Tata Laksana dan Perkandangan Sapi Perah

A. Pendahuluan

Perkandangan sapi perah merupakan salah satu aspek penting dalam sistem produksi susu. Kandang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal sapi, tetapi juga menjadi lingkungan yang mendukung kesehatan, kenyamanan, dan produktivitas sapi perah. Pengelolaan kandang yang baik dapat meningkatkan produksi susu, menurunkan risiko penyakit, dan menunjang kesejahteraan hewan.

Faktor Dasar Perkandangan Sapi Perah

Kunci utama sistem perkandangan sapi perah adalah Kenyamanan. Kenyamanan dari ternak di lihat dari poin-poin berikut:

1. Suhu Lingkungan

Suhu merupakan faktor lingkungan paling kritis bagi sapi perah, terutama di daerah tropis seperti Indonesia. Suhu yang sesuai dengan kebutuhan fisiologis ternak akan menjaga performa, nafsu makan, produksi susu, dan kesehatan tetap optimal. Suhu yang terlalu panas dapat menyebabkan heat stress, yang berdampak pada penurunan konsumsi pakan, gangguan reproduksi, dan penurunan produksi susu. Sebaliknya, suhu yang terlalu dingin dapat mengganggu metabolisme dan meningkatkan kebutuhan energi ternak. Animals 15 00249 g001

Heat stress - DairyNZ | DairyNZ

Untuk menjaga kenyamanan suhu, beberapa aspek harus diperhatikan:

  • Ventilasi yang baik untuk memastikan pertukaran udara berjalan optimal dan mengurangi gas berbahaya seperti amonia.

  • Sirkulasi udara yang lancar membantu mendinginkan ternak dan menstabilkan kelembapan lingkungan.

  • Tingkat kelembapan yang ideal sangat penting, karena kelembapan tinggi meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan memperparah efek panas.

  • Desain atap yang baik, seperti kemiringan yang cukup, ketinggian yang memadai, dan penggunaan bahan atap yang tidak menyerap panas berlebih.

  • Pemilihan bahan atap yang mampu memantulkan panas atau memberikan insulasi tambahan untuk menjaga suhu tetap stabil.

2. Kebersihan Lingkungan

Kebersihan kandang menjadi faktor penting dalam mencegah infeksi dan penyakit. Lingkungan yang bersih mengurangi risiko mastitis, penyakit kulit, diare, serta menekan pertumbuhan bakteri, parasit, dan lalat.

Penekanan pada kebersihan mencakup:

  • Pengelolaan kotoran yang baik dan rutin.

  • Sistem drainase yang optimal untuk mencegah genangan.

  • Alas kandang atau bedding yang kering, bersih, dan diganti secara berkala.

  • Penyediaan area khusus untuk mandi atau pencucian ambing sebelum pemerahan.

Kebersihan yang terjaga secara konsisten akan meningkatkan kenyamanan ternak dan berkontribusi pada kualitas produksi susu yang lebih baik.

3. Pakan dan Air

Ketersediaan pakan dan air yang mudah diakses merupakan bagian penting dari kenyamanan ternak. Desain kandang harus memudahkan sapi dalam memperoleh pakan berkualitas serta air minum bersih sepanjang waktu.

Beberapa prinsip penting:

  • Tempat pakan (feed bunk) harus mudah diakses dan memiliki ketinggian yang sesuai dengan postur sapi.

  • Air minum harus tersedia ad libitum, bersih, dan terjamin kualitasnya.

  • Sistem distribusi pakan yang efisien, termasuk jalur untuk kendaraan pakan atau penggunaan feed alley.

  • Penempatan tempat minum pada area strategis agar tidak mengganggu pergerakan ternak.

Ketersediaan nutrisi dan air yang baik berdampak langsung pada performa produksi, kesehatan, dan kenyamanan sapi perah.

4. Ternak (Fokus Kesejahteraan Hewan)

Kesejahteraan hewan (animal welfare) merupakan konsep dasar dalam manajemen kandang modern. Pengaturan tata laksana perkandangan harus mempertimbangkan naluri alami ternak dan kondisi fisiologisnya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Kepadatan kandang tidak boleh melebihi kapasitas, agar ternak bebas bergerak dan tidak stres.

