Kualitas dan Keamanan Susu

A. Diskripsi Singkat

Topik ini membahas aspek mutu dan keamanan susu sebagai produk pangan yang sangat sensitif terhadap kontaminasi. Materi mencakup parameter fisik, kimia, dan mikrobiologis yang menentukan kualitas susu segar maupun olahan; faktor-faktor yang memengaruhi penurunan mutu; serta standar nasional dan internasional terkait kualitas susu. Selain itu, dibahas pula potensi bahaya biologis, kimia, dan fisik yang dapat mengancam keamanan susu, prinsip higiene dan sanitasi dalam penanganan susu, serta penerapan sistem jaminan mutu seperti HACCP dan Good Manufacturing Practices (GMP).

B. Capaian Pembelajaran

1. Pengetahuan

  • Mampu menjelaskan komponen fisik, kimia, dan mikrobiologis susu yang menentukan kualitasnya.

  • Mampu menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kualitas susu segar dari hulu (sapi perah) hingga hilir (penanganan pasca panen).

  • Mampu mengidentifikasi potensi bahaya biologis, kimia, dan fisik yang dapat menurunkan mutu serta membahayakan keamanan susu.

  • Mampu menjelaskan standar nasional (SNI) dan internasional (Codex Alimentarius) terkait kualitas dan keamanan susu.

C. PPT MATERI

Komponen dan Nilai Gizi Susu

A. Deskripsi Singkat

Topik ini membahas susu sebagai bahan pangan bergizi tinggi yang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi manusia. Materi mencakup komposisi utama susu yaitu air, karbohidrat (terutama laktosa), protein (kasein dan whey protein), lemak, vitamin, dan mineral. Selain itu, dibahas pula nilai gizi masing-masing komponen terhadap kesehatan manusia, peran susu dalam pertumbuhan, perkembangan, serta pencegahan malnutrisi. Topik ini juga menyoroti variasi komposisi susu antarspesies, faktor yang memengaruhi kandungan gizi, serta relevansinya dalam diet sehari-hari.

B. Capaian Pembelajaran

1.  Pengetahuan (Knowledge)

  • Menjelaskan
    komposisi utama susu (air, lemak, protein, laktosa, mineral, dan vitamin)
    serta fungsinya bagi kesehatan manusia.
  • Menganalisis
    peran susu sebagai sumber gizi lengkap dalam memenuhi kebutuhan nutrisi
    harian.
  • Mengidentifikasi
    tren konsumsi susu dan produk olahannya di tingkat nasional maupun global.

2. Keterampilan (Skills)

    • Mengevaluasi kualitas gizi susu melalui pendekatan fisik, kimia, dan biologis.
    • Membandingkan nilai gizi susu dengan sumber pangan hewani lainnya.
    • Menyusun argumentasi ilmiah tentang pentingnya konsumsi susu bagi berbagai kelompok umur berdasarkan bukti ilmiah terkini.
C. Modul Belajar
D. PPT Materi

ILMU DAN MANAJEMEN TERNAK PERAH

Ringkasan Materi Kuliah Ilmu dan Manajemen Ternak Perah Sebelum UTS.

Ilmu dan Manajemen Ternak Perah adalah mata kuliah yang mempelajari tentang dasar keilmuan tentang ternak perah dalam menghasilkan susu sebagai dasar kebutuhan nutrisi manusia.

RPS

Materi yang ada pada halaman ini hanya bisa di download menggunakan akun emaile Universitas brawijaya (@student.ub.ac.id).

1. Susu dan Perannya dalam Kehidupan Manusia

  • Pentingnya ternak perah bagi kehidupan manusia
  • Potensi dan Pengembangan Usaha Ternak Perah
  • Peranan Susu Bagi Kehidupan Manusia
  • Materi (Klik disini)

2. Komponen dan Nilai Gizi Susu

  • Komponen susu: air, lemak, protein, laktosa, mineral, vitamin, enzim, sel somatik.
  • Nilai gizi susu: sumber energi, protein hewani berkualitas tinggi, mineral penting (Ca, P), vitamin (A, D, B kompleks).
  • Materi (Klik disini)

3. Kualitas dan Keamanan susu

  • Mampu menyebutkan komponen dari susu Faktor penentu kualitas: komposisi kimia, total plate count (TPC), total solid, kadar lemak.Keamanan: cemaran mikroba, residu antibiotik, kontaminasi kimia, standar kualitas susu (SNI, Codex).
  • Materi (Klik disini)

 4. Biologi Laktasi

  • Anatomi ambing: struktur kelenjar ambing, alveoli, duktus laktiferus, cisterna, puting.
  • Histologi ambing: jaringan epitel sekretori, myoepithelial cells, jaringan ikat, vaskularisasi.
  • Mammogenesis (perkembangan ambing): tahap embrio, pubertas, kebuntingan, laktasi, involusi.
  • Materi (Klik disini)

