Ilmu dan Manajemen Dasar Pemeliharaan Sapi Laktasi-Kering

A. Manajemen Dasar Sapi Laktasi

1. Pengertian dan Tahapan Laktasi

Masa laktasi pada sapi perah umumnya berlangsung sekitar 305 hari (10 bulan), diikuti masa kering sekitar 60 hari sebelum melahirkan kembali. Secara fisiologis, produksi susu akan meningkat pesat pada 4–6 minggu pertama setelah melahirkan, kemudian perlahan menurun hingga akhir periode laktasi.

Tahapan laktasi dibagi menjadi:

  1. Awal Laktasi (0–100 hari) – terjadi peningkatan produksi susu maksimum, namun sering terjadi defisit energi.

  2. Pertengahan Laktasi (100–200 hari) – produksi susu mulai stabil dan kebutuhan energi mulai seimbang.

  3. Akhir Laktasi (200–305 hari) – produksi susu menurun, dan nutrisi diarahkan untuk pemulihan tubuh serta persiapan kebuntingan berikutnya.

2. Manajemen Pakan Sapi Laktasi

a. Kebutuhan Nutrisi

Sapi laktasi membutuhkan energi, protein, mineral, dan vitamin dalam jumlah yang seimbang. Energi terutama diperoleh dari hijauan berkualitas (rumput gajah, odot, atau leguminosa) dan konsentrat (dedak padi, bungkil kelapa, jagung giling).

Kebutuhan nutrisi dipengaruhi oleh:

  • Produksi susu per hari

  • Bobot badan sapi

  • Tahapan laktasi

Kebutuhan energi dapat dipenuhi dengan pakan Total Mixed Ration (TMR) yang mengandung bahan kering sekitar 18–20% serat kasar dan 16–18% protein kasar.

B. Stratergi Pemberian Pakan

  • Berikan pakan hijauan 60–70% dan konsentrat 30–40% dari total ransum kering.

  • Pemberian pakan dilakukan minimal 2–3 kali per hari untuk menjaga konsumsi optimal.

  • Air minum harus selalu tersedia dan bersih (sapi laktasi bisa meminum hingga 100 liter/hari).

3. Kesehatan dan Reproduksi Sapi Laktasi

Masa laktasi adalah periode kritis karena beban metabolik tinggi. Masalah umum seperti ketosis, milk fever, dan mastitis sering terjadi jika manajemen tidak baik.

Langkah pencegahan:

  • Berikan pakan kaya energi dan mineral (terutama kalsium dan fosfor).

  • Lakukan pemeriksaan kondisi tubuh (Body Condition Score) secara rutin.

  • Terapkan program inseminasi buatan (IB) setelah 60–90 hari pasca melahirkan jika kondisi tubuh normal.

4. Manajemen Lingkungan dan Kandang

Kenyamanan sapi sangat mempengaruhi produksi susu. Suhu ideal sapi perah berkisar antara 18–25°C, sehingga di daerah tropis perlu dilakukan:

  • Ventilasi dan sirkulasi udara yang baik.

  • Penyemprotan air (sprinkler system) atau kipas angin untuk menurunkan suhu tubuh.

  • Kandang yang bersih, kering, dan tidak licin.

Kebersihan alas kandang dan area pemerahan sangat berpengaruh terhadap kesehatan ambing dan kualitas susu.

B. Manajemen Dasar Sapi Kering Kandang (Dry off)

Masa kering kandang (dry period) adalah fase istirahat fisiologis bagi sapi perah yang dimulai setelah pemerahan dihentikan hingga sapi melahirkan kembali. Periode ini umumnya berlangsung selama 45–60 hari. Walaupun pada masa ini sapi tidak menghasilkan susu, fase ini sangat penting untuk regenerasi jaringan ambing, persiapan laktasi berikutnya, dan pemulihan kondisi tubuh setelah masa laktasi sebelumnya. Manajemen sapi kering kandang yang tepat akan menentukan kesehatan ambing, keberhasilan kebuntingan, serta produksi susu optimal pada laktasi berikutnya.