  • Perilaku alami ternak, seperti berdiri, berbaring, menjilat, dan berjalan, harus difasilitasi melalui ruang yang cukup.

  • Penanganan ternak harus dilakukan dengan cara yang ramah, menghindari perlakuan kasar.

  • Fasilitas kandang, seperti tempat berbaring (stall) yang nyaman, lantai yang tidak licin, dan area pemerahan yang aman.

Ternak yang dipelihara dengan memperhatikan kesejahteraannya akan menunjukkan performa produksi yang lebih baik dan tingkat stres yang lebih rendah.

5.  Kesehatan ternak dan Biosecurity

Kandang khusus untuk ternak yang memerlukan perlakuan khusus atau sedang sakit. Penyediaan ruangan khusus obat hewan

6. Pencahayaan dan penerangan

Pencahayaan dan penerangan yang baik merupakan faktor lingkungan penting yang mempengaruhi perilaku dan pola makan ternak, khususnya sapi perah. Intensitas cahaya yang cukup membantu merangsang aktivitas harian ternak, termasuk aktivitas makan, karena sapi cenderung lebih aktif dan lebih sering mengonsumsi pakan pada kondisi terang dibandingkan gelap. Cahaya juga berperan dalam mengatur ritme sirkadian melalui pengendalian hormon melatonin, sehingga pola makan ternak menjadi lebih teratur dan stabil. Pemberian pencahayaan dengan durasi panjang atau long-day lighting (sekitar 16 jam terang dan 8 jam gelap) terbukti meningkatkan konsumsi bahan kering (Dry Matter Intake/DMI) yang berdampak pada meningkatnya produksi susu. Sebaliknya, pencahayaan yang buruk atau redup dapat membuat ternak pasif, menurunkan nafsu makan, serta meningkatkan stres lingkungan. Oleh karena itu, pengaturan pencahayaan yang optimal tidak hanya berfungsi untuk visibilitas, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mendukung kesehatan, kenyamanan, dan produktivitas ternak perah.

 

B. Macam-Macam Sistem Perkandangan Sapi Perah

Sistem perkandangan sapi perah dapat dibedakan berdasarkan tingkat kebebasan gerak sapi, intensitas pemeliharaan, serta desain strukturalnya. Berikut beberapa sistem yang umum digunakan:

1. Sistem Tie Stall (Kandang Ikat)

Pada sistem ini, sapi ditempatkan dalam petak individual dan diikat sehingga pergerakannya terbatas. Sistem ini mempermudah kontrol pakan dan pemerahan, tetapi dapat membatasi kenyamanan sapi.

Tiestall Design - The Dairyland Initiative

Kelebihan:

1. Kontrol Pakan menjadi lebih mudah

  • Kontrol pakan lebih mudah.
  • Pemeriksaan kesehatan lebih cepat.
  • Cocok untuk lahan terbatas.

Kekurangan:

  • Kebebasan gerak sapi sangat terbatas.
  • Risiko stres dan cedera lebih tinggi.
  • Tidak cocok untuk sistem peternakan modern yang berbasis animal welfare.

2. Sistem Free Stall (Kandang Lepas Berpetak)

Sapi memiliki kebebasan bergerak di area kandang dan dapat memilih tempat berbaring pada petak (stall) yang disediakan.

Free Stall Cow Barns | AGRIPRO

Kelebihan:

  • Memberikan kenyamanan dan kebebasan gerak sapi.
  • Lebih higienis dan mudah dipelihara.
  • Produksi susu umumnya lebih tinggi.

Kekurangan:

  • Biaya pembangunan relatif tinggi.
  • Membutuhkan manajemen kotoran yang baik.

3. Sistem Loose House (Kandang Koloni)

Sapi dilepas dalam satu ruangan besar tanpa petak tidur individu. Biasanya dilengkapi area makan dan minum terpisah.

Loose housing is important despite costs - Farmers Weekly

Kelebihan:

  • Kebebasan bergerak sangat tinggi.
  • Lebih ekonomis dibanding free stall.

Kekurangan:

  • Persaingan antar sapi dapat terjadi.
  • Kebersihan kandang harus sangat diperhatikan.