 5. Fisiologis dan Hormonal Laktasi

  • Peran hormon: prolaktin, oksitosin, estrogen, progesteron, growth hormone, cortisol.
  • Regulasi laktasi: hormonal dan saraf.
  • Hubungan fisiologi tubuh dengan produksi susu.
  • Materi (Klik disini)

 6. Biokimia dan Biosintesa susu

  • Biosintesa susu: pembentukan lemak susu, protein susu (kasein, whey), laktosa, mineralisasi.
  • Milk let down: mekanisme pengeluaran susu dipicu oleh oksitosin & rangsangan eksternal.
  • Materi (Klik disini)

7. Dinamika Laktasi

  • Perubahan produksi susu sepanjang periode laktasi (awal laktasi, puncak laktasi, pertengahan, akhir, dry period).
  • Hubungan dinamika laktasi dengan nutrisi, kesehatan, reproduksi, dan manajemen.
  • Materi (Klik disini)

8. Evaluasi Tengah Semester

Materi yang ada pada halaman ini hanya bisa di download menggunakan akun emaile Universitas brawijaya (@student.ub.ac.id).

9. Manajemen Pemeliharaan Ternak Perah Neonatal-dara

  • Neonatal (0–3 bulan): kolostrum, manajemen pemberian susu, kesehatan anak sapi, pencegahan diare & penyakit pernapasan.

  • Pra-sapih (3–6 bulan): peralihan pakan, manajemen pertumbuhan, vaksinasi dasar.

  • Pasca-sapih hingga dara (6–24 bulan): nutrisi untuk pertumbuhan optimal, pengelolaan reproduksi awal (pubertas), seleksi bibit.

  • Materi (Klik disini)

10. Manajemen Pemeliharaan Ternak Perah Laktasi-Kering

  • Masa Laktasi: kebutuhan nutrisi tinggi, keseimbangan energi, pencegahan mastitis, manajemen pemerahan, monitoring produksi susu.

  • Masa Kering: strategi dry off, pemberian pakan sesuai kondisi fisiologis, perawatan ambing, persiapan partus, pengendalian metabolik (ketosis, milk fever).

  • Materi (Klik disini)

11. Manajemen Pengolahan Limbah Ternak Perah

  • Jenis limbah: padat (feses), cair (urin, air cucian kandang), gas (NH₃, CH₄).

  • Teknologi pengolahan: kompos, biogas, pupuk cair.

  • Aspek lingkungan: pengendalian bau, pencegahan pencemaran, pemanfaatan limbah untuk pertanian berkelanjutan.

  • Materi (Klik disini)

12. Biosekuriti dan Dasar Kesehatan Ternak

  • Biosekuriti eksternal: kontrol lalu lintas hewan, pencegahan introduksi penyakit, sanitasi lingkungan.

  • Biosekuriti internal: desinfeksi kandang, manajemen pekerja, isolasi hewan sakit.

  • Dasar kesehatan: vaksinasi, pengendalian parasit, deteksi dini penyakit metabolik & infeksius, pencatatan kesehatan.

  • Materi (Klik disini)

13. Manajemen Pemerahan dan Alat Perah

  • Teknik pemerahan: manual & mesin, prosedur pra–dan pasca pemerahan.

  • Higienitas pemerahan: sanitasi ambing, kualitas susu (kontaminasi bakteri, sel somatik).

14. Manajemen Perkandangan Ternak Perah

  • Jenis kandang: individu, kelompok, kandang bebas (free stall), tie stall.

  • Desain kandang: ventilasi, pencahayaan, drainase, kenyamanan ternak (cow comfort).

  • Lingkungan kandang: pengendalian suhu–kelembapan, pengaruh terhadap stres panas & produktivitas.

  • Materi (Klik disini)

15. Sistem Industri Ternak Perah Tropika

16. Evaluasi Akhir Semester

Project Base

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

PEKERTI

Pengalaman Mengikuti Pelatihan PEKERTI di Universitas Brawijaya

Sertifikat Pekerti

Sertifikat Pekerti merupakan salah satu dokumen penting yang perlu dimiliki seorang dosen sebelum mulai mengajar secara resmi. Program ini dirancang sebagai bentuk pelatihan dasar bagi dosen baru, agar memiliki bekal pengetahuan pedagogik, keterampilan mengajar, serta wawasan dasar mengenai proses pembelajaran di perguruan tinggi.