Tujuan Masa Kering Kandang

Tujuan utama dari program dry-off adalah:

  1. Memberikan waktu bagi jaringan ambing untuk memperbaiki diri (regenerasi sel sekretori susu).

  2. Meningkatkan cadangan nutrisi tubuh untuk mendukung kebuntingan dan laktasi berikutnya.

  3. Mencegah infeksi ambing (mastitis) sebelum dan sesudah melahirkan.

  4. Menjaga keseimbangan metabolisme, terutama kalsium, energi, dan protein.

Tahapan Manajemen Sapi Kering Kandang

– Penghentian Pemerahan 

Langkah penghentian pemerahan harus dilakukan secara bertahap, tidak mendadak, agar tidak menimbulkan tekanan pada ambing:

  1. Kurangi frekuensi pemerahan dari 2× menjadi 1× sehari selama 3–4 hari.

  2. Kurangi pemberian pakan konsentrat untuk menurunkan produksi susu.

  3. Setelah produksi susu menurun drastis (<5 liter/hari), pemerahan dapat dihentikan sepenuhnya.

  4. Setelah pemerahan terakhir, lakukan pemberian antibiotik intramammae (dry cow therapy) untuk mencegah infeksi selama masa kering.

Manajamen Pakan

Manajemen pakan pada masa kering kandang terbagi menjadi dua tahap:

1) Early Dry Period (0–30 hari setelah kering)

  • Tujuan: mempertahankan kondisi tubuh (Body Condition Score/BCS) ideal, yaitu 3,0–3,5 (skala 1–5).

  • Pakan: hijauan berkualitas sedang dengan sedikit atau tanpa konsentrat.

  • Hindari pakan tinggi energi seperti jagung giling atau bungkil berlemak karena dapat menyebabkan kelebihan lemak tubuh.

2) Prepartum Period (3 minggu sebelum partus)

  • Tujuan: mempersiapkan sapi menghadapi kelahiran dan laktasi.

  • Berikan pakan tinggi energi dan tinggi protein dengan tambahan mineral seperti Ca, P, Mg, dan vitamin ADE.

  • Suplementasi anionic salts (garam anionik) dapat mencegah milk fever (hipokalsemia) pascamelahirkan.

 

Research Adventure ke Pulau Bawean

Tanggal 21 Oktober 2025 awal sebuah perjalanan saya ke pulau bawean bersama-sama dengan MIPI (Masyarakat Ilmiah Pemuda Indonesia) untuk mengadakan acara jelajah research adventure. Pagi-pagi sekali, tepat setelah salat Subuh, saya berangkat dari Malang menuju Terminal Arjosari menggunakan gojek. Jam masih menunjukkan pukul 05.00, tapi semangat saya sudah penuh, membayangkan perjalanan panjang menuju Pulau Bawean. Setibanya di Surabaya, saya dijemput oleh Mas Budi, teman perjalanan sekaligus ketua pemandu research adventure kami selama di sana. Dari Surabaya, kami langsung meluncur ke Pelabuhan Gresik untuk naik kapal yang dijadwalkan berangkat jam 09.00 WIB. Tapi, seperti biasa dalam setiap perjalanan, selalu ada cerita seru: kami sempat salah jalan di tol dan kebablasan sampai keluar di Mojokerto! Untungnya masih sempat balik arah, meskipun sempat bikin deg-degan takut terlambat.

Naik kapal menuju Bawean ternyata bukan perjalanan singkat. Sekitar enam jam kami terombang-ambing karena gelombang laut cukup tinggi. Rasanya seperti naik “roller coaster” versi laut, campuran antara seru dan sedikit mual. Tapi semua terbayar begitu pulau itu terlihat dari kejauhan—hijau, tenang, dan indah. Setibanya di Bawean, kami langsung menuju sebuah pondok pesantren. Di sana, saya terkesima melihat para santri membuat batik khas Bawean. Motif-motifnya unik, penuh cerita, dan jelas mencerminkan identitas pulau ini. Malam harinya, kami beristirahat di sebuah cottage milik ketua yayasan Pulau Bawean—suasana sederhana tapi hangat.

Hari pertama

Hari berikutnya, petualangan dimulai lagi. Kami trekking menuju Air Terjun Ngelancar. Suara gemericik air dan suasana alami membuat rasa lelah hilang seketika. Setelah itu, kami berkeliling untuk melihat potensi lain di Bawean: ternak lokal dan tentu saja ikon pulau ini, rusa Bawean yang cantik dan langka. Melihatnya secara langsung di habitatnya adalah pengalaman yang benar-benar luar biasa.

Hari kedua

Waktu pulang ternyata jadi cerita tersendiri. Karena ombak laut yang tinggi, tidak ada kapal yang beroperasi minggu itu. Pilihan terakhir adalah naik pesawat Susi Air dengan kapasitas hanya 12 penumpang. Tiket ke Surabaya sudah habis, jadi kami terpaksa terbang ke Sumenep dulu. Dari Sumenep, perjalanan dilanjutkan dengan bus ekonomi selama 5 jam menuju Surabaya. Baru setelah itu kami kembali lagi ke Malang dengan badan lelah, tapi hati penuh cerita.