4. Sistem Pasture-Based (Berbasis Padang Penggembalaan)

Sapi dipelihara di padang rumput dan hanya masuk kandang saat malam atau musim tertentu.

Grazing: Exploring dairy feed systems for optimal cow nutrition - All About  Feed

Kelebihan:

  • Biaya pakan lebih murah.
  • Kesejahteraan hewan tinggi.

Kekurangan:

  • Membutuhkan lahan luas.
  • Produksi susu bisa kurang stabil pada musim kemarau.

PPT

Biosekuriti dan dasar Kesehatan Ternak Perah

A. PENDAHULUAN

Biosekuriti dan Dasar Kesehatan Ternak perah penting dalam penekanan kerugian dari penyebaran penyakit. Penerapan biosekuriti yang ketat—meliputi pengendalian lalu-lintas manusia dan ternak, sanitasi kandang dan peralatan, manajemen pakan serta air minum, serta program vaksinasi—dapat meminimalkan peluang masuk dan menyebarnya agen penyakit. Selain itu, pemahaman mengenai dasar-dasar kesehatan sapi perah, termasuk deteksi dini gejala klinis, pengelolaan stres lingkungan, dan pemeliharaan kebersihan ambing, memungkinkan peternak melakukan tindakan korektif secara cepat sehingga dampak penyakit dapat ditekan. Kombinasi antara biosekuriti dan manajemen kesehatan yang baik tidak hanya menurunkan angka kejadian penyakit, tetapi juga meningkatkan produktivitas, kesejahteraan ternak, serta efisiensi ekonomi usaha peternakan.

B. BIOSEKURITI

Biosekuriti adalah serangkaian tindakan pencegahan yang dirancang untuk mencegah masuk, muncul, dan menyebarnya agen penyakit (bakteri, virus, parasit, jamur) di lingkungan peternakan. Tujuan utamanya adalah menjaga kesehatan ternak, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi kerugian ekonomi akibat penyakit. Biosekuriti bekerja berdasarkan prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati.

1. Biosekuriti Eksternal (External Biosecurity)

Fokus pada pencegahan penyakit dari luar agar tidak masuk ke peternakan. Meliputi

  • Pengaturan lalu lintas manusia dan kendaraan (visitor logbook, area terbatas, disinfeksi kendaraan).
  • Karantina ternak baru minimal 14 hari.
  • Pengawasan sumber pakan dan air (bebas kontaminasi dan patogen).
  • Pencegahan kontak dengan hewan liar seperti kucing, anjing, unggas, tikus.

2. Biosekuriti Internal (Internal Biosecurity)

Mencegah penyebaran penyakit di dalam peternakan. Meliputi :

  • Pembagian zona bersih – zona kotor.
  • Manajemen peralatan kandang, milking equipment, dan hygiene ruang perah.
  • Pemisahan kelompok ternak berdasarkan umur dan status kesehatan.
  • Prosedur pemerahan yang higienis untuk mencegah mastitis.
  • Manajemen limbah yang tepat (manure management).

PPT

Manajemen Penanganan Limbah Ternak Perah

1. Jenis dan Karakteristik Limbah Ternak Perah

Jenis LimbahAsalKandungan UtamaDampak Lingkungan
FesesPencernaan ternakBahan organik, N, P, KMenyebabkan bau, pencemaran air
UrinEkskresi metabolitNitrogen (urea), amoniaPencemaran udara dan air
Air limbahCucian kandang, peralatan pemerahanBahan organik, mikrobaMenyebabkan eutrofikasi
Gas emisiFermentasi dan dekomposisiCH₄, CO₂, NH₃Gas rumah kaca, bau
Limbah padat lainSisa pakan, jerami, litterSerat kasar, bahan organikPotensi pupuk atau kompos

Manajemen limbah bertujuan untuk:

  1. Mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

  2. Memanfaatkan limbah sebagai sumber energi, pupuk, atau bahan pakan.

  3. Menjamin kesehatan ternak dan pekerja dengan menjaga kebersihan lingkungan kandang.

  4. Mendukung konsep pertanian sirkular (zero waste farming).

Prinsip utama manajemen limbah:

  • Reduce (mengurangi limbah sejak sumbernya).