Ketika saya kembali mengabdi di Indonesia, saya mendapatkan kesempatan berharga untuk mengikuti pelatihan ini di Universitas Brawijaya (UB). Pada waktu itu, UB memberikan fasilitas bagi setiap fakultas untuk mengirimkan dosen barunya agar bisa mengikuti program Pekerti. Hal ini tentu menjadi langkah strategis, karena kualitas pengajaran di perguruan tinggi sangat dipengaruhi oleh kesiapan para pengajarnya.

Pelatihan Pekerti yang saya ikuti diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi Pembelajaran dan Pengembangan (DIPP) UB. Kegiatan berlangsung di Kantor Layanan Bersama, Lantai 8, mulai tanggal 16–23 Juni 2025. Selama delapan hari tersebut, para peserta mendapatkan berbagai materi seputar strategi pembelajaran, teknik penyusunan RPS (Rencana Pembelajaran Semester), metode evaluasi pembelajaran, hingga etika profesi dosen.

Bagi saya pribadi, mengikuti pelatihan ini tidak hanya menambah pengetahuan teknis, tetapi juga memberikan pengalaman berharga untuk berinteraksi dengan dosen-dosen baru dari berbagai fakultas. Diskusi, simulasi mengajar, dan tugas kelompok yang diberikan membuat suasana pelatihan menjadi dinamis sekaligus menantang.

Dengan adanya Sertifikat Pekerti, seorang dosen dibekali pondasi kuat untuk melaksanakan tugas pengajaran dengan lebih terarah. Saya merasa bersyukur telah mendapatkan kesempatan mengikuti program ini di Universitas Brawijaya, karena pengalaman ini akan menjadi salah satu bekal penting dalam perjalanan saya sebagai pendidik di perguruan tinggi.

Kedaulatan Susu dari Kandang, Bukan dari Pelabuhan

Oleh : Muchamad Muchlas,Ph.D.

Dosen Laboratorium Ternak Perah, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

Ex-Manager Peternakan Sapi perah di New Zealand

Di mana posisi peternakan sapi perah Indonesia dalam peta kedaulatan pangan nasional, khususnya di sektor susu? Pertanyaan ini layak dilayangkan dalam menyambut momentum Hari Susu Sedunia yang diperingati setiap 1 Juni. Di Indonesia, momen ini juga dikenal sebagai Hari Susu Nusantara-sebuah perayaan yang sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya susu sebagai penopang gizi dan kesehatan masyarakat. Di tengah peringatan tersebut, sorotan terhadap industri peternakan sapi perah menjadi semakin relevan, terutama pada masa awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menunjukkan peningkatan perhatian terhadap sektor ini. Salah satu indikatornya adalah dimasukkannya susu sebagai komponen penting dalam program makanan bergizi gratis. Kebijakan ini menargetkan sekitar 82,9 juta penerima, dengan alokasi konsumsi susu harian sebesar 115–200 ml per orang. Implikasinya jelas bahwa kebutuhan susu segar nasional akan melonjak secara signifikan. Namun, data yang tersedia menunjukkan bahwa lonjakan permintaan tersebut belum diimbangi dengan kapasitas produksi domestik.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan memperkirakan kebutuhan susu nasional pada tahun 2025 akan mencapai 4,686 juta ton, sementara produksi dalam negeri baru berada di kisaran 798 ribu ton. Artinya, terdapat defisit sebesar 3,888 juta ton, atau sekitar 83 persen kebutuhan harus dipenuhi melalui impor. Ketimpangan ini bahkan diproyeksikan masih akan terjadi hingga 2035, dengan angka defisit mencapai 4,580 juta ton. Jika digabungkan dengan kebutuhan program susu sekolah, total permintaan susu nasional pada 2035 bisa melonjak hingga lebih dari 8,6 juta ton, dengan potensi defisit menembus angka 8 juta ton per tahun. Untuk mengejar ambisi pemenuhan kebutuhan tersebut, pemerintah mencanangkan impor satu juta ekor sapi perah selama periode 2025–2028, dengan rincian: 200.000 ekor pada 2025, 300.000 ekor pada 2026, 400.000 ekor pada 2027, dan 100.000 ekor pada 2028. Namun, produktivitas susu tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah populasi sapi, melainkan sangat bergantung pada kualitas manajemen peternakan di tingkat akar rumput. Saat ini, lebih dari 80 persen produksi susu nasional berasal dari peternakan rakyat berskala kecil, dengan kepemilikan rata-rata hanya 2 hingga 4 ekor sapi perah per rumah tangga. Alih-alih memperkuat peternak rakyat sebagai pilar utama, kebijakan yang diambil cenderung berorientasi pada solusi instan dan jangka pendek, yakni menambah populasi sapi perah melalui impor. Langkah ini justru menimbulkan pertanyaan mendasar: Apakah pendekatan seperti ini benar-benar akan memperkuat struktur industri susu nasional, atau justru memperlebar ketimpangan antara peternak kecil dan industri besar?