Perjalanan ini memang penuh drama—dari kapal yang goyang, pesawat kecil, sampai harus muter lewat Sumenep. Tapi justru di situlah letak serunya: setiap langkah punya cerita. Dan Pulau Bawean? Ia meninggalkan kesan yang sulit dilupakan, sebuah pulau kecil yang menyimpan pesona besar. 

Manajemen Pemeliharaan Ternak Perah Neonatal-Dara

Diskripsi Singkat Topik Kuliah

Topik Manajemen Pemeliharaan Ternak Perah Neonatal–Dara membahas prinsip-prinsip dasar dalam pemeliharaan pedet sejak lahir hingga mencapai umur siap kawin sebagai calon induk (dara). Materi mencakup manajemen kolostrum, pemberian pakan dan air minum, program kesehatan dasar, pengendalian penyakit, hingga manajemen pertumbuhan dan reproduksi. Selain itu, topik ini menekankan pentingnya nutrisi, lingkungan, dan seleksi bibit yang tepat untuk menjamin performa optimal serta produktivitas tinggi saat memasuki masa laktasi pertama.

Capaian Pembelajaran

Setelah mempelajari topik ini, mahasiswa diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pentingnya manajemen kolostrum dan pemeliharaan pedet pada fase neonatal untuk mendukung imunitas dan kelangsungan hidup.

  2. Menguraikan tahapan pemeliharaan anak sapi mulai dari pra-sapih, pasca-sapih, hingga fase dara.

  3. Mengidentifikasi kebutuhan nutrisi, kesehatan, dan lingkungan pada setiap tahap pertumbuhan pedet–dara.

  4. Mengevaluasi program kesehatan dan strategi seleksi bibit dalam rangka menghasilkan calon induk yang produktif.

  5. Merancang sistem manajemen pemeliharaan pedet–dara yang efektif dan sesuai dengan kondisi peternakan lokal.

A. Dasar Manajamen Penenganan Pedet saat Lahir

Memastikan Pedet di jilati oleh induk selama 15 menit dan lendir di bersihkan pada bagian mulut dan lubang hidung untuk memastikan pedet bernapas dengan baik. Tali pusar dipotong dengan steril sekitar 5 cm dari perut dan diberi antiseptik seperti larutan iodine 7–10% untuk mencegah infeksi. Selanjutnya Menempatkan pedet ke tempat yang nyaman atau kendang pedet.

1. Pemberian Kolostrum

Kolostrum atau susu pertama dari induk mengandung immunoglobin yang penting dalam meningkatkan kekebalan imunitas pedet. Pedet harus menerima kolostrum dalam waktu 1–2 jam setelah lahir, dan dalam jumlah sekitar 3-4 liter per hari selama 3 hari pertama. Pemberian kolostrum yang tepat waktu penting untuk kekebalan tubuh pedet terhadap penyakit, khususnya diare dan pneumonia.

2. Manajemen Pakan Lanjutan Pedet

Setelah hari keempat, pedet dapat diberikan susu pengganti, dengan jumlah bertahap sesuai umur dan berat badan. Pemberian dilakukan dua kali sehari secara konsisten.  Mulai umur 1 minggu, pedet diperkenalkan dengan pakan pellet kusus pedet. Hijauan mulai dikenalkan pada umur 3–4 minggu, meskipun konsumsi efektif biasanya terjadi setelah sistem rumen mulai berkembang (usia >1 bulan)

3. Kandang dan Lingkungan

Pedet sebaiknya ditempatkan dalam kandang individu hingga usia sapih untuk mencegah penularan penyakit dan memudahkan monitoring. Kandang harus kering, bersih, memiliki ventilasi baik, dan bebas angin langsung. Suhu ideal untuk pedet adalah 15–25°C, dan pencahayaan alami harus cukup.

4. Program Kesehatan

Pedet rentan terhadap penyakit, sehingga program kesehatan preventif sangat penting.

  • Vaksinasi awal (misalnya clostridiosis, pneumonia, IBR) dilakukan sesuai jadwal dokter hewan.
  • Deteksi dini gejala penyakit seperti diare,
  • Pencegahan infeksi kutu, dan cacingan juga menjadi bagian dari manajemen rutin.

5. Penyapihan

Penyapihan dilakukan saat pedet mampu mengonsumsi pakan padat (starter) minimal 1 kg/hari selama 3 hari berturut-turut dan umumnya terjadi pada umur 6–8 minggu. Penyapihan sebaiknya dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan stres. Setelah disapih, pedet dipindahkan ke kandang kelompok dan mulai dipelihara dalam sistem pemeliharaan bakalan dengan penekanan pada pertumbuhan tulang dan otot.

