerita bergambar. Pada kasus ang saya temukan anak saya Nusaibah yang sekolah di TK Korea setiap bulan mendapatkan 2 buku gratis dari sekolah untuk di bawa ke rumah. Nusaibah yang juga gemar membaca dia dengan mudah bisa membaca buku dengan nyaman dengan perpusatakaan yang ada di setiap desa. Kami juga selalu mengajak Nusaibah pergi ke pojok-pojok literasi yang berada di fasilitas publik seperti di ACC (Asia Culture Center) atau beragai tempat wisata. Pada kondisi ini sangat berbeda dengan bapaknya yang dulu juga senang membaca namun buku di perpustakaan SD,SMP dan SMA yang tergolong buku tua. Saya juga masih ingat sering pergi ke toko buku rombeng atau bekas hanya utuk mendapatkan buku Bobo agar saya baca. Buku Bobo yang baru dengan harga 25K sangatlah mahal bagi saya sehingga majalah bobo yang tidak lengkappun menjadi koleksi buku bagi saya.
Fasilitas pojok literasi ini yang menjadi bukti bagaimana Korea selatan dapat menempati urutan pertama untuk kemampuan literasi.