Menikah muda,,why not

Tulisan ini adalah sebuah refleksi dari usia pernikahan  buntut dari kegundahan saya dan istri dengan sebuah trend bernama “Marriage is Scary” atau dalam bahasa indonesia yang di artikan “Pernikahan itu menakutkan“. Saya menikah di umur 25 tahun, masih tergolong sangat muda untuk mengambil sebuah keputusan besar untuk berumah tangga. Perjalanan menuju pernikahan saya cukup berliku namun mungkin seru untuk diambil hikmahnya. Cerita menikah ini saya akan bagi menjadi beberapa tahap karena saking panjanganya.

#Semangat menikah 

Selayaknya pria normal pada umumnya keinginan untuk menjalin sebuah hubungan serius dengan lawan jenis adalah sebuah hal yang lumrah. Masa studi S-1 di Universitas Brawijaya menjadi moment rasa-rasa ketertarikan itu tumbuh. Status sebagai anak BidikMisi salah satu menjadi dilema dikarenakan tak memiliki modal seperti kedaraan bermotor dan uang traktir untuk malam mingguan. Selain itu, saya sedikit banyak terpengaruh oleh kajian-kajian islam di masjid raden pateh (pada saat itu masih berlokasi di student center karena masjid raden patah sedang di bangun ulang). Pesan ustadz pengajar selalu terngiang cerminan dirimu saat ini adalah merupakan cerminan pasanganmu dikemudian hari. Seperti halnya firman allah

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An-Nur: 26)

Sekilas cerita pada generasi mahasiswa tahun 2010-2014 gerakan dakwah islam di kampus menjadi sebuah gerakan populer. Setiap sore mahasiswa dan mahasiswa  aktivis kampus bergerumbul mengikuti kajian sore di masjid. Pemandangan tersebut menjadi sebuah pemandangan yang lumrah khusus di Universitas Brawijaya. Mahasiswa aktivis kampus berbaju koko yang dipangil akhi-akhi atau Mahasiswi kerudung syari yang biasanya di panggil ukhti-ukhti mesih banyak berseliweran di lingkungan kampus. 

Para aktivis tersebut mengikuti kajian-kajian islam untuk menambah ilmu atau sekedar melepas penat kegiatan selama di kampus. Kajian yang paling diminati kalo sudah berhubungan dengan hubungan pria dan wanita atau persiapan menjalin rumah tangga. Kami diajak baper bersama dengan kisah-kisah rosullah dengan istri sehingga pada generasi mahasiswa tahun 2010-2014 menikah muda menjadi hal yang cukup lumrah. Teman seangkatan sebelum lulus S-1 sudah memantapkan untuk menikah sehingga waktu foto wisuda sudah menggandeng istri atau pasangan yang sah. Gerakan dakwah islam di kampus menjadi katalisator bagi aktivis muda untuk menghindari pacaran dan lebih memilih jalan pernikahan. Sebagai aktivis kami berlomba-lomba memperbaiki diri untuk menyambut jodoh di versi terbaik kami.

Saya lulus S-1 umur 22 tahun, Pada umur ini saya sudah berfikir ingin mencari jodoh namun masih belum dalam versi terbaik apalagi keadaan ekonomi keluarga yang harus segera dibantu. Saya merupakan lulusan dari beassiwa Bidik misi atau juga disebut beassiwa KIP Kuliah yang merupakan beasiwa bagi mahassiwa dari keluarga tidak mampu. Mendapatkan kehidupan layak dan mandiri menjadi tantangan bagi saya di masa pasca kelulusan. Ustadz tempat mengaji pun memberikan pesan muchlas kamu masih berada tahap “Bersiap melaksanakan Pernikahan”.  Tahap pertama ini kuatkan niat ingin menikah dan tujuan untuk menikah untuk apa dengan cara perdalam ilmu persiapan untuk menikah. 3 dasar kesiapan dalam menikah adalah Ilmu, Mental, dan Ekonomi. 

#Memperbaiki Ekonomi dan memantaskan diri

Masa akhir kuliah sambil menuntaskan skripsi saya bekerja di KPRI Universitas Brawijaya sebagai pekerja paruh waktu. 1 Jam saya di gaji 7000 rupiah setiap harinya bekerja sekitar 3-4 jam luamyan untuk biaya hidup di Kota Malang sambil menunggu kelulusan. Saya bekerja serabutan terkadang sebagai kasir, menata barang dagangan hingga menjadi tukang parkir. Pada suatu sore aku bekerja sebagai tukang parkir aku duduk di gazebo depan KPRI sambil mengawasi motor para pelanggan. Pada arah gazebo seberang kulihat seorang ukhti-ukti cantik berkerundung ungu sedang tilawah alquran. Wajahnya yang kalem dan menenagkan itu memalingkan hati seketika ingin memandang tapi takut ketahuan namun tiba-tiba sebuah hentakan keras dari belakang menyapa

“mas” sambil menepuk bahu dari belakang

sesosok pria dan wanita muda menyapa yang ternyata adalah juniorku di KIM (Kelompok Ilmiah Mahasiswa). 