B. Dasar Manajamen Ternak Dara (Heifer)

Menyiapkan ternak dara agar mencapai bobot badan dan kematangan reproduksi yang optimal sebelum kawin pertama (13–15 bulan, 300–350 kg), sehingga kelahiran pertama (primipara) terjadi tepat waktu dengan kesehatan dan produktivitas maksimal.

1. Pakan dan Nutrisi

Kombinasikan hijauan berkualitas (rumput gajah, leguminosa) dengan konsentrat berprotein 16–18% untuk mendukung penambahan bobot badan 0,6–0,8 kg/hari. Nutrisi seimbang mencegah pertumbuhan terlalu cepat yang dapat merusak sendi, atau terlalu lambat yang menunda siap kawin.

2. Kesehatan

Terapkan program vaksinasi

  • Brucellosis,
  • BVD, IBR
  • Pengendalian parasit internal/eksternal secara rutin.

 

PPT 

 

Refference

https://www.beefresearch.ca/topics/calving-calf-management/

 

Biokimia dan Biosintesis Susu

A. Diskripsi Singkat

Topik Biokimia dan Biosintesa Susu membahas mekanisme biokimiawi pembentukan komponen utama susu di kelenjar ambing. Proses biosintesis mencakup pembentukan lemak susu melalui jalur lipogenesis, sintesis protein susu (kasein dan whey protein) di retikulum endoplasma, produksi laktosa di kompleks Golgi, serta mineralisasi kalsium-fosfat sebagai bagian dari fase koloid susu. Selain itu, dipelajari pula mekanisme milk let down, yaitu proses pengeluaran susu yang dipicu oleh kerja hormon oksitosin dan rangsangan eksternal seperti hisapan anak atau stimulasi pemerahan.

B. Capaian Pembelajaran

Setelah mempelajari topik ini, mahasiswa diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan proses biokimia pembentukan lemak, protein, laktosa, dan mineral dalam susu.

  2. Mendeskripsikan jalur biosintesis utama di dalam sel epitel sekretori ambing.

  3. Menguraikan mekanisme milk let down yang dikendalikan oleh hormon oksitosin dan rangsangan eksternal.

  4. Menganalisis faktor-faktor fisiologis dan lingkungan yang memengaruhi efisiensi biosintesis dan sekresi susu.

Fisiologis dan Hormonal Laktasi

A. Deskripsi Singkat

Fisiologis dan Hormonal Laktasi membahas proses pembentukan, sekresi, dan pengeluaran susu yang diatur oleh mekanisme fisiologis tubuh dan regulasi hormonal. Topik ini mencakup peran organ reproduksi, sistem endokrin, serta interaksi berbagai hormon seperti prolaktin, oksitosin, estrogen, dan progesteron dalam mengatur mammogenesis, laktogenesis, galaktopoiesis, hingga let-down reflex. Selain itu, dipelajari pula pengaruh faktor lingkungan, nutrisi, dan manajemen terhadap keseimbangan hormonal serta efisiensi produksi susu pada ternak perah.

B. Capaian Pembelajaran

Setelah mempelajari topik ini, mahasiswa diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan mekanisme fisiologis pembentukan dan pengeluaran susu pada ternak perah.

  2. Mengidentifikasi peran utama hormon-hormon seperti prolaktin, oksitosin, estrogen, dan progesteron dalam proses laktasi.

  3. Menganalisis tahapan laktasi (mammogenesis, laktogenesis, galaktopoiesis, dan let-down reflex) serta faktor internal maupun eksternal yang memengaruhinya.

  4. Mengevaluasi hubungan antara regulasi hormonal dengan manajemen pemeliharaan untuk mendukung efisiensi produksi susu.

Biologi Laktasi

A. Diskripsi Singkat

Biologi Laktasi mempelajari struktur, fungsi, dan perkembangan kelenjar ambing pada ternak perah. Secara anatomi, ambing tersusun atas alveoli sebagai unit fungsional penghasil susu, duktus laktiferus sebagai saluran, cisterna sebagai penampung, dan puting sebagai saluran pengeluaran. Dari sisi histologi, ambing terdiri atas jaringan epitel sekretori yang memproduksi susu, sel mioepitelial yang membantu ejeksi, jaringan ikat sebagai penopang, serta vaskularisasi yang menyediakan nutrien dan hormon. Perkembangan kelenjar ambing atau mammogenesis berlangsung bertahap sejak fase embrio, pubertas, kebuntingan, laktasi, hingga involusi, yang masing-masing dikendalikan oleh pengaruh hormon dan kondisi fisiologis ternak.

B. Capaian Pembelajaran

Setelah mempelajari topik ini, mahasiswa diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan anatomi ambing beserta struktur fungsionalnya dalam produksi susu.