  • Reuse (menggunakan kembali limbah yang masih berguna).

  • Recycle (mengolah kembali menjadi produk baru bernilai ekonomi).

Aspek Lingkungan dan Regulasi

Penerapan manajemen limbah harus memperhatikan:

  • Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

  • Peraturan Menteri LHK No. P.101/2018 tentang Pengelolaan Limbah Non-B3.

  • Standar BOD ≤ 150 mg/L dan COD ≤ 300 mg/L untuk limbah cair peternakan sebelum dibuang ke lingkungan.

Ilmu dan Manajemen Dasar Pemeliharaan Sapi Laktasi-Kering

A. Manajemen Dasar Sapi Laktasi

1. Pengertian dan Tahapan Laktasi

Masa laktasi pada sapi perah umumnya berlangsung sekitar 305 hari (10 bulan), diikuti masa kering sekitar 60 hari sebelum melahirkan kembali. Secara fisiologis, produksi susu akan meningkat pesat pada 4–6 minggu pertama setelah melahirkan, kemudian perlahan menurun hingga akhir periode laktasi.

Tahapan laktasi dibagi menjadi:

  1. Awal Laktasi (0–100 hari) – terjadi peningkatan produksi susu maksimum, namun sering terjadi defisit energi.

  2. Pertengahan Laktasi (100–200 hari) – produksi susu mulai stabil dan kebutuhan energi mulai seimbang.

  3. Akhir Laktasi (200–305 hari) – produksi susu menurun, dan nutrisi diarahkan untuk pemulihan tubuh serta persiapan kebuntingan berikutnya.

2. Manajemen Pakan Sapi Laktasi

a. Kebutuhan Nutrisi

Sapi laktasi membutuhkan energi, protein, mineral, dan vitamin dalam jumlah yang seimbang. Energi terutama diperoleh dari hijauan berkualitas (rumput gajah, odot, atau leguminosa) dan konsentrat (dedak padi, bungkil kelapa, jagung giling).

Kebutuhan nutrisi dipengaruhi oleh:

  • Produksi susu per hari

  • Bobot badan sapi

  • Tahapan laktasi

Kebutuhan energi dapat dipenuhi dengan pakan Total Mixed Ration (TMR) yang mengandung bahan kering sekitar 18–20% serat kasar dan 16–18% protein kasar.

B. Stratergi Pemberian Pakan

  • Berikan pakan hijauan 60–70% dan konsentrat 30–40% dari total ransum kering.

  • Pemberian pakan dilakukan minimal 2–3 kali per hari untuk menjaga konsumsi optimal.

  • Air minum harus selalu tersedia dan bersih (sapi laktasi bisa meminum hingga 100 liter/hari).

3. Kesehatan dan Reproduksi Sapi Laktasi

Masa laktasi adalah periode kritis karena beban metabolik tinggi. Masalah umum seperti ketosis, milk fever, dan mastitis sering terjadi jika manajemen tidak baik.

Langkah pencegahan:

  • Berikan pakan kaya energi dan mineral (terutama kalsium dan fosfor).

  • Lakukan pemeriksaan kondisi tubuh (Body Condition Score) secara rutin.

  • Terapkan program inseminasi buatan (IB) setelah 60–90 hari pasca melahirkan jika kondisi tubuh normal.

4. Manajemen Lingkungan dan Kandang

Kenyamanan sapi sangat mempengaruhi produksi susu. Suhu ideal sapi perah berkisar antara 18–25°C, sehingga di daerah tropis perlu dilakukan:

  • Ventilasi dan sirkulasi udara yang baik.

  • Penyemprotan air (sprinkler system) atau kipas angin untuk menurunkan suhu tubuh.

  • Kandang yang bersih, kering, dan tidak licin.

Kebersihan alas kandang dan area pemerahan sangat berpengaruh terhadap kesehatan ambing dan kualitas susu.