Persoalan di Lapangan

Kedatangan satu juta ekor sapi perah impor pada periode 2025–2028 merupakan investasi besar negara yang tidak bisa dianggap sepele. Strategi peningkatan populasi melalui skema impor sejatinya mengabaikan kenyataan krusial di lapangan. Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang merebak sejak 2022 hingga kini belum sepenuhnya terkendali. Kondisi ini menjadi peringatan serius bahwa sistem pengendalian penyakit ternak nasional masih rapuh. Investasi populasi tanpa dukungan perlindungan biosekuriti yang memadai ibarat menuangkan air ke dalam ember bocor. Akses vaksinasi, khususnya pemberian vaksin booster, belum merata dan masih menjadi kendala besar. Ketersediaan vaksin terbatas, biayanya relatif tinggi, dan distribusinya tidak menjangkau seluruh peternak, terutama mereka yang berada di daerah terpencil. Padahal, kesinambungan vaksinasi sangat penting untuk menjaga kekebalan kolektif ternak dan mencegah potensi kerugian ekonomi yang lebih besar. Pemerintah harus memastikan bahwa setiap sapi yang masuk tidak membawa bibit penyakit baru, sekaligus menjamin kesiapan teknis peternakan rakyat dalam menghadapi risiko penyebaran penyakit. Penguatan sistem biosekuriti nasional-mulai dari fasilitas karantina, pengawasan lalu lintas ternak, pemetaan zona merah, hingga edukasi protokol kebersihan di tingkat peternak-bukan lagi sebuah opsi, melainkan prasyarat mutlak jika Indonesia ingin mencapai kemandirian dalam produksi susu segar.

Selain itu, para peternak juga masih menghadapi persoalan klasik yang belum tertangani secara sistematis, yakni pengelolaan limbah kotoran sapi. Di sejumlah sentra produksi susu seperti di Jawa Timur dan Jawa Barat, limbah yang tidak tertangani dengan baik telah menimbulkan pencemaran lingkungan. Padahal, limbah ternak sebenarnya memiliki potensi ekonomi jika diolah menjadi pupuk organik, biogas, atau bahan baku energi terbarukan. Pemerintah perlu mendorong terbentuknya unit pengolahan limbah berbasis koperasi peternak atau BUMDes, lengkap dengan insentif teknologi dan pendampingan teknis dari perguruan tinggi serta lembaga riset. Dari aspek kualitas produksi, penolakan puluhan ribu liter susu oleh Industri Pengolahan Susu (IPS) pada akhir 2024 menjadi cermin nyata lemahnya dukungan pemerintah dalam menjamin mutu hasil produksi di tingkat peternak. Penolakan tersebut terjadi karena susu dianggap tidak memenuhi standar baku mikrobiologis dan kebersihan. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan revitalisasi program pelatihan higienitas pemerahan secara berkala, penyediaan peralatan sanitasi bersubsidi, serta pembangunan unit pelayanan kualitas susu (milk collection point) di setiap klaster peternakan. Kemitraan antara koperasi, IPS, dan dinas peternakan daerah juga harus diperkuat agar peternak rakyat tidak terus menjadi pihak paling rentan dalam rantai pasok susu nasional. Tanpa intervensi strategis di aspek lingkungan dan kualitas produksi ini, target peningkatan konsumsi susu hanya akan memperlebar kesenjangan struktural dalam industri perah nasional.

Dari Kandang, Bukan dari Pelabuhan

Pembangunan kedaulatan susu nasional tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada angka impor dan rencana populasi ternak besar-besaran. Kedaulatan sejati hanya bisa dicapai apabila negara membangun dari bawah, yakni dari kandang-kandang peternak rakyat yang selama ini menjadi fondasi industri susu nasional. Perlu program pemerintah yang terstruktur, berkelanjutan, dan menyasar langsung akar persoalan peternak. Mulai dari pelatihan manajemen pakan, pemerahan higienis, pengolahan limbah berbasis energi, hingga penyuluhan untuk pengendalian penyakit. Tidak kalah penting, pembenahan tata niaga dan penguatan koperasi peternak agar mereka punya posisi tawar yang lebih baik terhadap industri pengolahan. Sebagai contoh, model koperasi peternak di Selandia Baru atau Belanda yang berbasis transparansi dan keadilan harga bisa menjadi rujukan. Negara juga perlu mendorong riset-riset terapan dari perguruan tinggi agar teknologi tepat guna bisa menjangkau peternak kecil. Pada akhirnya, Hari Susu Nusantara bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk meneguhkan komitmen negara dalam menata ulang arah kebijakan peternakan perah. Jika ingin program makanan bergizi gratis berjalan secara berkelanjutan, maka sistem produksinya pun harus tangguh. Impor sapi perah mungkin bisa meningkatkan angka produksi sementara, tetapi tidak akan memperbaiki ketimpangan struktural yang telah lama berlangsung. Negara harus hadir, bukan hanya dalam bentuk sapi yang datang dari pelabuhan, tetapi dalam dukungan nyata di kandang-kandang rakyat yang menjadi ujung tombak ketahanan susu nasional. Kedaulatan susu tidak dimulai dari pelabuhan. Ia dimulai dari kendang dan dari keberanian negara untuk memihak kepada rakyat yang setiap hari memerah keringat demi segelas susu bagi bangsa ini.

