Bekerja atau Lanjut Kuliah??

Sebuah pertanyaan klasik dari seorang sarjana yang berada di ujung kelulusan studi s1 nya. Pada dasaranya pilihan bekerja dan studi lanjut tergantung dari keadaan pribadi masing-masing. pada kondisi saat aku lulus juga mengalami kegalauan yang sama. Kedua pilihan tersebut tidaklah mudah bagiku karena harus banyak faktor yang harus di pertimbangkan. Aku S-1 adalah lulusan dari program beasiswa BIDIK MISI yang merupakan beasiswa pemerintah RI untuk kalangan mahasiswa kurang mampu untuk dapat mencicipi pendidikan di Perguruan tinggi. Latar belakang keluarga yang masih kekurangan memaksa aku untuk segera menghasilkan uang dan membantu perekonomian keluarga. 

Kegalauan pertama datang ketika aku duduk disemester 6. Pada tahun terakhir studiku aku mendapatkan tawaran beasiswa dari perusahaan feedlot terbesar di Indonesia sebesar 10 juta dan recruitment langsung ketika lulus. Pada waktu yang sama PD1 juga menawarkan beasiswa lanjut bernama Fast track. Beasiswa fast track merupakan beasiswa pilihan untuk melanjutkan studi S-2 langsung di semester 6 sehingga hanya butuh 5 tahun sudah bisa lulus S-1 dan S-2. Beasiswa ini hanya mencakup biaya pendidikan namun tidak menanggung biaya hidup. Pada akhirnya aku menerima tawaran untuk beasiswa perusahaan karena bisa mengajak 6 teman seangkatanku untuk bekerja juga di perusahaan yang sama.

Pada tahun kelulusan ternyata Allah Azza wa Jalla memberikan jalan lain yaitu aku di tawari dengan bekerja di Luar negeri oleh dosen pembimbing skripsiku. Hidup adalah membuat pilihan sehingga aku mengembalikan beasiswa dari sebuah perushaan tersebut dan aku memilih bekerja di Luar negeri. Pengalaman baru dan kebutuhan akan uang juga menjadi pertimbanganku untuk memilih bekerja di luar negeri.

Studi lanjut adalah sebuah impian bagiku. Menempuh jenjang studi tertinggi adalah cara dariku untuk memotivasi keluargaku untuk berusaha meraih impian. Menjadi role model keluarga dimana aku adalah anggota keluarga yang dapat meraih impian meskipun keadaan keluarga kami serba kekurangan. Aku ingin menjadi sebuah sejarah keluarga dan menjadi motivasi bagi lingkunganku bahwa ketika allah berkhendak maka tidak ada yang tidak mungkin. 

Setelah 3 tahun bekerja aku berniat untuk menikah dan kemauanku untuk menikah tersebut menjadi jalan juga untuku mengejar impian. Alhamdulilah aku mendapatkan beasiswa LPDP dan bisa studi lanjut S-2 dan S-3 dengan beasiswa GKS. Pengalaman kerja membuatku lebih dewasa dan mencetak mentalku lebih kuat. teman-teman juga dengan bekerja dahulu maka kita juga lebih percaya diri dengan kemampuan di lapangan khususnya kita sebagai sarjana peternakan. Sebagai sarjana peternakan kita wajib bisa berpikir kritis dan mampu mengembangkan ilmu. so sebaiknya jika ingin studi lanjut lebih baik teman-teman belajar lapangan terlebih dahulu.

Program Northern Territory Indonesian 360 Program (NTI360)

NTI360 adalah program kelajutan dari program NIAPP (The NTCA Indonesia Australia Pastoral Program) yang sempat berhenti dikarenakan pandemi. Sejarah program NIAPP di awali pada bulan maret 2012 dengan adanya Memorandum of Undestanding (MoU) antara The northern territory cattlemen’s Association (organisasi peternak sapi potong di Australia utara), ISPI (Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia), UNPAD dan UB. berikut ini sekilas pandang program niapp di web NTCA (Klik disini).

berikut ini gambaran kegiatan saat pada tahun 2012

Laporan PKL bisa di download (Klik disini)

PPT Ujian PKL muchlas (Klik disini)

Program ini tahun ini di tambah dengan program Biosecurity yang pada tahun 2022 sudah dilakukan pilot project dengan pengiriman mahasiswa dari fakultas peternakan UGM (klik disini). 

Program ini memiliki keberlajutan karena setelah lulus pun alumni mendapatkan bimbingan dan program lanjutan untuk alumni dari pihak pemerintah australia maupun pemerintah Indonesia.

Kriteria kandidat yang di inginkan

-Memiliki mental yang kuat karena program ini adalah program pengalaman kerja di Australia

– Kandidat diharapakan nantinya mau mengembangkan industri sapi potong Indonesia