  2. Mendeskripsikan histologi ambing, termasuk peran jaringan epitel sekretori, sel mioepitelial, jaringan ikat, dan vaskularisasi.

  3. Menganalisis tahapan perkembangan kelenjar ambing (mammogenesis) mulai dari embrio, pubertas, kebuntingan, laktasi, hingga involusi.

  4. Mengaitkan pengaruh faktor fisiologis dan hormonal terhadap proses laktasi.

Komponen dan Nilai Gizi Susu

A. Deskripsi Singkat

Topik ini membahas susu sebagai bahan pangan bergizi tinggi yang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi manusia. Materi mencakup komposisi utama susu yaitu air, karbohidrat (terutama laktosa), protein (kasein dan whey protein), lemak, vitamin, dan mineral. Selain itu, dibahas pula nilai gizi masing-masing komponen terhadap kesehatan manusia, peran susu dalam pertumbuhan, perkembangan, serta pencegahan malnutrisi. Topik ini juga menyoroti variasi komposisi susu antarspesies, faktor yang memengaruhi kandungan gizi, serta relevansinya dalam diet sehari-hari.

B. Capaian Pembelajaran

1.  Pengetahuan (Knowledge)

  • Menjelaskan
    komposisi utama susu (air, lemak, protein, laktosa, mineral, dan vitamin)
    serta fungsinya bagi kesehatan manusia.
  • Menganalisis
    peran susu sebagai sumber gizi lengkap dalam memenuhi kebutuhan nutrisi
    harian.
  • Mengidentifikasi
    tren konsumsi susu dan produk olahannya di tingkat nasional maupun global.

2. Keterampilan (Skills)

    • Mengevaluasi kualitas gizi susu melalui pendekatan fisik, kimia, dan biologis.
    • Membandingkan nilai gizi susu dengan sumber pangan hewani lainnya.
    • Menyusun argumentasi ilmiah tentang pentingnya konsumsi susu bagi berbagai kelompok umur berdasarkan bukti ilmiah terkini.

ILMU DAN MANAJEMEN TERNAK PERAH

Ringkasan Materi Kuliah Ilmu dan Manajemen Ternak Perah Sebelum UTS.

Ilmu dan Manajemen Ternak Perah adalah mata kuliah yang mempelajari tentang dasar keilmuan tentang ternak perah dalam menghasilkan susu sebagai dasar kebutuhan nutrisi manusia.

RPS

Materi yang ada pada halaman ini hanya bisa di download menggunakan akun emaile Universitas brawijaya (@student.ub.ac.id).

1. Susu dan Perannya dalam Kehidupan Manusia

  • Pentingnya ternak perah bagi kehidupan manusia
  • Potensi dan Pengembangan Usaha Ternak Perah
  • Peranan Susu Bagi Kehidupan Manusia
  • Materi (Klik disini)

2. Komponen dan Nilai Gizi Susu

  • Komponen susu: air, lemak, protein, laktosa, mineral, vitamin, enzim, sel somatik.
  • Nilai gizi susu: sumber energi, protein hewani berkualitas tinggi, mineral penting (Ca, P), vitamin (A, D, B kompleks).
  • Materi (Klik disini)

3. Kualitas dan Keamanan susu

  • Mampu menyebutkan komponen dari susu Faktor penentu kualitas: komposisi kimia, total plate count (TPC), total solid, kadar lemak.Keamanan: cemaran mikroba, residu antibiotik, kontaminasi kimia, standar kualitas susu (SNI, Codex).
  • Materi (Klik disini)

 4. Biologi Laktasi

  • Anatomi ambing: struktur kelenjar ambing, alveoli, duktus laktiferus, cisterna, puting.
  • Histologi ambing: jaringan epitel sekretori, myoepithelial cells, jaringan ikat, vaskularisasi.
  • Mammogenesis (perkembangan ambing): tahap embrio, pubertas, kebuntingan, laktasi, involusi.
  • Materi (Klik disini)

 5. Fisiologis dan Hormonal Laktasi

  • Peran hormon: prolaktin, oksitosin, estrogen, progesteron, growth hormone, cortisol.
  • Regulasi laktasi: hormonal dan saraf.
  • Hubungan fisiologi tubuh dengan produksi susu.
  • Materi (Klik disini)

 6. Biokimia dan Biosintesa susu

  • Biosintesa susu: pembentukan lemak susu, protein susu (kasein, whey), laktosa, mineralisasi.
  • Milk let down: mekanisme pengeluaran susu dipicu oleh oksitosin & rangsangan eksternal.
  • Materi (Klik disini)

7. Dinamika Laktasi

  • Perubahan produksi susu sepanjang periode laktasi (awal laktasi, puncak laktasi, pertengahan, akhir, dry period).
  • Hubungan dinamika laktasi dengan nutrisi, kesehatan, reproduksi, dan manajemen.
  • Materi (Klik disini)

8. Evaluasi Tengah Semester

Materi yang ada pada halaman ini hanya bisa di download menggunakan akun emaile Universitas brawijaya (@student.ub.ac.id).