 

Kembali dan Mengabdi: Cerita dari Sekolah Lapang Peternakan Sapi Perah di Jabung

Setelah sekian tahun menempuh studi doktoral di Korea Selatan dan meneliti tentang pengelolaan peternakan sapi perah berbasis teknologi, saya kembali ke tanah air dengan semangat yang sama: membangun peternakan rakyat Indonesia yang lebih maju. Hari Sabtu, 10 Mei 2025, menjadi momen yang sangat berarti bagi saya secara pribadi—karena untuk pertama kalinya sejak kembali, saya bisa terlibat langsung dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Bersama Research Group (RG) Dairy Animals Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya dan berkolaborasi dengan KAN Jabung, kami resmi membuka Sekolah Lapang Peternakan Sapi Perah. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula KAN Jabung dan dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Peternakan UB, Prof. Dr. Ir. Halim, M.P., IPU. Acara juga turut dibuka oleh Kepala Sekolah KAN Jabung serta Ketua RG Dairy Animals, Prof. Dr. Tri Ekosusilowati.

Sekolah lapang ini dirancang untuk memberikan bekal praktis dan aplikatif kepada para peternak mitra. Program akan berlangsung selama 8 kali pertemuan, terdiri atas sesi teori dan praktik langsung di lapangan. Yang membuat saya bangga, seluruh pemateri berasal dari RG Dairy Animals—yang tidak hanya dosen, tetapi juga peneliti aktif yang terjun langsung dalam isu-isu peternakan sapi perah.

Pada sesi pembukaan, saya mendapatkan kesempatan menyampaikan materi tentang tren industri peternakan sapi perah di Indonesia dan luar negeri. Saya berbagi cerita dan pembelajaran dari Korea Selatan—bagaimana negara dengan keterbatasan lahan dan iklim dingin bisa mengembangkan sistem peternakan sapi perah yang sangat efisien dan berbasis data. Saya juga menekankan pentingnya mindset modernisasi dan digitalisasi, bahkan pada skala peternakan kecil dan menengah.

Dekan Fakultas Peternakan UB juga memberikan pesan kuat kepada para peserta: bahwa perubahan dan kemajuan sektor peternakan hanya bisa dicapai jika ada sinergi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemauan untuk belajar. Sekolah lapang ini adalah langkah awal kecil, tetapi dengan dampak yang bisa sangat luas.

Bagi saya pribadi, ini bukan sekadar program kerja. Ini adalah bentuk rasa terima kasih kepada tanah kelahiran saya, dan langkah awal dari sekian banyak kontribusi yang ingin saya berikan kepada peternakan rakyat Indonesia.

Semoga kegiatan ini membawa manfaat nyata, dan semoga semangat berbagi ilmu terus tumbuh di antara kita semua.

Menikah muda,,why not

Tulisan ini adalah sebuah refleksi dari usia pernikahan  buntut dari kegundahan saya dan istri dengan sebuah trend bernama “Marriage is Scary” atau dalam bahasa indonesia yang di artikan “Pernikahan itu menakutkan“. Saya menikah di umur 25 tahun, masih tergolong sangat muda untuk mengambil sebuah keputusan besar untuk berumah tangga. Perjalanan menuju pernikahan saya cukup berliku namun mungkin seru untuk diambil hikmahnya. Cerita menikah ini saya akan bagi menjadi beberapa tahap karena saking panjanganya.