B. Manajemen Dasar Sapi Kering Kandang (Dry off)

Masa kering kandang (dry period) adalah fase istirahat fisiologis bagi sapi perah yang dimulai setelah pemerahan dihentikan hingga sapi melahirkan kembali. Periode ini umumnya berlangsung selama 45–60 hari. Walaupun pada masa ini sapi tidak menghasilkan susu, fase ini sangat penting untuk regenerasi jaringan ambing, persiapan laktasi berikutnya, dan pemulihan kondisi tubuh setelah masa laktasi sebelumnya. Manajemen sapi kering kandang yang tepat akan menentukan kesehatan ambing, keberhasilan kebuntingan, serta produksi susu optimal pada laktasi berikutnya.

Tujuan Masa Kering Kandang

Tujuan utama dari program dry-off adalah:

  1. Memberikan waktu bagi jaringan ambing untuk memperbaiki diri (regenerasi sel sekretori susu).

  2. Meningkatkan cadangan nutrisi tubuh untuk mendukung kebuntingan dan laktasi berikutnya.

  3. Mencegah infeksi ambing (mastitis) sebelum dan sesudah melahirkan.

  4. Menjaga keseimbangan metabolisme, terutama kalsium, energi, dan protein.

Tahapan Manajemen Sapi Kering Kandang

– Penghentian Pemerahan 

Langkah penghentian pemerahan harus dilakukan secara bertahap, tidak mendadak, agar tidak menimbulkan tekanan pada ambing:

  1. Kurangi frekuensi pemerahan dari 2× menjadi 1× sehari selama 3–4 hari.

  2. Kurangi pemberian pakan konsentrat untuk menurunkan produksi susu.

  3. Setelah produksi susu menurun drastis (<5 liter/hari), pemerahan dapat dihentikan sepenuhnya.

  4. Setelah pemerahan terakhir, lakukan pemberian antibiotik intramammae (dry cow therapy) untuk mencegah infeksi selama masa kering.

Manajamen Pakan

Manajemen pakan pada masa kering kandang terbagi menjadi dua tahap:

1) Early Dry Period (0–30 hari setelah kering)

  • Tujuan: mempertahankan kondisi tubuh (Body Condition Score/BCS) ideal, yaitu 3,0–3,5 (skala 1–5).

  • Pakan: hijauan berkualitas sedang dengan sedikit atau tanpa konsentrat.

  • Hindari pakan tinggi energi seperti jagung giling atau bungkil berlemak karena dapat menyebabkan kelebihan lemak tubuh.

2) Prepartum Period (3 minggu sebelum partus)

  • Tujuan: mempersiapkan sapi menghadapi kelahiran dan laktasi.

  • Berikan pakan tinggi energi dan tinggi protein dengan tambahan mineral seperti Ca, P, Mg, dan vitamin ADE.

  • Suplementasi anionic salts (garam anionik) dapat mencegah milk fever (hipokalsemia) pascamelahirkan.

 

Research Adventure ke Pulau Bawean

Tanggal 21 Oktober 2025 awal sebuah perjalanan saya ke pulau bawean bersama-sama dengan MIPI (Masyarakat Ilmiah Pemuda Indonesia) untuk mengadakan acara jelajah research adventure. Pagi-pagi sekali, tepat setelah salat Subuh, saya berangkat dari Malang menuju Terminal Arjosari menggunakan gojek. Jam masih menunjukkan pukul 05.00, tapi semangat saya sudah penuh, membayangkan perjalanan panjang menuju Pulau Bawean. Setibanya di Surabaya, saya dijemput oleh Mas Budi, teman perjalanan sekaligus ketua pemandu research adventure kami selama di sana. Dari Surabaya, kami langsung meluncur ke Pelabuhan Gresik untuk naik kapal yang dijadwalkan berangkat jam 09.00 WIB. Tapi, seperti biasa dalam setiap perjalanan, selalu ada cerita seru: kami sempat salah jalan di tol dan kebablasan sampai keluar di Mojokerto! Untungnya masih sempat balik arah, meskipun sempat bikin deg-degan takut terlambat.

Naik kapal menuju Bawean ternyata bukan perjalanan singkat. Sekitar enam jam kami terombang-ambing karena gelombang laut cukup tinggi. Rasanya seperti naik “roller coaster” versi laut, campuran antara seru dan sedikit mual. Tapi semua terbayar begitu pulau itu terlihat dari kejauhan—hijau, tenang, dan indah. Setibanya di Bawean, kami langsung menuju sebuah pondok pesantren. Di sana, saya terkesima melihat para santri membuat batik khas Bawean. Motif-motifnya unik, penuh cerita, dan jelas mencerminkan identitas pulau ini. Malam harinya, kami beristirahat di sebuah cottage milik ketua yayasan Pulau Bawean—suasana sederhana tapi hangat.