9. Manajemen Pemeliharaan Ternak Perah Neonatal-dara

  • Neonatal (0–3 bulan): kolostrum, manajemen pemberian susu, kesehatan anak sapi, pencegahan diare & penyakit pernapasan.

  • Pra-sapih (3–6 bulan): peralihan pakan, manajemen pertumbuhan, vaksinasi dasar.

  • Pasca-sapih hingga dara (6–24 bulan): nutrisi untuk pertumbuhan optimal, pengelolaan reproduksi awal (pubertas), seleksi bibit.

  • Materi (Klik disini)

10. Manajemen Pemeliharaan Ternak Perah Laktasi-Kering

  • Masa Laktasi: kebutuhan nutrisi tinggi, keseimbangan energi, pencegahan mastitis, manajemen pemerahan, monitoring produksi susu.

  • Masa Kering: strategi dry off, pemberian pakan sesuai kondisi fisiologis, perawatan ambing, persiapan partus, pengendalian metabolik (ketosis, milk fever).

  • Materi (Klik disini)

11. Manajemen Pengolahan Limbah Ternak Perah

  • Jenis limbah: padat (feses), cair (urin, air cucian kandang), gas (NH₃, CH₄).

  • Teknologi pengolahan: kompos, biogas, pupuk cair.

  • Aspek lingkungan: pengendalian bau, pencegahan pencemaran, pemanfaatan limbah untuk pertanian berkelanjutan.

  • Materi (Klik disini)

12. Biosekuriti dan Dasar Kesehatan Ternak

  • Biosekuriti eksternal: kontrol lalu lintas hewan, pencegahan introduksi penyakit, sanitasi lingkungan.

  • Biosekuriti internal: desinfeksi kandang, manajemen pekerja, isolasi hewan sakit.

  • Dasar kesehatan: vaksinasi, pengendalian parasit, deteksi dini penyakit metabolik & infeksius, pencatatan kesehatan.

  • Materi (Klik disini)

13. Manajemen Pemerahan dan Alat Perah

  • Teknik pemerahan: manual & mesin, prosedur pra–dan pasca pemerahan.

  • Higienitas pemerahan: sanitasi ambing, kualitas susu (kontaminasi bakteri, sel somatik).

14. Manajemen Perkandangan Ternak Perah

  • Jenis kandang: individu, kelompok, kandang bebas (free stall), tie stall.

  • Desain kandang: ventilasi, pencahayaan, drainase, kenyamanan ternak (cow comfort).

  • Lingkungan kandang: pengendalian suhu–kelembapan, pengaruh terhadap stres panas & produktivitas.

  • Materi (Klik disini)

15. Sistem Industri Ternak Perah Tropika

16. Evaluasi Akhir Semester

Project Base

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

PEKERTI

Pengalaman Mengikuti Pelatihan PEKERTI di Universitas Brawijaya

Sertifikat Pekerti

Sertifikat Pekerti merupakan salah satu dokumen penting yang perlu dimiliki seorang dosen sebelum mulai mengajar secara resmi. Program ini dirancang sebagai bentuk pelatihan dasar bagi dosen baru, agar memiliki bekal pengetahuan pedagogik, keterampilan mengajar, serta wawasan dasar mengenai proses pembelajaran di perguruan tinggi.

Ketika saya kembali mengabdi di Indonesia, saya mendapatkan kesempatan berharga untuk mengikuti pelatihan ini di Universitas Brawijaya (UB). Pada waktu itu, UB memberikan fasilitas bagi setiap fakultas untuk mengirimkan dosen barunya agar bisa mengikuti program Pekerti. Hal ini tentu menjadi langkah strategis, karena kualitas pengajaran di perguruan tinggi sangat dipengaruhi oleh kesiapan para pengajarnya.

Pelatihan Pekerti yang saya ikuti diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi Pembelajaran dan Pengembangan (DIPP) UB. Kegiatan berlangsung di Kantor Layanan Bersama, Lantai 8, mulai tanggal 16–23 Juni 2025. Selama delapan hari tersebut, para peserta mendapatkan berbagai materi seputar strategi pembelajaran, teknik penyusunan RPS (Rencana Pembelajaran Semester), metode evaluasi pembelajaran, hingga etika profesi dosen.