#Semangat menikah 

Selayaknya pria normal pada umumnya keinginan untuk menjalin sebuah hubungan serius dengan lawan jenis adalah sebuah hal yang lumrah. Masa studi S-1 di Universitas Brawijaya menjadi moment rasa-rasa ketertarikan itu tumbuh. Status sebagai anak BidikMisi salah satu menjadi dilema dikarenakan tak memiliki modal seperti kedaraan bermotor dan uang traktir untuk malam mingguan. Selain itu, saya sedikit banyak terpengaruh oleh kajian-kajian islam di masjid raden pateh (pada saat itu masih berlokasi di student center karena masjid raden patah sedang di bangun ulang). Pesan ustadz pengajar selalu terngiang cerminan dirimu saat ini adalah merupakan cerminan pasanganmu dikemudian hari. Seperti halnya firman allah

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An-Nur: 26)

Sekilas cerita pada generasi mahasiswa tahun 2010-2014 gerakan dakwah islam di kampus menjadi sebuah gerakan populer. Setiap sore mahasiswa dan mahasiswa  aktivis kampus bergerumbul mengikuti kajian sore di masjid. Pemandangan tersebut menjadi sebuah pemandangan yang lumrah khusus di Universitas Brawijaya. Mahasiswa aktivis kampus berbaju koko yang dipangil akhi-akhi atau Mahasiswi kerudung syari yang biasanya di panggil ukhti-ukhti mesih banyak berseliweran di lingkungan kampus. 

Para aktivis tersebut mengikuti kajian-kajian islam untuk menambah ilmu atau sekedar melepas penat kegiatan selama di kampus. Kajian yang paling diminati kalo sudah berhubungan dengan hubungan pria dan wanita atau persiapan menjalin rumah tangga. Kami diajak baper bersama dengan kisah-kisah rosullah dengan istri sehingga pada generasi mahasiswa tahun 2010-2014 menikah muda menjadi hal yang cukup lumrah. Teman seangkatan sebelum lulus S-1 sudah memantapkan untuk menikah sehingga waktu foto wisuda sudah menggandeng istri atau pasangan yang sah. Gerakan dakwah islam di kampus menjadi katalisator bagi aktivis muda untuk menghindari pacaran dan lebih memilih jalan pernikahan. Sebagai aktivis kami berlomba-lomba memperbaiki diri untuk menyambut jodoh di versi terbaik kami.

Saya lulus S-1 umur 22 tahun, Pada umur ini saya sudah berfikir ingin mencari jodoh namun masih belum dalam versi terbaik apalagi keadaan ekonomi keluarga yang harus segera dibantu. Saya merupakan lulusan dari beassiwa Bidik misi atau juga disebut beassiwa KIP Kuliah yang merupakan beasiwa bagi mahassiwa dari keluarga tidak mampu. Mendapatkan kehidupan layak dan mandiri menjadi tantangan bagi saya di masa pasca kelulusan. Ustadz tempat mengaji pun memberikan pesan muchlas kamu masih berada tahap “Bersiap melaksanakan Pernikahan”.  Tahap pertama ini kuatkan niat ingin menikah dan tujuan untuk menikah untuk apa dengan cara perdalam ilmu persiapan untuk menikah. 3 dasar kesiapan dalam menikah adalah Ilmu, Mental, dan Ekonomi. 

#Memperbaiki Ekonomi dan memantaskan diri

Masa akhir kuliah sambil menuntaskan skripsi saya bekerja di KPRI Universitas Brawijaya sebagai pekerja paruh waktu. 1 Jam saya di gaji 7000 rupiah setiap harinya bekerja sekitar 3-4 jam luamyan untuk biaya hidup di Kota Malang sambil menunggu kelulusan. Saya bekerja serabutan terkadang sebagai kasir, menata barang dagangan hingga menjadi tukang parkir. Pada suatu sore aku bekerja sebagai tukang parkir aku duduk di gazebo depan KPRI sambil mengawasi motor para pelanggan. Pada arah gazebo seberang kulihat seorang ukhti-ukti cantik berkerundung ungu sedang tilawah alquran. Wajahnya yang kalem dan menenagkan itu memalingkan hati seketika ingin memandang tapi takut ketahuan namun tiba-tiba sebuah hentakan keras dari belakang menyapa

“mas” sambil menepuk bahu dari belakang

sesosok pria dan wanita muda menyapa yang ternyata adalah juniorku di KIM (Kelompok Ilmiah Mahasiswa). 

“Loh kamu,, ngapain kesini”

“aku lagi janjian mas sama temen kedokteran hewan buat tim I-Step di Bogor”

Junirku kebetulan merupakan bimbinganku juga untuk lomba I-Step di Bogor yang mana tahun kemarin aku adalah finalisnya.

“Owh,, oke lanjut aja nanti kalo ada yang dibingungkan kabari aja tapi jangan sekarang aku lagi kerja”

“Oke Mas”

Secara terkejut juga ternyata juniorku tadi menemui perempuan yang aku pandangi. Moment tersebut menjadi moment pertama aku bertemu dengan perempuan berkerundung ungu tersebut.