Hari pertama

Hari berikutnya, petualangan dimulai lagi. Kami trekking menuju Air Terjun Ngelancar. Suara gemericik air dan suasana alami membuat rasa lelah hilang seketika. Setelah itu, kami berkeliling untuk melihat potensi lain di Bawean: ternak lokal dan tentu saja ikon pulau ini, rusa Bawean yang cantik dan langka. Melihatnya secara langsung di habitatnya adalah pengalaman yang benar-benar luar biasa.

Hari kedua

Waktu pulang ternyata jadi cerita tersendiri. Karena ombak laut yang tinggi, tidak ada kapal yang beroperasi minggu itu. Pilihan terakhir adalah naik pesawat Susi Air dengan kapasitas hanya 12 penumpang. Tiket ke Surabaya sudah habis, jadi kami terpaksa terbang ke Sumenep dulu. Dari Sumenep, perjalanan dilanjutkan dengan bus ekonomi selama 5 jam menuju Surabaya. Baru setelah itu kami kembali lagi ke Malang dengan badan lelah, tapi hati penuh cerita.

Perjalanan ini memang penuh drama—dari kapal yang goyang, pesawat kecil, sampai harus muter lewat Sumenep. Tapi justru di situlah letak serunya: setiap langkah punya cerita. Dan Pulau Bawean? Ia meninggalkan kesan yang sulit dilupakan, sebuah pulau kecil yang menyimpan pesona besar. 

Manajemen Pemeliharaan Ternak Perah Neonatal-Dara

Diskripsi Singkat Topik Kuliah

Topik Manajemen Pemeliharaan Ternak Perah Neonatal–Dara membahas prinsip-prinsip dasar dalam pemeliharaan pedet sejak lahir hingga mencapai umur siap kawin sebagai calon induk (dara). Materi mencakup manajemen kolostrum, pemberian pakan dan air minum, program kesehatan dasar, pengendalian penyakit, hingga manajemen pertumbuhan dan reproduksi. Selain itu, topik ini menekankan pentingnya nutrisi, lingkungan, dan seleksi bibit yang tepat untuk menjamin performa optimal serta produktivitas tinggi saat memasuki masa laktasi pertama.

Capaian Pembelajaran

Setelah mempelajari topik ini, mahasiswa diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pentingnya manajemen kolostrum dan pemeliharaan pedet pada fase neonatal untuk mendukung imunitas dan kelangsungan hidup.

  2. Menguraikan tahapan pemeliharaan anak sapi mulai dari pra-sapih, pasca-sapih, hingga fase dara.

  3. Mengidentifikasi kebutuhan nutrisi, kesehatan, dan lingkungan pada setiap tahap pertumbuhan pedet–dara.

  4. Mengevaluasi program kesehatan dan strategi seleksi bibit dalam rangka menghasilkan calon induk yang produktif.

  5. Merancang sistem manajemen pemeliharaan pedet–dara yang efektif dan sesuai dengan kondisi peternakan lokal.

A. Dasar Manajamen Penenganan Pedet saat Lahir

Memastikan Pedet di jilati oleh induk selama 15 menit dan lendir di bersihkan pada bagian mulut dan lubang hidung untuk memastikan pedet bernapas dengan baik. Tali pusar dipotong dengan steril sekitar 5 cm dari perut dan diberi antiseptik seperti larutan iodine 7–10% untuk mencegah infeksi. Selanjutnya Menempatkan pedet ke tempat yang nyaman atau kendang pedet.

1. Pemberian Kolostrum

Kolostrum atau susu pertama dari induk mengandung immunoglobin yang penting dalam meningkatkan kekebalan imunitas pedet. Pedet harus menerima kolostrum dalam waktu 1–2 jam setelah lahir, dan dalam jumlah sekitar 3-4 liter per hari selama 3 hari pertama. Pemberian kolostrum yang tepat waktu penting untuk kekebalan tubuh pedet terhadap penyakit, khususnya diare dan pneumonia.