Bagi saya pribadi, mengikuti pelatihan ini tidak hanya menambah pengetahuan teknis, tetapi juga memberikan pengalaman berharga untuk berinteraksi dengan dosen-dosen baru dari berbagai fakultas. Diskusi, simulasi mengajar, dan tugas kelompok yang diberikan membuat suasana pelatihan menjadi dinamis sekaligus menantang.

Dengan adanya Sertifikat Pekerti, seorang dosen dibekali pondasi kuat untuk melaksanakan tugas pengajaran dengan lebih terarah. Saya merasa bersyukur telah mendapatkan kesempatan mengikuti program ini di Universitas Brawijaya, karena pengalaman ini akan menjadi salah satu bekal penting dalam perjalanan saya sebagai pendidik di perguruan tinggi.

Kedaulatan Susu dari Kandang, Bukan dari Pelabuhan

Oleh : Muchamad Muchlas,Ph.D.

Dosen Laboratorium Ternak Perah, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

Ex-Manager Peternakan Sapi perah di New Zealand

Di mana posisi peternakan sapi perah Indonesia dalam peta kedaulatan pangan nasional, khususnya di sektor susu? Pertanyaan ini layak dilayangkan dalam menyambut momentum Hari Susu Sedunia yang diperingati setiap 1 Juni. Di Indonesia, momen ini juga dikenal sebagai Hari Susu Nusantara-sebuah perayaan yang sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya susu sebagai penopang gizi dan kesehatan masyarakat. Di tengah peringatan tersebut, sorotan terhadap industri peternakan sapi perah menjadi semakin relevan, terutama pada masa awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menunjukkan peningkatan perhatian terhadap sektor ini. Salah satu indikatornya adalah dimasukkannya susu sebagai komponen penting dalam program makanan bergizi gratis. Kebijakan ini menargetkan sekitar 82,9 juta penerima, dengan alokasi konsumsi susu harian sebesar 115–200 ml per orang. Implikasinya jelas bahwa kebutuhan susu segar nasional akan melonjak secara signifikan. Namun, data yang tersedia menunjukkan bahwa lonjakan permintaan tersebut belum diimbangi dengan kapasitas produksi domestik.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan memperkirakan kebutuhan susu nasional pada tahun 2025 akan mencapai 4,686 juta ton, sementara produksi dalam negeri baru berada di kisaran 798 ribu ton. Artinya, terdapat defisit sebesar 3,888 juta ton, atau sekitar 83 persen kebutuhan harus dipenuhi melalui impor. Ketimpangan ini bahkan diproyeksikan masih akan terjadi hingga 2035, dengan angka defisit mencapai 4,580 juta ton. Jika digabungkan dengan kebutuhan program susu sekolah, total permintaan susu nasional pada 2035 bisa melonjak hingga lebih dari 8,6 juta ton, dengan potensi defisit menembus angka 8 juta ton per tahun. Untuk mengejar ambisi pemenuhan kebutuhan tersebut, pemerintah mencanangkan impor satu juta ekor sapi perah selama periode 2025–2028, dengan rincian: 200.000 ekor pada 2025, 300.000 ekor pada 2026, 400.000 ekor pada 2027, dan 100.000 ekor pada 2028. Namun, produktivitas susu tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah populasi sapi, melainkan sangat bergantung pada kualitas manajemen peternakan di tingkat akar rumput. Saat ini, lebih dari 80 persen produksi susu nasional berasal dari peternakan rakyat berskala kecil, dengan kepemilikan rata-rata hanya 2 hingga 4 ekor sapi perah per rumah tangga. Alih-alih memperkuat peternak rakyat sebagai pilar utama, kebijakan yang diambil cenderung berorientasi pada solusi instan dan jangka pendek, yakni menambah populasi sapi perah melalui impor. Langkah ini justru menimbulkan pertanyaan mendasar: Apakah pendekatan seperti ini benar-benar akan memperkuat struktur industri susu nasional, atau justru memperlebar ketimpangan antara peternak kecil dan industri besar?