Sejujurnya juniorku tersebut menjadikan faktor penasaranku bertambah ketika pasca lomba sang ketua tim bercerita pengalamannya satu tim dengan perempuan tersebut. Juniorku bercerita ia naksir dengan perempuan tersebut karena melihat keshalihannya selama 2 mingu Istep di Bogor. Namanya Nur hamni perempuan minang asli sumatra barat. Mendengar asalnya yang jauh sekita aku layaknya di hantam sebuah kenyataan “he sadar kamu siapa,,,kamu meminang gadis yang dekat saja tidak mungkin malah mau meminang gadis di luar jawa”. Kenytaan tersbut membuatku layaknya sebuah lagu Mundur aloon aloon.

KPRI Universitas Brawijaya yang dulu letaknya bersebelahan dengan fakultas Kedokteran Hewan acap kali sering melihat perempuan yang ternyata gemar berkerudung ungu terebut. Pada malam hujan deras ia pernah ku lihat membawa payung mengambil box kotak donat jualan di gazebo. Moment pernah menjadi kasir ketika perempuan tersebut membeli sekotak susu uht dan sari roti untuk berbuka puasa. pada saat itu sebuah doa terucap jika datang waktuku siap dalam versi terbaiku akan aku nikahi perempuan tersebut. 

Pasca kelulusan aku meninggalkan kota malang untuk bekerja.Bekerja terlebih dahulu menjadi opsi untuk saya mengangkat derajat orang tua. Mengangkat perekonomian keluarga menjadi PR pertama pasca kelulusan sekaligus memantaskan diri sebelum meminang dan mengemban tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga nantinya. 

#mencari Jodoh yang Sholeha

Menginjak umur 25 tahun tepat menjelang 3 tahun aku merantau di New Zealand sebagai herd manager Ibu menanyakan prihal jodoh. Menikah di Umur 25 menjadi cita-cita mengikuti jejak rosul menikah dengan cinta pertamanya siti khodijah. Keingin mencari jodoh tersebut seketika mengingatkan aku pada perempuan yang gemar berkerundung ungu itu. Sebuah informasi jika dia adalah anak aktivis dakwah menjadikanku tidak sulit mencari link untuk menghubungi dia meskipun sudah 3 tahun lamanya. aku mengontak semua teman dakwah yang masih di malang untuk mencari informasi murrobinya sekitika aku mendapatkan jalur penghubungnya. 

Pada gaya meminang aktivis dakwah cukup unik kami laki-laki hanya bisa menghubungi pihak perempuan melalui murrobinya sambil menyodorkan sebuah proposal nikah. Proposal kami berisikan visi misi kehidupan dimasa depan, apa yang sudah kami lakukan untuk emantaskan diri sebelum menikah. selanjutnya pihak perempuan jika bersedia akan mengirimkan balik proposal nikah yang kemudian dilanjutkan dengan proses taaruf atau mengenal diri dengan ditemani oleh para murrobi. 

Aku menghubungi murobbinya sambil aku sodorkan proposal nikah berniat baik. Pada awalnya proposalku di tolak sehingga aku menerima dengan lapang. Pada saat itu secara tidak langsung adik kelasku ada yang menghungiku untuk berkonsultasi mengenai kuliah lanjut. 

#Berjuang bersama dalam visi dan misi untuk Mencari Ridho Allah SWT

Hidup tidak hanya hidup namun perlu memiliki visi dan misi kehidupan bersama. Kami memutuskan untuk tidak melaksanakan pesta pernikahan yang mewah cukup sederhana asalkan sah. Uang tabungan bekerja di New Zealand aku gunakan untuk menyewa rumah dan membeli prabotan rumah sekaligus uang darurat. Setelah resignt dari pekerjaan di New Zealand saya berusaha mencari pekerjaan apapun yang penting halal salah satunya menjadi TS di sebauh perusahaan kemitraan ayam pedaging. Bekerja di industri unggas menjadi sesuatu hal yang baru dan cukup sulit buatku. Sistem kerja yang fleksibel namun target yang banyak sering kali membuat harus berangkat pagi jam 8 dan pulang malam jam 8. Aku menghabiskan waktu sebagian besar di jalan karena setiap hari terdapat 14 peternakan yang perlu aku kunjungi. Sistem dan lingkungan tersebut membuatku tidak nyaman sehingga ada pikiran untuk mencari beassiwa untuk lanjut studi S-2. Aku dan istri mencoba mendaftar beassiwa LPDP.