2. Manajemen Pakan Lanjutan Pedet

Setelah hari keempat, pedet dapat diberikan susu pengganti, dengan jumlah bertahap sesuai umur dan berat badan. Pemberian dilakukan dua kali sehari secara konsisten.  Mulai umur 1 minggu, pedet diperkenalkan dengan pakan pellet kusus pedet. Hijauan mulai dikenalkan pada umur 3–4 minggu, meskipun konsumsi efektif biasanya terjadi setelah sistem rumen mulai berkembang (usia >1 bulan)

3. Kandang dan Lingkungan

Pedet sebaiknya ditempatkan dalam kandang individu hingga usia sapih untuk mencegah penularan penyakit dan memudahkan monitoring. Kandang harus kering, bersih, memiliki ventilasi baik, dan bebas angin langsung. Suhu ideal untuk pedet adalah 15–25°C, dan pencahayaan alami harus cukup.

4. Program Kesehatan

Pedet rentan terhadap penyakit, sehingga program kesehatan preventif sangat penting.

  • Vaksinasi awal (misalnya clostridiosis, pneumonia, IBR) dilakukan sesuai jadwal dokter hewan.
  • Deteksi dini gejala penyakit seperti diare,
  • Pencegahan infeksi kutu, dan cacingan juga menjadi bagian dari manajemen rutin.

5. Penyapihan

Penyapihan dilakukan saat pedet mampu mengonsumsi pakan padat (starter) minimal 1 kg/hari selama 3 hari berturut-turut dan umumnya terjadi pada umur 6–8 minggu. Penyapihan sebaiknya dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan stres. Setelah disapih, pedet dipindahkan ke kandang kelompok dan mulai dipelihara dalam sistem pemeliharaan bakalan dengan penekanan pada pertumbuhan tulang dan otot.

B. Dasar Manajamen Ternak Dara (Heifer)

Menyiapkan ternak dara agar mencapai bobot badan dan kematangan reproduksi yang optimal sebelum kawin pertama (13–15 bulan, 300–350 kg), sehingga kelahiran pertama (primipara) terjadi tepat waktu dengan kesehatan dan produktivitas maksimal.

1. Pakan dan Nutrisi

Kombinasikan hijauan berkualitas (rumput gajah, leguminosa) dengan konsentrat berprotein 16–18% untuk mendukung penambahan bobot badan 0,6–0,8 kg/hari. Nutrisi seimbang mencegah pertumbuhan terlalu cepat yang dapat merusak sendi, atau terlalu lambat yang menunda siap kawin.

2. Kesehatan

Terapkan program vaksinasi

  • Brucellosis,
  • BVD, IBR
  • Pengendalian parasit internal/eksternal secara rutin.

 

PPT 

 

Refference

https://www.beefresearch.ca/topics/calving-calf-management/

 

Dinamika Laktasi

A. Diskripsi Singkat

Topik Dinamika Laktasi membahas perubahan produksi susu sepanjang siklus laktasi, mulai dari awal laktasi, puncak laktasi, pertengahan, akhir, hingga masa kering (dry period). Dinamika ini dipengaruhi oleh interaksi faktor fisiologis, hormonal, nutrisi, kesehatan, reproduksi, serta manajemen pemeliharaan. Pemahaman tentang dinamika laktasi penting untuk menentukan strategi pemberian pakan, program kesehatan, dan manajemen reproduksi yang tepat guna mengoptimalkan produktivitas dan kesejahteraan ternak perah.

B. Capaian Pembelajaran

Setelah mempelajari topik ini, mahasiswa diharapkan mampu:

  1. Mendeskripsikan perubahan pola produksi susu pada berbagai tahap periode laktasi.

  2. Menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi dinamika produksi susu, termasuk nutrisi, kesehatan, reproduksi, dan manajemen.

  3. Menganalisis hubungan antara kondisi fisiologis ternak dengan fluktuasi produksi susu.

  4. Merancang strategi manajemen nutrisi dan reproduksi berdasarkan dinamika laktasi untuk meningkatkan efisiensi produksi susu.