Persoalan di Lapangan

Kedatangan satu juta ekor sapi perah impor pada periode 2025–2028 merupakan investasi besar negara yang tidak bisa dianggap sepele. Strategi peningkatan populasi melalui skema impor sejatinya mengabaikan kenyataan krusial di lapangan. Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang merebak sejak 2022 hingga kini belum sepenuhnya terkendali. Kondisi ini menjadi peringatan serius bahwa sistem pengendalian penyakit ternak nasional masih rapuh. Investasi populasi tanpa dukungan perlindungan biosekuriti yang memadai ibarat menuangkan air ke dalam ember bocor. Akses vaksinasi, khususnya pemberian vaksin booster, belum merata dan masih menjadi kendala besar. Ketersediaan vaksin terbatas, biayanya relatif tinggi, dan distribusinya tidak menjangkau seluruh peternak, terutama mereka yang berada di daerah terpencil. Padahal, kesinambungan vaksinasi sangat penting untuk menjaga kekebalan kolektif ternak dan mencegah potensi kerugian ekonomi yang lebih besar. Pemerintah harus memastikan bahwa setiap sapi yang masuk tidak membawa bibit penyakit baru, sekaligus menjamin kesiapan teknis peternakan rakyat dalam menghadapi risiko penyebaran penyakit. Penguatan sistem biosekuriti nasional-mulai dari fasilitas karantina, pengawasan lalu lintas ternak, pemetaan zona merah, hingga edukasi protokol kebersihan di tingkat peternak-bukan lagi sebuah opsi, melainkan prasyarat mutlak jika Indonesia ingin mencapai kemandirian dalam produksi susu segar.

Selain itu, para peternak juga masih menghadapi persoalan klasik yang belum tertangani secara sistematis, yakni pengelolaan limbah kotoran sapi. Di sejumlah sentra produksi susu seperti di Jawa Timur dan Jawa Barat, limbah yang tidak tertangani dengan baik telah menimbulkan pencemaran lingkungan. Padahal, limbah ternak sebenarnya memiliki potensi ekonomi jika diolah menjadi pupuk organik, biogas, atau bahan baku energi terbarukan. Pemerintah perlu mendorong terbentuknya unit pengolahan limbah berbasis koperasi peternak atau BUMDes, lengkap dengan insentif teknologi dan pendampingan teknis dari perguruan tinggi serta lembaga riset. Dari aspek kualitas produksi, penolakan puluhan ribu liter susu oleh Industri Pengolahan Susu (IPS) pada akhir 2024 menjadi cermin nyata lemahnya dukungan pemerintah dalam menjamin mutu hasil produksi di tingkat peternak. Penolakan tersebut terjadi karena susu dianggap tidak memenuhi standar baku mikrobiologis dan kebersihan. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan revitalisasi program pelatihan higienitas pemerahan secara berkala, penyediaan peralatan sanitasi bersubsidi, serta pembangunan unit pelayanan kualitas susu (milk collection point) di setiap klaster peternakan. Kemitraan antara koperasi, IPS, dan dinas peternakan daerah juga harus diperkuat agar peternak rakyat tidak terus menjadi pihak paling rentan dalam rantai pasok susu nasional. Tanpa intervensi strategis di aspek lingkungan dan kualitas produksi ini, target peningkatan konsumsi susu hanya akan memperlebar kesenjangan struktural dalam industri perah nasional.

Dari Kandang, Bukan dari Pelabuhan

Pembangunan kedaulatan susu nasional tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada angka impor dan rencana populasi ternak besar-besaran. Kedaulatan sejati hanya bisa dicapai apabila negara membangun dari bawah, yakni dari kandang-kandang peternak rakyat yang selama ini menjadi fondasi industri susu nasional. Perlu program pemerintah yang terstruktur, berkelanjutan, dan menyasar langsung akar persoalan peternak. Mulai dari pelatihan manajemen pakan, pemerahan higienis, pengolahan limbah berbasis energi, hingga penyuluhan untuk pengendalian penyakit. Tidak kalah penting, pembenahan tata niaga dan penguatan koperasi peternak agar mereka punya posisi tawar yang lebih baik terhadap industri pengolahan. Sebagai contoh, model koperasi peternak di Selandia Baru atau Belanda yang berbasis transparansi dan keadilan harga bisa menjadi rujukan. Negara juga perlu mendorong riset-riset terapan dari perguruan tinggi agar teknologi tepat guna bisa menjangkau peternak kecil. Pada akhirnya, Hari Susu Nusantara bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk meneguhkan komitmen negara dalam menata ulang arah kebijakan peternakan perah. Jika ingin program makanan bergizi gratis berjalan secara berkelanjutan, maka sistem produksinya pun harus tangguh. Impor sapi perah mungkin bisa meningkatkan angka produksi sementara, tetapi tidak akan memperbaiki ketimpangan struktural yang telah lama berlangsung. Negara harus hadir, bukan hanya dalam bentuk sapi yang datang dari pelabuhan, tetapi dalam dukungan nyata di kandang-kandang rakyat yang menjadi ujung tombak ketahanan susu nasional. Kedaulatan susu tidak dimulai dari pelabuhan. Ia dimulai dari kendang dan dari keberanian negara untuk memihak kepada rakyat yang setiap hari memerah keringat demi segelas susu bagi bangsa ini.