Pengalaman Membuat Visa Pelatihan Bahasa Korea (D-4)

A. Pendaftaran dan Pengambilan Visa

  • Lama Proses Pembuatan Visa : Minimal 6 Hari Kerja, dihitung satu hari setelah hari penyerahan dokumen ( Proses bisa lebih dari 6 hari kerja jika dokumen dianggap belum lengkap dan interview jika dibutuhkan)
  • Selama Proses Pembuatan Visa, Paspor tidak boleh dipinjam

B.Biaya Pembuatan Visa

  • Single Visa (Visa kunjungan dibawah 90 hari) : Rp. 544.000,-
  • Single Visa (Visa kunjungan diatas 90 hari) : Rp. 816.000,-
  • Biaya visa tidak dapat dikembalikan apabila dibatalkan proses pengajuannya atau visa ditolak oleh pihak Kedubes Korea

  •  

    – Visa Pelatihan (D-4) dapat digunakan untuk pelatihan bahasa bahasa Korea

        < Persyaratan Dokumen >

    – Paspor asli dan fotokopi (halaman identitas beserta visa/cap negara-negara yang telah dikunjungi)
    – Formulir aplikasi visa (dengan satu lembar foto yang telah ditempel pada kolom foto)
    – Certificate of Admission (surat keterangan telah diterima di universitas Korea yang dituju)
    – Ijazah terakhir (asli dan fotokopi)

  • – Certificate of Health(TB)
    – Bukti Keuangan terbaru (atas nama pribadi atau orang tua dengan jumlah saldo minimum USD 9,000)
    – Surat pengantar dari universitas (jika akan menjadi mahasiswa transfer pada universitas di Korea)

    ** Jika dokumen yang diajukan masih dianggap kurang lengkap oleh Consul, maka pihak Kedubes Korea dapat meminta tambahan dokumen

Pengalaman Berobat di Kota Gwangju Korea Selatan

Korea Selatan dikenal sebagai salah satu negara dengan sistem pelayanan kesehatan yang maju dan terorganisir. Saya berkesempatan merasakan langsung bagaimana rasanya berobat di sana, tepatnya di Kota Gwangju, sebuah kota besar yang terletak di bagian selatan Semenanjung Korea. Berikut saya bagikan pengalaman dan kesan selama mendapatkan perawatan medis di kota ini. Sebagai mahasiswa dan orang asing di Korea Selatan kita wajib membayar asuransi kesehatan bernama NHIS. Biaya asuransi ini jika untuk mahasiswa sebesar 65.000 won karena menadapatkan subsidi dari pemerintah dan ini bisa mengcover 1 keluarga, sejatinya membayar NHIS normal sebesar 160.000 won. Asuransi kesehatan ini sangat membantu sekali dlama pembiayaan untuk check kesehatan karena jika tidak memiliki asuransi biaya untuk berobat sangatlah mahal. Pada saat berobat kita hanya perlu membawa kartu identitas orang asing untuk pendaftaran. Berikut ini beberapa informasi lokasi berobat di Gwangju yang dekat dengan Chonnam National University.

1. Klinik anak (Mirea Hospital)

2. Klinik kecamatan (Bukgu office)

3. Klinik di sangde

4. Rumah sakit Hyundae 

5. Rumah sakit gigi chonnam national university

Belajar dari Korea dalam Menumbuhkan Minat Baca

Tingkat kemajuan pendidikan suatu negara berbading lurus dengan tingat literasinya. Selama tinggal di Korea Selatan saya sangat iri dengan fasilitas literasi banyak di berikan oleh pemerintah untuk mestimulus minat baca dari warga negaranya. Pajak yang di tarik dari masyarakat di manfaatkan dengan baik. Pojok-pojok literasi wajib ada di berbagai fasilitas umum bersifat gratis dan lengkap.Buku-buku pengetahuan dibuat dengan bahasa Indonesia dan sudah di buat mudah di pahami oleh anak dengan bentuk sebuah komik atau cerita bergambar. Pada kasus ang saya temukan anak saya Nusaibah yang sekolah di TK Korea setiap bulan mendapatkan 2 buku gratis dari sekolah untuk di bawa ke rumah. Nusaibah yang juga gemar membaca dia dengan mudah bisa membaca buku dengan nyaman dengan perpusatakaan yang ada di setiap desa. Kami juga selalu mengajak Nusaibah pergi ke pojok-pojok literasi yang berada di fasilitas publik seperti di ACC (Asia Culture Center) atau beragai tempat wisata. Pada kondisi ini sangat berbeda dengan bapaknya yang dulu juga senang membaca namun buku di perpustakaan SD,SMP dan SMA yang tergolong buku tua. Saya juga masih ingat sering pergi ke toko buku rombeng atau bekas hanya utuk mendapatkan buku Bobo agar saya baca. Buku Bobo yang baru dengan harga 25K sangatlah mahal bagi saya sehingga majalah bobo yang tidak lengkappun menjadi koleksi buku bagi saya.

Fasilitas pojok literasi ini yang menjadi bukti bagaimana Korea selatan dapat menempati urutan pertama untuk kemampuan literasi.

Pojok Literasi di Korea Selatan