Biokimia dan Biosintesis Susu

A. Diskripsi Singkat

Topik Biokimia dan Biosintesa Susu membahas mekanisme biokimiawi pembentukan komponen utama susu di kelenjar ambing. Proses biosintesis mencakup pembentukan lemak susu melalui jalur lipogenesis, sintesis protein susu (kasein dan whey protein) di retikulum endoplasma, produksi laktosa di kompleks Golgi, serta mineralisasi kalsium-fosfat sebagai bagian dari fase koloid susu. Selain itu, dipelajari pula mekanisme milk let down, yaitu proses pengeluaran susu yang dipicu oleh kerja hormon oksitosin dan rangsangan eksternal seperti hisapan anak atau stimulasi pemerahan.

B. Capaian Pembelajaran

Setelah mempelajari topik ini, mahasiswa diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan proses biokimia pembentukan lemak, protein, laktosa, dan mineral dalam susu.

  2. Mendeskripsikan jalur biosintesis utama di dalam sel epitel sekretori ambing.

  3. Menguraikan mekanisme milk let down yang dikendalikan oleh hormon oksitosin dan rangsangan eksternal.

  4. Menganalisis faktor-faktor fisiologis dan lingkungan yang memengaruhi efisiensi biosintesis dan sekresi susu.

Fisiologis dan Hormonal Laktasi

A. Deskripsi Singkat

Fisiologis dan Hormonal Laktasi membahas proses pembentukan, sekresi, dan pengeluaran susu yang diatur oleh mekanisme fisiologis tubuh dan regulasi hormonal. Topik ini mencakup peran organ reproduksi, sistem endokrin, serta interaksi berbagai hormon seperti prolaktin, oksitosin, estrogen, dan progesteron dalam mengatur mammogenesis, laktogenesis, galaktopoiesis, hingga let-down reflex. Selain itu, dipelajari pula pengaruh faktor lingkungan, nutrisi, dan manajemen terhadap keseimbangan hormonal serta efisiensi produksi susu pada ternak perah.

B. Capaian Pembelajaran

Setelah mempelajari topik ini, mahasiswa diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan mekanisme fisiologis pembentukan dan pengeluaran susu pada ternak perah.

  2. Mengidentifikasi peran utama hormon-hormon seperti prolaktin, oksitosin, estrogen, dan progesteron dalam proses laktasi.

  3. Menganalisis tahapan laktasi (mammogenesis, laktogenesis, galaktopoiesis, dan let-down reflex) serta faktor internal maupun eksternal yang memengaruhinya.

  4. Mengevaluasi hubungan antara regulasi hormonal dengan manajemen pemeliharaan untuk mendukung efisiensi produksi susu.

Biologi Laktasi

A. Diskripsi Singkat

Biologi Laktasi mempelajari struktur, fungsi, dan perkembangan kelenjar ambing pada ternak perah. Secara anatomi, ambing tersusun atas alveoli sebagai unit fungsional penghasil susu, duktus laktiferus sebagai saluran, cisterna sebagai penampung, dan puting sebagai saluran pengeluaran. Dari sisi histologi, ambing terdiri atas jaringan epitel sekretori yang memproduksi susu, sel mioepitelial yang membantu ejeksi, jaringan ikat sebagai penopang, serta vaskularisasi yang menyediakan nutrien dan hormon. Perkembangan kelenjar ambing atau mammogenesis berlangsung bertahap sejak fase embrio, pubertas, kebuntingan, laktasi, hingga involusi, yang masing-masing dikendalikan oleh pengaruh hormon dan kondisi fisiologis ternak.

B. Capaian Pembelajaran

Setelah mempelajari topik ini, mahasiswa diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan anatomi ambing beserta struktur fungsionalnya dalam produksi susu.

  2. Mendeskripsikan histologi ambing, termasuk peran jaringan epitel sekretori, sel mioepitelial, jaringan ikat, dan vaskularisasi.

  3. Menganalisis tahapan perkembangan kelenjar ambing (mammogenesis) mulai dari embrio, pubertas, kebuntingan, laktasi, hingga involusi.

  4. Mengaitkan pengaruh faktor fisiologis dan hormonal terhadap proses laktasi.