“Loh kamu,, ngapain kesini”

“aku lagi janjian mas sama temen kedokteran hewan buat tim I-Step di Bogor”

Junirku kebetulan merupakan bimbinganku juga untuk lomba I-Step di Bogor yang mana tahun kemarin aku adalah finalisnya.

“Owh,, oke lanjut aja nanti kalo ada yang dibingungkan kabari aja tapi jangan sekarang aku lagi kerja”

“Oke Mas”

Secara terkejut juga ternyata juniorku tadi menemui perempuan yang aku pandangi. Moment tersebut menjadi moment pertama aku bertemu dengan perempuan berkerundung ungu tersebut.

Sejujurnya juniorku tersebut menjadikan faktor penasaranku bertambah ketika pasca lomba sang ketua tim bercerita pengalamannya satu tim dengan perempuan tersebut. Juniorku bercerita ia naksir dengan perempuan tersebut karena melihat keshalihannya selama 2 mingu Istep di Bogor. Namanya Nur hamni perempuan minang asli sumatra barat. Mendengar asalnya yang jauh sekita aku layaknya di hantam sebuah kenyataan “he sadar kamu siapa,,,kamu meminang gadis yang dekat saja tidak mungkin malah mau meminang gadis di luar jawa”. Kenytaan tersbut membuatku layaknya sebuah lagu Mundur aloon aloon.

KPRI Universitas Brawijaya yang dulu letaknya bersebelahan dengan fakultas Kedokteran Hewan acap kali sering melihat perempuan yang ternyata gemar berkerudung ungu terebut. Pada malam hujan deras ia pernah ku lihat membawa payung mengambil box kotak donat jualan di gazebo. Moment pernah menjadi kasir ketika perempuan tersebut membeli sekotak susu uht dan sari roti untuk berbuka puasa. pada saat itu sebuah doa terucap jika datang waktuku siap dalam versi terbaiku akan aku nikahi perempuan tersebut. 

Pasca kelulusan aku meninggalkan kota malang untuk bekerja.Bekerja terlebih dahulu menjadi opsi untuk saya mengangkat derajat orang tua. Mengangkat perekonomian keluarga menjadi PR pertama pasca kelulusan sekaligus memantaskan diri sebelum meminang dan mengemban tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga nantinya. 

#mencari Jodoh yang Sholeha

Menginjak umur 25 tahun tepat menjelang 3 tahun aku merantau di New Zealand sebagai herd manager Ibu menanyakan prihal jodoh. Menikah di Umur 25 menjadi cita-cita mengikuti jejak rosul menikah dengan cinta pertamanya siti khodijah. Keingin mencari jodoh tersebut seketika mengingatkan aku pada perempuan yang gemar berkerundung ungu itu. Sebuah informasi jika dia adalah anak aktivis dakwah menjadikanku tidak sulit mencari link untuk menghubungi dia meskipun sudah 3 tahun lamanya. aku mengontak semua teman dakwah yang masih di malang untuk mencari informasi murrobinya sekitika aku mendapatkan jalur penghubungnya. 

Pada gaya meminang aktivis dakwah cukup unik kami laki-laki hanya bisa menghubungi pihak perempuan melalui murrobinya sambil menyodorkan sebuah proposal nikah. Proposal kami berisikan visi misi kehidupan dimasa depan, apa yang sudah kami lakukan untuk emantaskan diri sebelum menikah. selanjutnya pihak perempuan jika bersedia akan mengirimkan balik proposal nikah yang kemudian dilanjutkan dengan proses taaruf atau mengenal diri dengan ditemani oleh para murrobi. 

Aku menghubungi murobbinya sambil aku sodorkan proposal nikah berniat baik. Pada awalnya proposalku di tolak sehingga aku menerima dengan lapang. Pada saat itu secara tidak langsung adik kelasku ada yang menghungiku untuk berkonsultasi mengenai kuliah lanjut. 

#Berjuang bersama dalam visi dan misi untuk Mencari Ridho Allah SWT

Hidup tidak hanya hidup namun perlu memiliki visi dan misi kehidupan bersama. Kami memutuskan untuk tidak melaksanakan pesta pernikahan yang mewah cukup sederhana asalkan sah. Uang tabungan bekerja di New Zealand aku gunakan untuk menyewa rumah dan membeli prabotan rumah sekaligus uang darurat. Setelah resignt dari pekerjaan di New Zealand saya berusaha mencari pekerjaan apapun yang penting halal salah satunya menjadi TS di sebauh perusahaan kemitraan ayam pedaging. Bekerja di industri unggas menjadi sesuatu hal yang baru dan cukup sulit buatku. Sistem kerja yang fleksibel namun target yang banyak sering kali membuat harus berangkat pagi jam 8 dan pulang malam jam 8. Aku menghabiskan waktu sebagian besar di jalan karena setiap hari terdapat 14 peternakan yang perlu aku kunjungi. Sistem dan lingkungan tersebut membuatku tidak nyaman sehingga ada pikiran untuk mencari beassiwa untuk lanjut studi S-2. Aku dan istri mencoba mendaftar beassiwa LPDP.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *